Skandal Stapel: Jauh Sebelum Kasus Prihantini–Rifaldy

Viral Rifaldy Fajar dan Prihantini disorot atas dugaan pemalsuan data riset pada konferensi internasional berbasis AI. Kasus pemalsuan data bukan hal yang baru, bahkan dilakukan oleh profesor.

Diederik Stapel pernah dianggap sebagai peneliti prolifik dalam psikologi sosial di Eropa. Bagi yang belum mengenalnya, ia adalah profesor di Tilburg University. Stafel dikenal produktif, sering muncul di media, dan menghasilkan penelitian-penelitian dengan kesimpulan yang terdengar elegan sekaligus provokatif, beberapa jurnal prestisius seperti Science hingga kemudian ditarik sembilan bulan setelah ada investigasi terhadap risetnya. Kotak Pandora terbuka saat ia menulis tentang bagaimana lingkungan yang kotor dapat meningkatkan prasangka rasial, bagaimana kekuasaan mengubah cara manusia memandang orang lain, hingga bagaimana konsumsi daging berkaitan dengan perilaku antisosial. Peneliti sebidangnya menganggap penelitiannya terasa “terlalu bagus untuk salah” . Ternyata memang demikian.

“It is as if he made up these data himself.”

Pada 2011, sejumlah mahasiswa doktoralnya mulai curiga karena data penelitian Stapel terlihat terlalu sempurna. Variasi statistiknya sangat rapi. Hasil eksperimennya hampir selalu mendukung hipotesis. Ketika beberapa kolega mencoba menelusuri proses pengumpulan data, muncul fakta yang mengejutkan bahwa banyak data dalam risetnya tidak pernah ada. Stapel tidak sekadar memanipulasi analisis statistik. Ia menciptakan dataset fiktif secara penuh. 

Dalam banyak kasus, ia mengklaim telah melakukan survei di sekolah atau eksperimen lapangan yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Ia membuat angka-angka sendiri, lalu menyerahkannya kepada mahasiswa atau rekan peneliti untuk dianalisis seolah-olah data tersebut nyata.

Laporan investigasi independen kemudian menemukan puluhan publikasi yang mengandung fabrikasi data sistematis. Beberapa artikel ditarik dari jurnal ilmiah internasional. Singkatnya, reputasi yang dibangun selama bertahun-tahun runtuh dalam hitungan bulan.

Namun, bagian paling mengganggu dari kasus ini justru muncul setelah skandal terbongkar. Dalam memoarnya, Stapel tidak menggambarkan dirinya sebagai penipu yang sejak awal berniat merusak sains. Ia menggambarkan proses riset yang ia lakukan pada awalnya perlahan dan bertahap. Awalnya, ia merasa tekanan akademik untuk menghasilkan temuan menarik semakin besar. Dunia akademik memberi penghargaan pada hasil yang dramatis, signifikan, dan mudah dipublikasikan untuk mendongkrak reputasi universitas secara global. Penelitian yang hasilnya biasa saja sering dianggap gagal dan tidak memberikan kontribusi besar dalam perkembangan keilmuannya.

Di titik tertentu, Stapel mulai percaya bahwa teorinya pasti benar. Ketika data nyata tidak menunjukkan hasil yang diharapkan, ia menganggap data tersebut “buruk”, bukan teorinya yang salah. Dari sana, intervensi kecil mulai terjadi. Membersihkan data. Menghapus anomali. Menyesuaikan angka agar pola teoritis terlihat lebih jelas. Lama-kelamaan, batas moral itu hilang sepenuhnya.

Yang membuat kasus Stapel penting bukan hanya jumlah penelitian palsu yang ia hasilkan, melainkan bagaimana kecurangan dapat berkembang tanpa terasa sebagai kejahatan besar di awalnya. Fabrikasi ilmiah tidak selalu dimulai dari niat kriminal yang jelas. Dalam banyak kasus, ia tumbuh melalui pembenaran kecil yang terus diulang.

Kasus ini kemudian menjadi simbol krisis yang lebih luas dalam psikologi sosial modern. Banyak peneliti mulai mempertanyakan budaya akademik yang terlalu menghargai novelty dan hasil spektakuler dibandingkan dengan reproduktibilitas dan transparansi. Kasus skandal Stafel juga memperlihatkan bagaimana sistem ilmiah dapat menciptakan insentif yang membuat manipulasi terasa “berguna” bagi karier, publikasi, dan reputasi. Ketika fondasi itu runtuh, yang rusak bukan hanya satu reputasi ilmuwan, melainkan kepercayaan terhadap proses ilmiah itu sendiri.


Kasus yang baru-baru ini mencuat mengenai ulah Prihantini–Rifaldy dalam membuat data fiktif dan melakukan serangkaian manipulasi untuk menembus konferensi internasional bergengsi di bidang kedokteran memberi sinyal tentang persoalan yang lebih luas. Prihantini–Rifaldy (tentu saja) bukan figur besar dalam dunia akademik. Mereka masih berstatus mahasiswa, tanpa afiliasi riset yang kuat, dan belum tercatat sebagai bagian dari komunitas akademik mapan. Dalam banyak hal, mereka tampak seperti anak muda yang memburu validasi, pengakuan, sekaligus peluang mobilitas internasional melalui jalur akademik.

Namun, persoalannya seharusnya tidak berhenti pada individu semata. Kasus ini juga memperlihatkan adanya celah dalam ekosistem pendidikan tinggi dan riset yang memungkinkan praktik semacam itu muncul. Ada sesuatu yang tidak sepenuhnya berjalan dengan baik ketika fabrikasi data dan manipulasi akademik dapat dipersepsikan sebagai jalan yang layak ditempuh demi pengakuan ilmiah.

Meski demikian, penting dicatat bahwa kasus Prihantini–Rifaldy tetap merupakan anomali dalam ekosistem riset Indonesia. Kasus mereka membesar bukan karena praktik seperti ini lazim terjadi, melainkan karena viralitas media sosial yang turut mempercepat perhatian publik terhadapnya, ironisnya, melalui ruang digital yang juga mereka gunakan untuk membangun pengakuan diri. Sudahi saja, nak!

Leave a Comment Here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.