Seorang kandidat doktor mengusap tengkuknya yang kaku sambil terus menatap layar laptop. Kepalanya berdenyut sejak sore. Perutnya juga terasa tidak nyaman, entah karena kopi ketiga atau karena ia melewatkan makan siangnya. Ia menepis semua itu dengan satu kalimat yang sudah jadi mantra harian: “Aku cuma stres.”
Ilustrasi di atas mungkin sering menjadi cerita banyak orang yang sedang menempuh pendidikan doktoral. Saya sendiri saat ini sedang menempuh jenjang pendidikan akademik tertinggi ini. Namun, saya hendak menyatakan dan menuliskan bahwa ini bukan saja sebagai pengingat untuk diri sendiri, tetapi juga mengajak yang lain untuk mengerti dan memahami bahwa pekerjaan-pekerjaan akademik selama pendidikan doktoral ini tidaklah sama pada masing-masing individu. Namun, yang pasti, stres dan burnout adalah sesuatu yang dekat dengan keseharian penuntut ilmu di level ini.
Jangan dianggap hanya sekedar curhat atau keputusasaan. Apalagi tidak muluk jika kampanye publik Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) kemarin (01/07) menyoroti pola ini dengan membuat konten visual di Instagram: sakit kepala, nyeri leher dan bahu, gangguan pencernaan, rasa berat di dada adalah sinyal tubuh yang sering diabaikan karena dibungkus dalam satu kalimat yang terdengar ringan. Bagi mahasiswa program doktor, kalimat itu adalah ujung dari budaya akademik yang menormalkan kelelahan sebagai bagian “wajar” dari perjuangan meraih gelar doktoral.
Apakah persepsi itu didukung data atau hanya keluhan segelintir orang yang kurang tangguh menghadapi tekanan?

Skala Persoalan, Bukan Anekdot
Studi paling representatif hingga saat ini datang dari Belgia. Levecque dan koleganya (2017) menyurvei 3.659 mahasiswa doktoral di Flanders, Belgia menggunakan instrumen skrining kesehatan mental terstandardisasi (General Health Questionnaire-12), lalu membandingkannya dengan tiga kelompok pembanding: populasi umum berpendidikan tinggi, pekerja berpendidikan tinggi, dan mahasiswa jenjang pendidikan tinggi lain. Hasilnya, satu dari dua mahasiswa doktoral melaporkan distres psikologis, dan satu dari tiga berada pada risiko mengidap gangguan psikiatrik umum, terutama depresi, dengan prevalensi yang secara konsisten lebih tinggi dibandingkan dengan ketiga kelompok pembanding. Karena sampelnya representatif untuk populasi doktoral Flanders, temuan ini kuat secara metodologis, meski cakupannya tetap terbatas pada satu sistem pendidikan tinggi di Eropa.
Untuk gambaran yang lebih luas, meta-analisis Satinsky dan koleganya (2021) menggabungkan 32 studi dari berbagai negara. Dari 16 studi yang melaporkan gejala depresi signifikan secara klinis, mencakup 23.469 mahasiswa doktoral, proporsi gabungannya mencapai 24 persen (interval kepercayaan 95 persen: 18-31 persen), kurang lebih satu dari empat orang. Untuk kecemasan, sembilan studi yang mencakup 15.626 mahasiswa menunjukkan proporsi 17 persen (interval kepercayaan 95 persen: 12-23 persen). Tim peneliti mencatat keterbatasan penting: heterogenitas antarstudi sangat tinggi, sehingga angka ini adalah gambaran kasar lanskap global, bukan estimasi presisi untuk satu negara tertentu.
Klaim yang paling sering dikutip media, dan juga paling kontroversial, datang dari Evans dan koleganya (2018) di Nature Biotechnology. Survei daring terhadap 2.279 mahasiswa pascasarjana dari 26 negara melaporkan 41 persen mengalami kecemasan taraf sedang hingga berat dan 39 persen mengalami depresi taraf sedang hingga berat, lalu menyimpulkan risiko ini enam kali lebih tinggi dibanding populasi umum. Klaim “enam kali lipat” ini kemudian dibantah dalam surat balasan oleh Duffy, Thanhouser, dan Derry (2019): sampel Evans dkk. bersifat sukarela dan disebarkan lewat media sosial, sehingga rentan bias, sementara data pembanding populasi umum yang mereka pakai berasal dari Jerman, bukan dari populasi yang sepadan. Evans dan koleganya (2019) mengakui perbandingan langsung itu tidak valid secara statistik, meski tetap mempertahankan bahwa arah temuannya, risiko yang meningkat, kemungkinan besar benar. Perdebatan ini justru menunjukkan sesuatu yang penting: bahkan di antara peneliti yang sepakat ada persoalan, ada perbedaan serius soal seberapa besar persoalan itu, dan generalisasi tergesa-gesa gampang terjadi ketika angka yang mencolok lebih mudah dibagikan daripada angka yang berhati-hati.
