close up of colorful bricks wall
Photo by Engin Akyurt on Pexels.com

Berdialog, Bukan Berperang Paradigma

Premis Awal

Ada sebuah ironi yang menarik dalam cara ilmuwan mendiskusikan paradigma penelitian. Sering kali kita kerap memperlakukan perdebatan antara positivisme, interpretivisme, realisme kritis, atau konstruktivisme seolah itu adalah perang antarkubu “teologis”, di mana kesetiaan pada satu aliran menentukan keabsahan seseorang sebagai peneliti. Padahal, jika kita membaca secara lebih saksama argumen Kuhn (1962) yang sering dijadikan otoritas dalam diskusi ini, ia tidak pernah berpretensi bahwa paradigma adalah kebenaran mutlak.

Kuhn memandang paradigma bukan sebagai kebenaran final, melainkan sebagai perangkat konseptual yang membantu komunitas ilmiah memecahkan masalah pada suatu periode tertentu. Ketika paradigma tidak lagi mampu menjelaskan anomali yang muncul, ia dapat digantikan oleh paradigma lain yang lebih memadai. Paradigma berfungsi sebagai instrumen kerja ilmiah, bukan sebagai doktrin yang bersifat absolut.

Premis yang hendak saya ajukan untuk memulai artikel ini sederhananya begini:
Paradigma dan metodologi adalah instrumen untuk memahami dunia, bukan lensa yang secara mutlak menentukan bagaimana dunia harus dipahami.

Dari premis itu, kemudian, jika kita sebenarnya bisa menyelam lebih jauh di literatur klasik tahun 1990, muncul sebuah pemikiran tentang apa yang dinamakan “paradigma dialog” (the paradigm dialogue) sebagai sebuah posisi epistemis yang tidak membuang batas-batas paradigmatik, tetapi juga menolak memperlakukannya sebagai tembok kedap suara (Guba, 1990). Diskusi tentang paradigma dialog juga dilanjutkan oleh Denzin (2008).


Dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, perdebatan antara paradigma dalam ilmu sosial sering didramatisasi sebagai the paradigm wars (Gage, 1989). Di satu pihak, kaum positivis berpendapat bahwa realitas sosial dapat dan harus diukur, dikuantifikasi, dan diuji secara sistematis. Di pihak lain, kaum interpretivis berargumen bahwa makna sosial hanya dapat dipahami dari dalam, melalui pengalaman subjektif dan konteks budaya yang tidak tereduksi ke dalam angka.

Perdebatan semacam itu menjadi produktif jika ia mendorong refleksi epistemis yang serius dalam pengembangan keilmuan. Namun, ia menjadi bumerang ketika para ilmuwan menginternalisasinya sebagai zero-sum game yang diartikan bahwa memilih satu paradigma berarti menolak yang lain secara total, bahwa menggunakan survei berarti tidak percaya pada wawancara mendalam, bahwa mengutip Kant berarti mengkhianati Comte.

Dalam paper yang ditulis Morgan (2007) dengan judul “Paradigms Lost and Pragmatism Regained” ada hal yang menarik, kurang lebih dia menyampaikan bahwa sering kali kita (ilmuwan) telah terlalu fokus pada asumsi-asumsi ontologis dan epistemologis yang memisahkan paradigma, sementara mengabaikan sejauh mana para peneliti dalam praktik sehari-hari sebenarnya bergerak secara lebih pragmatis. Ini bukan berarti perbedaan paradigmatik tidak nyata. Tetapi relevansinya bergantung pada pertanyaan penelitian yang diajukan, bukan pada kesetiaan ideologis penelitinya. Tidak ada satu paradigma yang cukup untuk menampung semua pertanyaan penelitian.

Paradigma Dialog: Apa yang Dimaksud?

