Selama lebih dari tiga abad lamanya, tinjauan sejawat (peer review) menjadi fondasi utama dalam menjaga mutu publikasi ilmiah. Sebelum sebuah penelitian diterbitkan, naskah akan diperiksa secara kritis oleh peneliti lain yang memiliki keahlian di bidang yang sama. Dari proses inilah berbagai kelemahan metodologis, kesalahan analisis, hingga klaim yang belum didukung bukti dapat diidentifikasi sebelum menjadi bagian dari literatur ilmiah.
Ironisnya, meskipun sistem ini menjadi tulang punggung sains modern, sebagian besar pekerjaan para penelaah dilakukan secara sukarela. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam membaca naskah, memeriksa data, mengevaluasi metode, dan memberikan rekomendasi kepada editor tanpa memperoleh kompensasi finansial. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak akademisi mempertanyakan apakah model tersebut masih layak dipertahankan di tengah meningkatnya beban publikasi dan tekanan produktivitas ilmiah yang juga ikut menyuburkan bisnis oligopoli komersial penerbitan ilmiah. Ketimpangan struktural pada ekosistem penerbitan ilmiah ini membuat sistem tinjauan sejawat tidak lagi ideal untuk memproduksi pengetahuan ilmiah.
Di Indonesia, praktik pemberian honorarium kepada penelaah artikel ilmiah sebenarnya bukan hal baru. Melalui berbagai skema pembiayaan pengelolaan dan peningkatan mutu jurnal di perguruan tinggi, banyak jurnal nasional telah lama mengalokasikan insentif bagi peninjau artikel sebagai bentuk penghargaan atas waktu dan keahlian yang mereka curahkan dalam proses penelaahan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, berbagai jurnal mulai menghadapi tantangan akibat kebijakan efisiensi anggaran di banyak perguruan tinggi. Kondisi ini mendorong pengelola jurnal untuk semakin selektif dalam mengalokasikan biaya operasional, termasuk anggaran bagi proses tinjauan sejawat.
Meskipun demikian, pada tingkat internasional, gagasan membayar penelaah masih menjadi perdebatan. Selama bertahun-tahun, banyak penerbit ilmiah beranggapan bahwa tinjauan sejawat merupakan bagian dari tanggung jawab akademik yang sebaiknya tetap dilakukan secara sukarela. Perdebatan tersebut memperoleh perhatian baru setelah jurnal Biology Open meluncurkan eksperimen yang cukup berani melalui program Fast & Fair, yaitu skema tinjauan sejawat berbayar yang dirancang untuk menguji apakah insentif finansial dapat meningkatkan efisiensi tanpa mengurangi kualitas.
Menurut laporan yang diterbitkan Nature pada edisi 1 Juli 2026, program tersebut mulai dijalankan pada Juli 2024. Dalam skema ini, penelaah menerima honor sebesar £220 untuk setiap naskah yang berhasil ditelaah dalam waktu empat hari kerja, dengan syarat kualitas ulasannya dinilai memenuhi standar oleh editor. Hasilnya menunjukkan perubahan yang signifikan. Rata-rata waktu menuju keputusan editorial pertama turun dari hampir 38 hari menjadi sekitar 5,5 hari kerja. Selain itu, kualitas ulasan meningkat berdasarkan evaluasi editor, sementara proporsi naskah yang ditolak, direvisi, maupun diterima tetap serupa dengan sistem tinjauan konvensional. Temuan ini menunjukkan bahwa pemberian insentif finansial dapat mempercepat proses penelaahan tanpa mengubah standar editorial ataupun memengaruhi keputusan akhir terhadap naskah.
