Saya pertama kali mencintai sepak bola bukan karena gol spektakuler atau final yang dramatis. Di desa pada era 1990-an, akses terhadap siaran langsung sangat terbatas. Kecintaan itu justru tumbuh karena rumah kami bersebelahan dengan satu-satunya lapangan sepak bola di kecamatan. Hampir setiap sore, selepas Asar hingga azan Magrib berkumandang, saya menyaksikan para pemain “tarkam” bertanding.
Setiap perayaan Agustusan, selama hampir sebulan penuh, lapangan kecamatan menjadi pusat pertandingan antardesa. Tim-tim yang bertanding berasal dari desa-desa di sekitar. Pemandangan tim beragam, ada yang memakai sepatu bola, ada yang bermain dengan sepatu kets; ada yang mengenakan kostum khusus, ada pula yang hanya memakai seragam olahraga sekolah. Setiap fase semifinal hingga final hampir selalu diwarnai bentrokan antarsuporter. Rivalitas antardesa terasa kuat dan berlapis, membentuk identitas yang tidak jauh berbeda dari rivalitas klub-klub besar di Eropa. Dari pengalaman hidup itulah terbentuk kesan awal bahwa sepak bola adalah olahraga yang keras. Di situlah saya mengenal wajah sepak bola rakyat.
Pada kenyataannya, sepak bola dipersepsikan oleh masyarakat sebagai ruang yang maskulin. Kehadiran perempuan di lapangan hampir tidak pernah terlihat dan, pada masa itu, juga tidak pernah dipertanyakan. Saya menerima anggapan tersebut tanpa refleksi lebih lanjut. Norma sosial yang berkembang akhirnya menerima bahwa ya, ini olahraga kaum pria.
Pandangan itu mulai berubah ketika saya menjadi penggemar Liverpool FC dan mengikuti perkembangan sepak bola modern di Inggris, termasuk tim perempuan mereka. Saya mulai mengenal Fuka Nagano sebagai salah satu pemain asal Jepang yang memperkuat Liverpool. Perubahan itu semakin terasa ketika saya tinggal di Munich, Jerman. Di kota ini, saya menyaksikan langsung perkembangan kultur sepak bola, termasuk meningkatnya visibilitas sepak bola perempuan. Saya kemudian mengikuti permainan sejumlah pemain seperti Jule Brand, Sjoeke Nüsken, dan Momoko Tanikawa. Intensitas permainan, kualitas teknik, dan struktur kompetisinya menunjukkan bahwa sepak bola perempuan berkembang secara signifikan, setidaknya di Inggris dan Jerman.
Namun, di tengah perkembangan tersebut, muncul pertanyaan yang sebelumnya tidak pernah saya ajukan. Mengapa sebagian besar pelatih yang saya lihat, termasuk pelatih tim nasional perempuan Jerman, adalah laki-laki? Dahulu, pertanyaan ini tidak pernah terasa perlu dan saya menerimanya sebagai sesuatu yang wajar. Kini, asumsi itu mulai bergeser. Apakah sepak bola memang secara inheren merupakan ruang milik laki-laki, ataukah itu hasil dari konstruksi sosial yang selama ini jarang dipertanyakan?
Pada 11 April 2026, Marie-Louise Eta menjadi perempuan pertama yang memimpin tim pria di salah satu dari lima liga elit Eropa. Bukan divisi tiga. Bukan liga kecil di negara yang tidak ada yang menonton. Bundesliga. Satu dari liga paling bergengsi di planet ini. Dan dunia sepak bola merespons dengan cara yang sangat bisa diprediksi. Setengah bersorak, setengah lainnya mempermasalahkan, dan di tengah-tengah itu semua ada seorang perempuan yang hanya ingin bekerja.
Dalam waktu kurang dari 24 jam setelah pengumuman, komentar-komentar muncul yang mempertanyakan apakah para pemain akan bersedia mengikuti instruksi taktik dari seorang perempuan. Union Berlin menjawab langsung di media sosial: “Dengan segala hormat, itu seksisme.” Tentu saja itu seksisme. Kita semua tahu itu. Tapi ada pertanyaan yang lebih besar yang jarang diajukan dengan cukup keras. Mengapa respons seperti itu masih ada pada 2026, dan mengapa ia tidak hanya ada di Jerman? Tetapi masih mendominasi iklim sepak bola dunia?
Ini Bukan Masalah Jerman
Sangat mudah untuk membingkai kisah ini sebagai masalah spesifik sepak bola Jerman. DFB yang lamban berubah, budaya sepak bola yang konservatif, dan fondasi ekonomi Frauen-Bundesliga yang masih bergantung pada subsidi dari tim pria. Semua itu nyata dan perlu dikritisi. Saya tidak bisa berpura-pura bahwa masalah ini berhenti pada masalah DFB dan publik sepak bola Jerman.
Di Indonesia, sepak bola wanita masih berada di pinggiran perhatian publik dan investasi institusional. Di Brasil, negara yang melahirkan Marta, pemain terbaik dunia tujuh kali, Marta sendiri pernah mengatakan sesuatu yang penting kala itu: ia berharap perempuan Brasil tidak perlu menangis lagi setelah Piala Dunia, karena generasi berikutnya harus lebih menghargai dan merawat sepak bola wanita. Di Eropa, yang dianggap paling maju sekalipun, kurang dari 1% dari 30.000 perempuan pemegang lisensi kepelatihan UEFA C berhasil meraih lisensi UEFA Pro. Pria menguasai 94% dari seluruh posisi kepelatihan senior di sepak bola Eropa. Sembilan puluh empat persen. Di benua yang paling banyak berbicara tentang kesetaraan gender dalam olahraga.
Di Asia, Amerika Latin, dan Afrika, angka-angkanya tidak lebih baik. Sering kali lebih buruk, dengan hambatan budaya dan ekonomi yang berlapis-lapis di atas hambatan struktural yang sudah ada. Dan di seluruh dunia itu, ada ribuan perempuan yang mencintai sepak bola sama intensnya dengan para pria mana pun yang pernah berdiri di tepi lapangan.
Sabrina, Loui, dan Satu Pintu yang Terbuka Sedikit
Sabrina Wittmann, perempuan pertama yang melatih tim pria di tiga divisi teratas Jerman ketika ia ditunjuk melatih Ingolstadt pada 2024, pernah mengakui sesuatu yang terasa sangat jujur: “Saya sungguh takut menutup pintu yang sudah terbuka sedikit itu.”
Saya membaca kalimat itu berkali-kali dan setiap kali saya membacanya, saya merasa tidak nyaman dengan cara yang saya tidak bisa abaikan.
Wittmann bukan hanya berbicara tentang dirinya sendiri. Ia berbicara tentang beban yang tidak pernah ditanggung oleh pelatih pria mana pun yang pernah naik jabatan di sepakbola. Tidak ada pelatih pria yang takut bahwa kegagalannya akan menutup pintu bagi seluruh kelompok demografisnya. Tidak ada yang harus menang bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi untuk semua orang yang terlihat seperti dia.
Beban itu tidak adil. Dan kenyataan bahwa beban itu ada, bahwa Wittmann merasakannya, bahwa Marie-Louise Eta juga pasti merasakannya meski ia tidak mengatakannya, adalah tanda yang sangat jelas bahwa kita belum sampai di mana kita mengira kita sudah sampai.
Marie-Louise Eta sendiri berbicara tentang penunjukannya dengan cara yang mencerminkan seseorang yang ingin pekerjaannya berbicara lebih keras daripada simbolnya: “Salah satu kekuatan Union selalu kemampuan kami untuk bersatu dalam situasi seperti ini. Dan saya yakin kami akan mendapatkan poin-poin yang menentukan bersama tim.”
Pernyataan itu seharusnya cukup. Tapi kita tahu ia tidak bisa hanya menjadi pelatih yang memikirkan pertandingan berikutnya. Tidak, setiap langkahnya akan ditonton dengan perhatian yang tidak pernah diberikan kepada Steffen Baumgart, mantan pendahulunya di FC Union Berlin, selama seluruh masa jabatannya.
Jangan Berhenti Setelah Polemik dan Selebrasi
Jangan berhenti pada selebrasi. Jangan mengira bahwa satu orang yang menembus sistem berarti sistem sudah berubah. Jangan biarkan kata “bersejarah” menjadi alasan untuk tidak bertanya lebih keras. Jangan menjadikan Eta sebagai bukti bahwa sepak bola sudah baik-baik saja, bahwa pintu sudah terbuka, bahwa siapa pun bisa masuk jika cukup berbakat dan cukup keras kepala.
Karena pintu itu terbuka hanya sedikit, dan masih perlu tangan yang sangat banyak untuk mendorongnya lebih lebar.
Horst Heldt, direktur sepak bola profesional Union Berlin, mengatakan sesuatu yang terdengar seperti seseorang yang sudah sangat lelah: “Saya merasa ini gila bahwa kami harus berurusan dengan hal ini di zaman sekarang, bahwa kami harus membenarkan diri sendiri.”
Kelelahan Heldt saya mengerti. Tapi kelelahan bukan alasan untuk berhenti. Justru sebaliknya.
Selama “perempuan pertama melatih tim pria di Big Five” masih bisa menjadi headline, selama pertanyaan tentang apakah pemain akan mau mendengarkan pelatih perempuan masih dianggap pertanyaan yang sah, selama anak perempuan di Surabaya atau Lagos atau Buenos Aires masih harus berjuang dua kali lebih keras untuk mendapat setengah dari apa yang rekan laki-lakinya dapat dengan lebih mudah, pekerjaan ini belum selesai. Tidak di Jerman. Tidak di mana pun. Loui berdiri di tepi lapangan. Itu berita hari ini. Tugas kita adalah memastikan itu tidak lagi menjadi berita tahun depan.
