Skandal Stapel: Jauh Sebelum Kasus Prihantini–Rifaldy

Viral Rifaldy Fajar dan Prihantini disorot atas dugaan pemalsuan data riset pada konferensi internasional berbasis AI. Kasus pemalsuan data bukan hal yang baru, bahkan dilakukan oleh profesor. Diederik Stapel pernah dianggap sebagai peneliti prolifik dalam psikologi sosial di Eropa. Bagi yang belum mengenalnya, ia adalah profesor di Tilburg University. Stafel dikenal produktif, sering muncul di media, dan menghasilkan penelitian-penelitian dengan kesimpulan yang terdengar elegan sekaligus provokatif, … Continue reading Skandal Stapel: Jauh Sebelum Kasus Prihantini–Rifaldy

Sains Sedang Dimanipulasi, Apa yang Perlu Kita Ketahui?

Laporan Forensic Scientometrics (FoSci) 2026 memberikan kerangka kerja bagi penerbit, lembaga, pemberi dana, dan pembuat kebijakan untuk memperkuat integritas penelitian serta memulihkan kepercayaan terhadap sains. Pada tahun 2022, Anna Abalkina, seorang peneliti di Freie Universität Berlin, menemukan sesuatu yang tidak biasa ketika memeriksa alamat email para penulis di Journal of Community Psychology, sebuah jurnal arus utama yang terkemuka. Enam artikel mencantumkan alamat email dari domain tanu.pro — domain institusi palsu … Continue reading Sains Sedang Dimanipulasi, Apa yang Perlu Kita Ketahui?

Tiga Orang Meninggal di Kapal Pesiar, Satu Warga Jerman: Apa yang Sebenarnya Terjadi dengan Hantavirus?

Dari Munich, saya mengikuti perkembangan wabah ini lewat siaran pers RKI dan berita Jerman. Begini yang perlu Anda ketahui. Pertengahan April lalu, notifikasi dari Robert Koch-Institut (RKI) — lembaga yang di Jerman berfungsi seperti gabungan antara BPOM dan Kemenkes dalam urusan surveilans penyakit — mulai ramai dibicarakan oleh media Jerman, termasuk tempat tinggal saya saat ini di Munich. Sebuah kapal pesiar kecil, MV Hondius, berlayar dari … Continue reading Tiga Orang Meninggal di Kapal Pesiar, Satu Warga Jerman: Apa yang Sebenarnya Terjadi dengan Hantavirus?

Semangat Bandung dan Masa Depan Ekosistem Pengetahuan Selatan-Selatan

Pada April 1955, 29 delegasi dari Asia dan Afrika berkumpul di Gedung Merdeka, Bandung. Mereka tidak memiliki senjata nuklir maupun armada jet tempur, tetapi mereka percaya bahwa bangsa-bangsa yang baru merdeka berhak menentukan nasibnya sendiri. Tujuh puluh satu tahun kemudian, keyakinan itu perlu diuji kembali, kali ini di arena yang jarang dibicarakan dalam peringatan-peringatan Bandung, yaitu arena pengetahuan. Konferensi Asia-Afrika lazimnya dibaca sebagai peristiwa diplomatik, … Continue reading Semangat Bandung dan Masa Depan Ekosistem Pengetahuan Selatan-Selatan