Temuan tersebut menantang asumsi lama bahwa pemberian insentif finansial akan merusak objektivitas proses ilmiah. Selama ini, salah satu alasan utama penolakan terhadap pembayaran penelaah adalah kekhawatiran bahwa ulasan akan berubah menjadi sekadar pekerjaan berbayar yang mengutamakan kecepatan daripada ketelitian. Namun, dalam eksperimen tersebut, pembayaran hanya diberikan apabila tenggat waktu dipenuhi dan kualitas ulasan memenuhi standar editor. Skema ini menunjukkan bahwa insentif finansial tidak harus bertentangan dengan integritas ilmiah apabila dirancang dengan mekanisme pengawasan yang ketat.
Sebenarnya Bukan Hanya Soal Kecepatan
Sesungguhnya, persoalan tinjauan sejawat bukan hanya soal kecepatan. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak jurnal mengalami kesulitan menemukan penelaah yang bersedia menerima undangan. Tidak sedikit editor yang harus menghubungi belasan hingga puluhan calon penelaah sebelum akhirnya memperoleh dua orang yang bersedia meninjau sebuah naskah. Kondisi ini menyebabkan waktu publikasi semakin panjang, sementara jumlah artikel yang dikirim ke jurnal terus meningkat setiap tahun.

Beban tersebut juga tidak terdistribusi secara merata. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sebagian kecil akademisi melakukan proporsi yang sangat besar dari keseluruhan pekerjaan penelaahan. Pada saat yang sama, aktivitas tersebut hampir tidak pernah dihitung secara memadai dalam penilaian kinerja akademik. Sistem penghargaan di perguruan tinggi umumnya lebih menekankan jumlah publikasi, hibah penelitian, dan sitasi dibandingkan dengan kontribusi sebagai penelaah.
Namun demikian, membayar penelaah bukan berarti tanpa risiko. Sebagian pakar mengingatkan bahwa model ini berpotensi meningkatkan biaya penerbitan jurnal. Jika tidak didukung oleh organisasi nirlaba atau lembaga pendanaan yang kuat, biaya tersebut mungkin akan dibebankan kepada penulis melalui kenaikan article processing charges(APC). Akibatnya, ketimpangan akses publikasi antara peneliti dari negara maju dan berkembang justru dapat semakin melebar.
Selain itu, muncul pula pertanyaan mengenai motivasi penelaah. Selama ini, banyak akademisi menerima undangan untuk menelaah sebagai bentuk tanggung jawab profesional terhadap komunitas ilmiah. Apabila pembayaran menjadi praktik umum, apakah motivasi intrinsik tersebut akan bertahan? Ataukah penelaahan akan berubah menjadi pasar jasa ilmiah yang lebih berorientasi pada insentif ekonomi? Pertanyaan ini masih memerlukan bukti empiris dari berbagai disiplin ilmu dan model penerbitan yang berbeda.
Eksperimen Biology Open juga belum dapat dianggap sebagai jawaban universal. Program tersebut didukung oleh penerbit nirlaba The Company of Biologists dan melibatkan sekitar 500 penelaah yang telah diseleksi sebelumnya. Model ini mungkin tidak mudah direplikasi pada jurnal berskala lebih besar atau bidang ilmu yang memiliki karakteristik komunitas akademik berbeda.
Terlepas dari berbagai keterbatasannya, satu hal menjadi semakin jelas. Krisis tinjauan sejawat merupakan persoalan nyata dalam ekosistem publikasi ilmiah global. Jika sistem lama semakin sulit memenuhi tuntutan volume publikasi yang terus meningkat, maka berbagai inovasi layak diuji secara terbuka dan berbasis bukti. Pembayaran kepada penelaah bukanlah tujuan akhir, melainkan salah satu alternatif yang kini mulai memiliki dukungan data empiris.
Sains berkembang melalui eksperimen, termasuk ketika memperbaiki sistem yang menopangnya sendiri. Jika selama ratusan tahun dunia ilmiah mengandalkan kerja sukarela untuk menjaga kualitas pengetahuan, di masa depan apakah kualitas ilmu pengetahuan modern dapat terus bergantung pada kerja yang nyaris tidak pernah dihargai secara ekonomi?