Istilah paradigma dialog sebenarnya bukan terminologi baru dalam filsafat ilmu setidaknya sejak tahun 1990. Istilah ini adalah sebuah posisi yang secara implisit dipraktikkan oleh banyak peneliti, tetapi jarang dieksplisitkan dalam pendidikan metodologis di kampus-kampus. Beberapa ciri dapat dijelaskan secara singkat dalam paradigma dialog.

Pertama, paradigma dipahami sebagai prior commitments yang membentuk cara peneliti memulai, bukan sebagai penjara yang menentukan ke mana peneliti boleh pergi. Lakatos (1978) menyebutnya sebagai research programme yang memiliki inti keras (hard core) dan sabuk pelindung (protective belt) yang dapat dimodifikasi. Ini dianalogikan sederhananya, peneliti yang bekerja dalam tradisi interpretivis tidak dilarang menggunakan distribusi frekuensi untuk mendeskripsikan sampel mereka. Peneliti kuantitatif tidak dilarang mewawancarai responden untuk memvalidasi temuan statistik.

Kedua, pertanyaan penelitian adalah arbiter utama pemilihan metode, bukan sebaliknya. Ini sederhana, tetapi dalam praktik bisa jadi sering dilanggar. Banyak disertasi doktoral, misalnya, yang terlihat seperti proyek pembuktian, seperti peneliti memilih paradigma lebih dahulu, kemudian merancang pertanyaan penelitian yang “cocok” dengan paradigma tersebut. Hasilnya adalah penelitian yang metodologis konsisten tetapi secara epistemis steril, karena pertanyaan yang paling menarik justru tidak diajukan karena tidak masuk ke dalam kotak paradigmatik yang dipilih. Ini tentu saja bahaya.

Ketiga, paradigma dialog bukanlah sinkretisme. Creswell & Plano Clark (2017) dan Fetters, Curry, & Creswell (2013) dalam diskusi mereka tentang mixed methods membuat poin penting bahwa mengombinasikan metode membutuhkan kejelasan tentang mengapa kombinasi itu diperlukan secara substantif, bukan sekadar pragmatisme untuk “melengkapi” satu sama lain. Di sinilah letak paradigma dialog yang menuntut justifikasi yang koheren, bukan eklektisisme yang malas.

Namun, tiga hal dasar dalam paradigma dialog juga punya posisi yang rentan akan disalahpahami, sehingga posisi ini juga tidak bebas dari beberapa kesalahpahaman yang perlu diantisipasi. Beberapa kesalahpahaman yang mungkin terjadi di antaranya adalah berikut ini.

Kesalahpahaman pertama. Adanya anggapan bahwa paradigma dialog sama dengan relativisme epistemis (semua paradigma sama sahnya). Ini adalah kesalahpahaman yang keliru. Paradigma dialog tidak mengatakan bahwa semua cara memahami dunia setara secara epistemis, tetapi mengatakan bahwa berbagai cara memahami dunia dapat menangkap dimensi yang berbeda dari realitas yang sama. Pemilihan cara harus ditentukan oleh apa yang paling tepat untuk pertanyaan riset yang diajukan. Standar kualitas tetap berlaku dalam masing-masing paradigma. Misalnya: validitas internal dalam eksperimen, kredibilitas dan transferabilitas dalam studi interpretivis, koherensi retroduktif dalam realisme kritis.

Kesalahpahaman kedua. Bahwa paradigma dialog mengabaikan inkomensurabilitas. Kuhn (1962) dan kemudian Feyerabend (1975) berargumen bahwa paradigma yang berbeda menggunakan bahasa yang secara fundamental berbeda sehingga tidak dapat dibandingkan secara langsung. Ini sebagian benar. Tetapi inkomensurabilitas tidak sama dengan ketertutupan total. Bernstein (1983) dalam Beyond Objectivism and Relativism menunjukkan bahwa dialog lintas paradigma dimungkinkan melalui apa yang ia sebut sebagai phronesis, yaitu kebijaksanaan praktis yang menavigasi perbedaan tanpa harus menyelesaikannya secara definitif.

