“Jumbo” dan Folklor sebagai Wahana Hibriditas Tradisi dan Modernitas 

“Jumbo” (2025)  bukan sekadar film animasi anak yang menghibur, tetapi membangun narasi budaya yang kompleks, mengajak penonton untuk memikirkan ulang konsep kemajuan, tradisi, dan identitas budaya. Film ini menunjukkan bahwa folklor dapat tetap relevan jika diartikulasikan ulang dalam bentuk yang mampu mengakomodasi perubahan zaman. Melalui pendekatan hibriditas budaya, film ini menentang dikotomi tradisi-modernitas dan spiritualitas-teknologi, menawarkan model alternatif bagi pembentukan cara pandang baru dalam masyarakat … Continue reading “Jumbo” dan Folklor sebagai Wahana Hibriditas Tradisi dan Modernitas 

Sains Tidak Harus Memilih Antara Ketelitian dan Keragaman

Minggu kemarin, saya menyimak lagi perbincangan panas di X (sebelumnya Twitter) sekitar tahun lalu, di mana warganet memperdebatkan kontribusi nyata dari ilmu-ilmu sosial. Dalam banyak utas tersebut, pembela ilmu sosial direndahkan karena dianggap mengandalkan pengetahuan yang ‘subjektif’ atau ‘tidak bisa dibuktikan’, sementara ilmu-ilmu STEM dipuji sebagai objektif, bermanfaat, dan “produktif” secara ekonomi. Argumen ini berkembang dengan cepat namun berakhir dengan nada diskusi sarkastik, merendahkan, dan … Continue reading Sains Tidak Harus Memilih Antara Ketelitian dan Keragaman

AI Bukan Ancaman, tapi Rekan Kerja: Apa Kata Jurnalis Sains di Jerman tentang ChatGPT?

Apakah ChatGPT akan menggantikan jurnalis sains? Pertanyaan ini menghantui banyak ruang redaksi di seluruh dunia. Di satu sisi, kecerdasan buatan (AI) menawarkan kecepatan, efisiensi, dan kemampuan olah data luar biasa. Di sisi lain, ada kekhawatiran soal akurasi, etika, dan hilangnya “sentuhan manusia” dalam jurnalisme. Tapi bagaimana jika AI bukan pengganti, melainkan rekan kerja? Itulah pertanyaan sentral dalam sebuah studi kualitatif menarik yang dilakukan oleh Guenther, … Continue reading AI Bukan Ancaman, tapi Rekan Kerja: Apa Kata Jurnalis Sains di Jerman tentang ChatGPT?

Bagaimana Algoritma Media Sosial Mempercepat Kebencian?

Antara tahun 2020 hingga 2025, media sosial tidak hanya menjadi medium berbagi informasi, tetapi juga bertransformasi menjadi mesin penyebar kebencian global. Dari kerusuhan New Delhi hingga konflik di Tigray, dari gelombang kebencian anti-Asia selama pandemi hingga kerusuhan Capitol di Amerika Serikat, algoritma media sosial terbukti mempercepat penyebaran ujaran kebencian dan disinformasi. Proses terbentuknya kebencian di media sosial bermula dari apa yang disebut sebagai dinamika afektif … Continue reading Bagaimana Algoritma Media Sosial Mempercepat Kebencian?