Blind Spots: Menguak Kegagalan Institusi Kesehatan

Buku dibaca dan ditelaah oleh Mario Hikmat, Epidemiolog Kesehatan

“Keangkuhan pengetahuan adalah hal pertama yang perlu dikubur dalam institusi kesehatan modern.”

Itu kesan pertama yang muncul saat saya membaca Blind Spots karya Marty Makary, profesor di Johns Hopkins School of Medicine.

Makary membuka bukunya dengan kasus sederhana, alergi terhadap kacang pada anak-anak di Amerika Serikat.

Pada tahun 2000, American Academy of Pediatrics merekomendasikan agar anak-anak berisiko tinggi alergi menghindari kacang hingga usia tiga tahun. Rekomendasi itu dibuat tanpa dukungan uji klinis yang memadai dan tanpa keterlibatan luas ahli imunologi. Hasilnya justru paradoksal. Dalam dekade berikutnya, angka alergi kacang meningkat tajam. Belakangan diketahui bahwa paparan dini pada sebagian anak justru membantu membangun toleransi imunologis.

Namun rekomendasi tersebut bertahan selama hampir dua dekade. Dokter yang mempertanyakannya kerap dianggap menyimpang dari konsensus. Jutaan anak tumbuh dengan sistem imun yang tidak pernah belajar mengenali kacang sejak dini.

Makary menyebut fenomena ini sebagai blind spots: titik buta kolektif yang lahir dari groupthink, keangkuhan institusional, dan resistensi terhadap bukti baru. Termasuk dorongan mempertahankan legitimasi institusi meskipun rekomendasi yang dibuat mulai dipertanyakan.

Ia menulis dengan nada yang mengusik kenyamanan institusi kesehatan modern.

Kalimat itu penting dibaca epidemiolog karena epidemiologi sering bekerja dengan asumsi bahwa semakin banyak data dikumpulkan, semakin dekat kita pada kebenaran. Padahal sejarah kesehatan publik menunjukkan bahwa data juga dapat membangun ilusi kepastian.

Dalam banyak situasi, epidemiologi bahkan menjadi bahasa resmi kekuasaan. Masalah muncul ketika ilmu ini terlalu percaya bahwa segala sesuatu yang penting pasti dapat diukur secara statistik.

“Mana data analisis epidemiologisnya? Berapa signifikansi hubungan kausalnya?”

Kalimat seperti itu sangat sering terdengar. Epidemiolog menjadi sangat ahli menghitung prevalensi penyakit, tetapi kadang kurang peka membaca politik pangan, ekspansi tambang, perubahan lingkungan, atau ketimpangan sosial yang turut memproduksi risiko penyakit.

Kita terlalu sibuk mengelola angka sampai lupa membaca dunia yang menghasilkan angka itu.

Makary juga menunjukkan bagaimana pendapat sekelompok ilmuwan dapat berubah menjadi dogma. Ia mengisahkan apa yang oleh Los Angeles Times disebut sebagai “holocaust hemofilia”, ketika banyak penderita hemofilia tertular HIV melalui transfusi darah.

Pada awal 1980-an, sejumlah dokter mengusulkan pengujian darah donor untuk menyaring kemungkinan penularan HIV/AIDS. Namun, usulan itu ditolak oleh sebagian otoritas medis yang meyakini bahwa AIDS terutama ditularkan melalui aktivitas seksual. Mereka menganggap bukti penularan melalui darah belum cukup kuat.

Menurut Makary, siapa pun yang menentang keyakinan dominan itu disisihkan.

American Red Cross, American Association of Blood Banks, dan Council of Community Blood Centers menolak penerapan skrining donor secara dini. Mereka berargumen bahwa bukti penularan HIV melalui darah “belum meyakinkan”.

Konsekuensinya tragis. Banyak penerima transfusi, termasuk penderita hemofilia yang rutin menerima produk darah, akhirnya terinfeksi HIV.

Jika direfleksikan, baik kasus alergi kacang maupun tragedi hemofilia menunjukkan masalah yang sama, yaitu perihal kegagalan institusi kesehatan untuk mengakui keterbatasan pengetahuan dan kesalahan pembacaan bukti ilmiah sebelum menghasilkan rekomendasi kebijakan publik.

Makary mengingatkan kita untuk berhati-hati terhadap frasa “tidak ada bukti”. Dalam praktik kesehatan publik, frasa itu sering disalahartikan sebagai bukti bahwa sesuatu tidak terjadi, padahal bisa juga berarti penelitian belum dilakukan, data belum tersedia, atau metode pengamatan belum mampu menangkap fenomenanya.

Hal itu terasa dekat dengan cara banyak institusi kesehatan bekerja hari ini. Kritik mudah dianggap ancaman. Perbedaan pendapat cepat dicurigai sebagai anti-sains.

Padahal sejarah epidemiologi justru bergerak melalui keberanian mempertanyakan konsensus. Banyak kemajuan kesehatan publik lahir bukan dari kepatuhan terhadap dogma, melainkan dari kesediaan menguji ulang asumsi yang tampak mapan.

Blind spot terbesar ilmu kesehatan sering muncul justru ketika institusi merasa dirinya paling ilmiah, paling rasional, dan paling mengetahui segalanya.

Karena itu epidemiolog perlu membaca buku ini bukan untuk menjadi sinis terhadap sains, melainkan untuk menjaga sains tetap terbuka terhadap koreksi.

Bahwa data bisa bias. Bahwa model bisa keliru. Bahwa pengalaman masyarakat kadang menangkap sesuatu yang belum terbaca oleh survei. Bahwa ketiadaan bukti bukan berarti bukti ketiadaan. Dan otoritas ilmiah bukanlah otoritas yang kebal terhadap pertanyaan kritis.

Di tengah birokrasi kesehatan yang semakin terobsesi pada dashboard, indikator, SPJ BOK, dan tata kelola administratif, Blind Spots hadir sebagai pengingat sederhana bahwa kadang hal paling berbahaya bukanlah apa yang belum kita ketahui, melainkan apa yang kita yakini sudah pasti benar dan tidak boleh dipertanyakan lagi: Pokoknya ada!

___________________________________________________________________________

Makary, Marty. Blind Spots: When Medicine Gets It Wrong, and What It Means for Our Health. New York: Bloomsbury Publishing, 2024. xviii + 256 hlm. ISBN 9781639735310 (hardcover).

Versi terjemahan Indonesia:
Makary, Marty. Blind Spots: Titik Buta Dunia Medis. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Elex Media Komputindo, Jakarta, 2025.



_________________________
Kami mengundang akademisi, peneliti, mahasiswa, serta pemerhati literasi dan kajian ilmu pengetahuan untuk menulis review buku sebagai bagian dari penguatan tradisi membaca kritis dan dialog akademik lintas disiplin. Review buku diharapkan tidak hanya berupa ringkasan isi, tetapi juga analisis kritis terhadap argumentasi, kerangka konseptual, serta relevansi buku dengan isu-isu ilmiah, sains, kesehatan, teknologi dan kemasyarakatan yang relevan dengan situasi sosial atau kebijakan publik di Indonesia.

Kami memiliki tujuan untuk mengembangkan kemampuan analisis kritis terhadap literatur ilmiah, memperluas dialog intelektual antarbidang, meningkatkan pemahaman terhadap perkembangan gagasan dalam berbagai disiplin ilmu, serta memperkuat literasi akademik dalam penulisan ilmiah maupun semi-ilmiah. Kegiatan ini juga bertujuan menyediakan ruang diseminasi pemikiran yang dapat memperkaya ekosistem pengetahuan berbasis argumentasi dan refleksi kritis.

Naskah review ditulis dengan panjang maksimal 700 kata. Isi review mencakup ringkasan singkat argumen utama buku, identifikasi tema atau kerangka pemikiran penulis, analisis kritis terhadap isi atau pendekatan, serta evaluasi kekuatan dan keterbatasan buku. Penulis juga diharapkan menjelaskan relevansi buku terhadap bidang keilmuan tertentu atau isu kontemporer, serta implikasi akademik, sosial, atau kebijakan jika relevan.

Penulisan review bersifat analitis dan argumentatif, bukan sekadar deskriptif. Penulis dianjurkan mengaitkan isi review dengan literatur ilmiah yang relevan untuk memperkuat analisis dan memperluas konteks pembahasan.

Naskah dikirim ke ilham@sciencewatchdog.id dalam format .docx atau .pdf dengan penamaan file “Review Buku_Nama Penulis”. Seluruh naskah akan melalui proses kurasi editorial yang menilai kualitas argumentasi, kedalaman analisis, dan kontribusi akademik. Naskah terpilih akan dipublikasikan melalui kanal "Book Reviews" http://sciencewatchdog.id. Subjek email pengiriman adalah “Review Buku – Nama Penulis”. Kami mengharapkan kontribusi berbagai perspektif untuk memperkaya tradisi intelektual dan budaya membaca kritis dalam komunitas akademik maupun publik yang lebih luas.

Leave a Comment Here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.