Kesalahpahaman ketiga. Bahwa paradigma dialog hanya relevan untuk mixed methods research. Paradigma dialog adalah posisi epistemis yang relevan bahkan untuk peneliti yang secara konsisten bekerja dalam satu tradisi metodologis. Seorang etnografer yang menyadari keterbatasan survei untuk menjawab pertanyaannya tidak berarti mengabaikan temuan yang dapat dihasilkan oleh teknik survei. Sehingga kesadaran tentang batas-batas paradigma seseorang adalah bagian dari paradigma dialog yang kita bahas ini.


Jika ditengok lebih lanjut, diskusi tentang paradigma penelitian di Indonesia memiliki konteks spesifik yang sering diabaikan dalam literatur metodologi yang (kenyataannya) didominasi oleh pengetahuan Global North. Alatas (2003) mengidentifikasi masalah academic dependency dalam ilmu sosial Global South yang terdiri atas ketergantungan pada teori, kerangka konseptual, dan bahkan ukuran validitas yang dikembangkan dalam konteks Barat dan kemudian diadopsi tanpa refleksi kritis.

Dalam konteks komunikasi sains di Indonesia, misalnya, kategori seperti “scientist-journalist relations” yang menjadi fokus disertasi saya berasal dari literatur yang sebagian besar dikembangkan di Eropa Barat dan Amerika Utara. Apakah relasi ini bekerja dengan cara yang sama di Indonesia, di mana struktur media, akuntabilitas jurnalis, dan modalitas kepercayaan publik terhadap sains berbeda secara signifikan? Ini adalah pertanyaan yang hanya dapat dijawab dengan membawa paradigma Barat ke dalam dialog dengan realitas lokal, yang berarti saya tidak hanya sekadar mengaplikasikannya secara mekanis, tetapi juga mendorong refleksi kritis padanya.

Paradigma dialog, dalam konteks ini, juga berarti keterbukaan terhadap kemungkinan bahwa konsep-konsep lokal dan tradisi intelektual non-Barat menawarkan sumber daya epistemis yang tidak tersedia dalam referensi metodologi mainstream. Sehingga ini harus dipandang tidak sebagai sebuah argumen untuk menolak metodologi ilmiah universal, tetapi untuk memperkayanya. Peneliti yang paling produktif secara ilmiah cenderung bukan yang paling dogmatis secara paradigmatik, melainkan yang paling jelas asumsi-asumsinya dan paling sadar tentang batas-batas pendekatannya.

Paradigma Dialog sebagai Habitus Intelektual

Saya ingin mengakhiri dengan proposisi yang menyatakan bahwa paradigma dialog bukan sekadar strategi metodologis. Tapi harus dapat menjadi sebuah habitus intelektual, meminjam konsep Bourdieu (1990) bahwa disposisi yang terbentuk melalui latihan dan refleksi, yang memungkinkan seseorang bergerak secara lentur dalam lanskap epistemis yang kompleks tanpa kehilangan presisi analitik.

Dalam kondisi global di mana masalah-masalah yang paling mendesak (perubahan iklim, pandemi, disinformasi, ketimpangan sosial) membutuhkan sebuah pemahaman yang tidak tereduksi ke dalam satu disiplin atau satu paradigma, kemampuan untuk berdialog secara metodologis adalah sebuah keniscayaan juga kebutuhan epistemis yang mendesak dan segera. Premis yang saya tulis di awal yang menjadi titik tolak artikel ini — Paradigma dan metodologi adalah instrumen untuk memahami dunia, bukan lensa yang secara mutlak menentukan bagaimana dunia harus dipahami. — membawa kita pada posisi yang lebih rendah hati tentang apa yang dapat dicapai oleh ilmu pengetahuan melalui jalur tunggal mana pun. Dan kerendahan hati epistemis inilah yang dibutuhkan untuk menciptakan kondisi bagi pengetahuan yang lebih kuat.

Tabik.

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Discover more from ScienceWatchdog.id

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading