Pada 17 Mei 2026, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah ini sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC), status darurat kesehatan tertinggi yang bisa dikeluarkan WHO.
Virus yang sudah lama dikenal ilmuwan, tetapi beberapa tahun terakhir, terlebih setelah pandemi COVID-19, kurang mendapat perhatian publik karena wabahnya selama ini terisolasi di Afrika dan relatif sudah terkendali. Kini, virus itu muncul dalam kondisi yang semakin tidak pasti dan belum ada vaksin untuk menghadapinya.
Setelah status Ebola terkendali, dalam empat tahun terakhir, virus ini muncul berulang kali dengan “wajah” yang berbeda-beda. Pada Agustus 2022, otoritas DRC mengumumkan wabah Ebola di Provinsi Kivu Utara. Belum selesai respons terhadap wabah itu, sebulan kemudian Uganda mengonfirmasi wabah strain Sudan di Distrik Mubende, yang pada akhirnya menginfeksi 164 orang dan menewaskan 77 orang sebelum dinyatakan berakhir pada Januari 2023.
Dua wabah berbeda strain, dua negara berbeda, dalam waktu yang hampir bersamaan. Lalu pada Agustus 2025, DRC kembali melaporkan wabah Ebola strain Zaire di Provinsi Kasai dengan 81 kasus terkonfirmasi dan 28 kematian, yang baru dinyatakan berakhir pada Desember 2025. Hanya beberapa bulan kemudian, Uganda mencatat wabah Sudan ebolavirus keenamnya, kali ini dengan 14 kasus dan 4 kematian, yang berakhir pada April 2025.
Setiap kali muncul, wabah-wabah ini berhasil dipadamkan sebelum meluas. Pola itu mungkin menciptakan rasa aman yang keliru: bahwa Ebola memang berbahaya, tetapi selalu bisa dikendalikan.
Kemudian, kemunculan Ebola pada 2026 menguji asumsi itu dengan keras karena munculnya strain Ebola langka. Itulah situasi yang sedang dihadapi dunia dengan Bundibugyo ebolavirus, strain Ebola langka yang sejak pertengahan Mei 2026 telah menyebabkan lebih dari 600 kasus suspek dan lebih dari 130 kematian di Republik Demokratik Kongo (RDK) dan Uganda.
Pada 17 Mei 2026, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah ini sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC), status darurat kesehatan tertinggi yang bisa dikeluarkan WHO.
Apa itu Strain ‘Bundibugyo’ dan mengapa berbeda?
Ada empat strain yang diketahui menyebabkan dampak infeksi serius pada manusia: Zaire, Sudan, Taï Forest, dan Bundibugyo. Dari keempatnya, Zaire adalah yang paling dikenal, paling sering menyebabkan wabah, dan paling mematikan, dengan angka kematian yang bisa mencapai 90 persen pada kondisi tanpa penanganan. Bundibugyo jauh lebih langka. Pertama kali diidentifikasi pada 2007 di Uganda barat, ia sebelumnya hanya menyebabkan dua wabah kecil: satu di Uganda pada 2007 dengan 116 kasus, dan satu lagi di RDK pada 2012.

Bundibugyo jauh lebih langka. Pertama kali diidentifikasi pada 2007 di Uganda barat, ia sebelumnya hanya menyebabkan dua wabah kecil: satu di Uganda pada 2007 dengan 116 kasus, dan satu lagi di RDK pada 2012.
Angka kematian Bundibugyo, menurut data wabah sebelumnya, berkisar antara 30 hingga 40 persen. Ini lebih rendah dari Zaire, tetapi tetap sangat tinggi dibandingkan penyakit infeksi lain yang lebih kita kenal. Untuk perbandingan: angka kematian COVID-19 pada gelombang pertama diperkirakan sekitar 0,5 hingga 2 persen di banyak negara.
Yang membuat Bundibugyo secara virologis berbeda adalah perbedaan susunan genetiknya. Perbandingan sekuens genom antara Bundibugyo dengan Zaire menunjukkan perbedaan sekitar 32 hingga 42 persen. Dalam dunia virologi, ini bukan sekadar variasi kecil. Artinya, antibodi yang dibentuk tubuh terhadap Zaire belum tentu mengenali Bundibugyo. Dan ini langsung berdampak pada ketersediaan alat perlindungan yang paling penting: vaksin.
Masalah besar: belum ada vaksin yang siap
Satu-satunya vaksin Ebola yang sudah mendapat izin edar resmi adalah Ervebo, yang dikembangkan untuk menghadapi strain Zaire. