Perempuan di Tepi Lapangan Kota Berlin
Saya pertama kali mencintai sepak bola bukan karena gol spektakuler atau final yang dramatis. Di desa pada era 1990-an, akses terhadap siaran langsung sangat terbatas. Kecintaan itu justru tumbuh karena rumah kami bersebelahan dengan satu-satunya lapangan sepak bola di kecamatan. Hampir setiap sore, selepas Asar hingga azan Magrib berkumandang, saya menyaksikan para pemain “tarkam” bertanding. Setiap perayaan Agustusan, selama hampir sebulan penuh, lapangan kecamatan menjadi … Continue reading Perempuan di Tepi Lapangan Kota Berlin