Data paling mutakhir datang dari survei global PhD Nature tahun 2025, yang menjaring 3.785 responden dari 107 negara. Ini survei jurnalistik skala besar, bukan studi akademik yang ditelaah sejawat, tetapi jangkauannya memberi potret terkini yang berharga. Temuannya: kepuasan menjalani studi doktoral membaik dibandingkan masa pandemi, tetapi diskriminasi dan pelecehan tetap meluas dan dialami sekitar 43 persen responden. Sebanyak 36 persen pernah mencari bantuan untuk kecemasan atau depresi yang mereka kaitkan langsung dengan studi doktoral mereka. Hampir separuh responden melaporkan budaya jam kerja panjang di kampusnya, dengan 27 persen bekerja 41 hingga 50 jam per pekan dan sekitar seperempat lainnya 51 hingga 60 jam per pekan. Temuan paling konsisten di seluruh survei ini: kesejahteraan mahasiswa doktoral berkorelasi kuat dengan kualitas relasi mereka dengan promotor atau pembimbing.
Bukan Soal Mental yang Lemah
Titik krusial dari riset Levecque dkk. (2017) bukan sekadar angka prevalensi, melainkan argumen strukturalnya: faktor yang paling konsisten memprediksi kesehatan mental mahasiswa doktoral adalah organisasi kerja, bukan karakter individu. Ketidakjelasan ekspektasi, konflik peran antara menjadi pekerja riset dan menjadi murid, kepemimpinan pembimbing yang buruk, dan minimnya dukungan institusional, semua ini adalah variabel yang bisa diubah oleh kebijakan kampus, bukan cacat kepribadian yang perlu “diperbaiki” lewat resiliensi personal semata.
Meta-analisis Hazell dan koleganya (2020) terhadap 52 artikel memperkuat argumen ini dari arah lain. Mahasiswa doktoral secara konsisten melaporkan tingkat stres yang lebih tinggi dibandingkan dengan data norma populasi umum. Dua faktor risiko dengan bukti paling kuat adalah isolasi sosial dan identitas gender perempuan, sementara faktor pelindung yang paling konsisten adalah dukungan sosial, memandang program doktoral sebagai proses bertahap alih-alih ujian sekali jalan, relasi pembimbingan yang positif, dan praktik perawatan diri yang berkelanjutan. Pola ini juga tampak pada mahasiswa doktoral bidang biomedis: Nagy dan koleganya (2019) menemukan bahwa burnout berkaitan erat dengan pikiran untuk berhenti dari studi dan gangguan fungsi akademik, sementara Hish dan koleganya (2019) menerapkan model proses stres pada populasi yang sama, menunjukkan bahwa stres kronis mengalir melalui jalur yang bisa dipetakan menuju burnout dan gejala depresi, bukan muncul begitu saja secara acak.
Penting dicatat, WHO sendiri, dalam Klasifikasi Penyakit Internasional edisi ke-11 (ICD-11), mengklasifikasikan burnout bukan sebagai kondisi medis, melainkan “fenomena okupasional” yang muncul akibat stres kerja kronis yang tidak dikelola dengan baik, ditandai dengan tiga dimensi: rasa kehabisan energi, jarak mental atau sinisme terhadap pekerjaan, dan menurunnya rasa kompeten secara profesional. Klasifikasi ini secara eksplisit menempatkan sumber masalah pada lingkungan kerja, bukan pada diri individu yang mengalaminya, sebuah pergeseran kerangka berpikir yang relevan untuk membaca ulang budaya doktoral yang kerap memuliakan penderitaan sebagai bukti dedikasi.
