Book Review: Ketika Gas Belerang Menjadi Mesin Globalisasi Modern

Bagaimana perdagangan global dapat terus berjalan ketika kapal-kapal membawa penyakit mematikan dari satu benua ke benua lain?

Pertanyaan ini menjadi pusat perhatian dalam buku Sulphuric Utopias: A History of Maritime Fumigation oleh Lukas Engelmann dan Christos Lynteris, sebuah karya sejarah yang menelusuri hubungan antara sanitasi maritim, revolusi bakteriologi, dan ekspansi kapitalisme global pada akhir abad ke-19.

Buku ini mengangkat tema yang jarang mendapat perhatian dalam sejarah kesehatan publik maupun sejarah teknologi. Jika narasi modernisasi biasanya menonjolkan kapal uap, rel kereta api, atau telegraf sebagai infrastruktur globalisasi, Sulphuric Utopias mengarahkan perhatian pada sesuatu yang jauh lebih sederhana namun menentukan mobilisasi ekonomi lintas negara, yaitu gas belerang.

Dari Karantina ke Fumigasi

Buku dibuka dengan gambaran dunia pelayaran internasional yang terus dihantui epidemi. Pada Juni 1885, kapal Jerman Sophie Goerlitz tiba di Delta Mississippi setelah berlayar dari Rio de Janeiro, salah satu pusat wabah demam kuning (yellow fever) pada masa itu. Di bawah pendekatan kebijakan karantina tradisional, kapal semacam ini dapat ditahan selama empat puluh hari sebelum diizinkan memasuki pelabuhan.

Bagi otoritas kesehatan pelabuhan, karantina merupakan instrumen perlindungan masyarakat dari penularan penyakit yang dibawa dari wilayah lintas samudra. Namun, bagi para pedagang dan pemilik kapal, karantina dipandang sebagai hambatan ekonomi yang mahal dan tidak efisien. Setiap hari penundaan berarti kerugian finansial yang besar.

Di sinilah buku ini menunjukkan tesis utamanya. Kemunculan teknologi fumigasi gas belerang yang kemudian menjadi jalan modernisasi yang dianggap inovasi, bukan semata-mata untuk tujuan kesehatan publik, melainkan menjadi solusi percepatan ekonomi. Adanya konflik mendasar antara perlindungan kesehatan dan percepatan perdagangan global kala itu dipecahkan dengan gas sulfur dioksida (SO₂); adanya anggapan kapal dapat “dibersihkan” hanya dalam hitungan jam, bukan lagi minggu.

Bakteriologi dan Imajinasi Utopis

Salah satu kekuatan utama buku ini adalah kemampuannya menghubungkan sejarah ilmu pengetahuan dengan sejarah ekonomi politik. Penulis menunjukkan bahwa keberhasilan teknologi fumigasi tidak dapat dipahami tanpa revolusi bakteriologi yang dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti Louis Pasteur dan Robert Koch. Sebelum teori kuman diterima secara luas, penyakit sering dijelaskan melalui teori miasma, yaitu keyakinan bahwa udara buruk menyebabkan wabah.

Ketika mikroorganisme mulai dipahami sebagai penyebab penyakit, gas belerang memperoleh legitimasi ilmiah baru. Gas berbau menyengat itu tidak lagi sekadar penghilang bau, tetapi juga sebagai bahan laboratorium baru yang mampu menghancurkan agen penyakit secara sistematis.

Dari revolusi bakteriologi, buku ini menarik pembaca dengan judul “utopia belerang”. Penulis berargumen bahwa fumigasi menawarkan janji dunia maritim yang steril, aman, dan bebas penyakit. Gas belerang dipersepsikan memiliki kemampuan “sapu jagat” universal untuk mengatasi berbagai ancaman biologis sekaligus memberikan rasa aman kepada masyarakat dan pelaku perdagangan.

Lebih lanjut, buku ini juga menunjukkan bahwa teknologi kesehatan publik tidak pernah sepenuhnya netral. Adopsi fumigasi massal didorong oleh kepentingan ekonomi yang sangat kuat. Kemunculan proses ekstraksi belerang yang murah melalui inovasi yang dikenal sebagai Proses Frasch memungkinkan Louisiana menjadi salah satu pusat produksi belerang terbesar di dunia. Ketersediaan bahan baku yang melimpah menjadikan fumigasi sebagai pilihan yang menarik secara ekonomi.

Penulis dengan meyakinkan memperlihatkan bahwa tujuan utama teknologi ini bukan hanya mencegah penyakit, tetapi juga mempercepat sirkulasi komoditas. Dalam logika kapitalisme industri, waktu sama berharganya dengan uang. Teknologi sanitasi yang mampu mengubah karantina empat puluh hari menjadi prosedur tiga jam secara langsung meningkatkan efisiensi perdagangan internasional. Dalam perspektif ini, kesehatan publik dan ekspansi pasar tidak diposisikan sebagai tujuan yang bertentangan. Sebaliknya, keduanya menjadi saling bergantung.

Dari Kuman ke Tikus dan Mesin Clayton

Ada juga bagian dari buku yang secara teknis membahas Aparatus Clayton, sistem fumigasi bergerak yang dipasang pada kapal tunda. Berbeda dari metode pembersihan sebelumnya yang bergantung pada pencucian permukaan, sistem ini memompa gas sulfur dioksida bertekanan tinggi ke seluruh bagian kapal. Dengan bantuan power blower, gas dapat menjangkau ruang-ruang tersembunyi yang tidak dapat dicapai pekerja sanitasi.

Pada bagian ini, teknologi tersebut melahirkan gagasan baru tentang kebersihan total. Ruang kapal tidak lagi dianggap cukup bersih karena terlihat bersih. Kebersihan harus dibuktikan melalui penetrasi kimia ke seluruh volume ruang. Logika ini mengantisipasi berbagai praktik biosekuriti modern yang masih digunakan hingga sekarang.

Narasi buku menjadi semakin menarik ketika memasuki era Pandemi Pes Ketiga pada dekade 1890-an. Fokus sanitasi maritim bergeser dari perang melawan mikroba menuju perang melawan vektor penyakit. Tikus, kutu, dan nyamuk menjadi sasaran utama. Dalam konteks ini, gas belerang memperoleh fungsi baru karena dianggap mampu melakukan tiga pekerjaan sekaligus: membunuh bakteri, serangga, dan hewan pengerat.

Dari sinilah lahir konsep yang dikenal sebagai The Three Dsdésinfectiondésinsectisation, dan dératisation. Penulis menunjukkan bahwa perubahan ini penting karena memperluas cakupan sanitasi dari pengendalian penyakit menuju pengendalian seluruh ekologi biologis yang dianggap mengancam perdagangan dan kesehatan.

Warisan Gelap Sanitasi Modern

Kontribusi paling provokatif dari Sulphuric Utopias muncul pada bagian penutup.

Penulis tidak berhenti pada kisah keberhasilan sanitasi maritim. Ia menelusuri bagaimana teknik fumigasi kemudian berkembang menjadi teknologi yang jauh lebih berbahaya. Seiring waktu, sulfur dioksida mulai digantikan oleh hidrogen sianida yang dianggap lebih efektif dan kurang korosif. Perubahan ini menghasilkan konsekuensi historis yang tidak terduga. Praktik mengisi ruang tertutup dengan gas beracun untuk tujuan “pembersihan” menciptakan kerangka teknis dan konseptual yang pada akhirnya dapat digunakan untuk tujuan yang sangat berbeda.

Buku ini berhati-hati untuk tidak menyederhanakan hubungan historis tersebut menjadi garis sebab-akibat langsung. Namun penulis menunjukkan adanya kesinambungan teknologi dan imajinasi birokratis mengenai bagaimana ruang dapat dikendalikan, dinormalisasi, dan dibersihkan melalui intervensi kimia.

Dalam konteks inilah pembaca diingatkan bahwa sejarah teknologi kesehatan publik tidak hanya berisi kisah kemajuan, tetapi juga kemungkinan penyalahgunaan yang muncul dari teknologi yang sama.

Kekuatan utama Sulphuric Utopias terletak pada kemampuannya menghubungkan sejarah ilmu pengetahuan, sejarah kesehatan publik, sejarah lingkungan, dan sejarah kapitalisme global dalam satu narasi yang koheren. Buku ini memperlihatkan bahwa globalisasi modern tidak hanya dibangun oleh mesin transportasi dan komunikasi, tetapi juga oleh teknologi sanitasi yang memungkinkan pergerakan manusia dan barang tetap berlangsung di tengah ancaman epidemi.

Meski demikian, argumen tentang hubungan antara praktik fumigasi dan teknologi kekerasan abad ke-20 mungkin akan memicu perdebatan di kalangan sejarawan. Sebagian pembaca mungkin menganggap hubungan tersebut terlalu jauh, sementara yang lain melihatnya sebagai pengingat penting bahwa setiap teknologi membawa konsekuensi yang melampaui tujuan awal penciptaannya.

Sulphuric Utopias menawarkan pelajaran yang relevan bagi abad ke-21. Buku ini mengingatkan bahwa setiap teknologi yang dijanjikan sebagai solusi universal, baik dalam kesehatan publik, kecerdasan buatan, maupun bioteknologi, selalu mengandung dimensi politik, ekonomi, dan moral yang perlu ditelaah secara kritis. Di balik setiap utopia teknologi, selalu terdapat kemungkinan konsekuensi yang tidak pernah sepenuhnya dapat diprediksi.

————————————

Sulphuric UtopiasA History of Maritime Fumigation 
By: Lukas Engelmann, Christos Lynteris
https://doi.org/10.7551/mitpress/12437.001.0001
ISBN (electronic): 9780262358194 
Publisher: The MIT Press
Published: 2020

————————————-

Kami mengundang akademisi, peneliti, mahasiswa, serta pemerhati literasi dan kajian ilmu pengetahuan untuk menulis review buku sebagai bagian dari penguatan tradisi membaca kritis dan dialog akademik lintas disiplin. Review buku diharapkan tidak hanya berupa ringkasan isi, tetapi juga analisis kritis terhadap argumentasi, kerangka konseptual, serta relevansi buku dengan isu-isu ilmiah, sains, kesehatan, teknologi dan kemasyarakatan yang relevan dengan situasi sosial atau kebijakan publik di Indonesia.

Kami memiliki tujuan untuk mengembangkan kemampuan analisis kritis terhadap literatur ilmiah, memperluas dialog intelektual antarbidang, meningkatkan pemahaman terhadap perkembangan gagasan dalam berbagai disiplin ilmu, serta memperkuat literasi akademik dalam penulisan ilmiah maupun semi-ilmiah. Kegiatan ini juga bertujuan menyediakan ruang diseminasi pemikiran yang dapat memperkaya ekosistem pengetahuan berbasis argumentasi dan refleksi kritis.

Naskah review ditulis dengan panjang maksimal 700 kata. Isi review mencakup ringkasan singkat argumen utama buku, identifikasi tema atau kerangka pemikiran penulis, analisis kritis terhadap isi atau pendekatan, serta evaluasi kekuatan dan keterbatasan buku. Penulis juga diharapkan menjelaskan relevansi buku terhadap bidang keilmuan tertentu atau isu kontemporer, serta implikasi akademik, sosial, atau kebijakan jika relevan.

Penulisan review bersifat analitis dan argumentatif, bukan sekadar deskriptif. Penulis dianjurkan mengaitkan isi review dengan literatur ilmiah yang relevan untuk memperkuat analisis dan memperluas konteks pembahasan.

Naskah dikirim ke ilham@sciencewatchdog.id dalam format .docx atau .pdf dengan penamaan file “Review Buku_Nama Penulis”. Seluruh naskah akan melalui proses kurasi editorial yang menilai kualitas argumentasi, kedalaman analisis, dan kontribusi akademik. Naskah terpilih akan dipublikasikan melalui kanal "Book Reviews" http://sciencewatchdog.id. Subjek email pengiriman adalah “Review Buku – Nama Penulis”. Kami mengharapkan kontribusi berbagai perspektif untuk memperkaya tradisi intelektual dan budaya membaca kritis dalam komunitas akademik maupun publik yang lebih luas.

Leave a Comment Here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.