Ketika Tubuh Ikut Bicara
Di sinilah gambar dari WHO tadi kembali relevan. Stres kronis yang tidak dikelola tidak berhenti sebagai pengalaman mental. McEwen (1998), dalam kerangka yang kini menjadi rujukan standar ilmu saraf dan kedokteran perilaku, menjelaskan bahwa paparan berulang terhadap hormon stres seperti kortisol menghasilkan apa yang disebutnya beban alostatik (allostatic load), yaitu akumulasi keausan pada sistem saraf, endokrin, dan imun tubuh akibat mekanisme adaptasi stres yang terus-menerus diaktifkan tanpa jeda pemulihan yang memadai. Secara klinis, inilah yang mendasari mengapa sakit kepala tegang, nyeri otot leher dan bahu, serta gangguan pencernaan begitu sering menyertai periode tekanan akademik tinggi: otot menegang sebagai respons “siaga” tubuh, dan sistem pencernaan ikut terganggu karena energi tubuh dialihkan untuk merespons ancaman yang dipersepsikan, meski ancaman itu berupa tenggat disertasi, bukan bahaya fisik.
Masalahnya, budaya akademik doktoral sering mengajarkan mahasiswa untuk mengabaikan sinyal ini. Menjadikan tubuh yang sakit sebagai bukti kerja keras, alih-alih sebagai peringatan untuk berhenti sejenak, adalah pola yang justru memperpanjang paparan terhadap beban alostatik tadi.
Konteks Indonesia: Beban yang Berlapis
Sebagian besar data di atas berasal dari Eropa dan Amerika Utara, sehingga pertanyaan penting perlu diajukan: apakah polanya sama di Indonesia dan apa yang khas dari konteks ini?
Investigasi The Conversation Indonesia (2025) dalam seri “Jalan Terjal Doktoral” memetakan beban finansial yang jarang dibahas secara terbuka: total biaya studi doktoral di Indonesia, mencakup uang kuliah, ujian disertasi, dan publikasi jurnal, berkisar Rp100 hingga Rp200 juta, sementara pendapatan bulanan rata-rata dosen lulusan magister berada di kisaran Rp6,1 juta, dengan hanya sekitar 20 persen dari pendapatan itu, sekitar Rp1,22 juta per bulan, yang realistis dialokasikan untuk pendidikan lanjutan. Kesenjangan ini mendorong sebagian mahasiswa menggunakan jasa penulisan instan atau jurnal predator demi memenuhi tenggat publikasi, sebuah gejala tekanan struktural yang bermuara pada persoalan integritas akademik, bukan sekadar pilihan etis individual.
Beban ini berlapis lebih tebal lagi bagi mahasiswa doktoral yang juga menjadi ibu. Survei komunitas PhD Mama Indonesia (2022), sebagaimana dilaporkan Utami (2025) di The Conversation Indonesia, mencatat bahwa ibu-mahasiswa doktoral harus menanggung tuntutan akademik bersamaan dengan tanggung jawab domestik seperti pengasuhan anak, sebuah peran ganda yang, tanpa sistem dukungan memadai seperti subsidi penitipan anak atau fleksibilitas jadwal pembimbingan, berisiko menghasilkan kelelahan mental berkepanjangan.
Dimensi lain datang dari studi kualitatif Muniroh (2019) terhadap delapan mahasiswa doktoral asal Indonesia yang menempuh studi di Australia. Riset ini perlu dibaca dengan catatan konteks: temuannya berasal dari pengalaman mahasiswa diaspora, bukan mahasiswa doktoral yang menempuh studi di dalam negeri, sehingga transferabilitasnya terbatas. Namun, pola yang ditemukan tetap instruktif: mekanisme “berpikir lantang” (thinking out loud), lewat menulis jurnal informal, memetakan pikiran, atau berbagi cerita populer, menjadi cara mahasiswa Indonesia menegosiasikan tekanan emosional sekaligus tetap produktif menulis, sebuah strategi yang menyiratkan pentingnya ruang ekspresi informal di luar jalur akademik formal yang kaku.
Data ini konvergen pada satu titik tentang bagaimana kesulitan yang dialami mahasiswa doktoral bukan cerita tentang mental yang rapuh, melainkan cerita tentang struktur yang kerap dirancang tanpa mempertimbangkan keberlanjutan manusia yang menjalaninya, mulai dari relasi pembimbingan, beban finansial, tekanan publikasi, hingga siapa yang paling banyak menanggung peran ganda. Ketika tubuh mengirim sinyal lewat sakit kepala atau nyeri bahu, sinyal itu bukan gangguan yang perlu ditepis dengan kalimat “cuma stres”, melainkan informasi tentang beban yang sudah melampaui kapasitas pemulihan alami. Dan jelas ini bukan sekedar tentang persoalan individu.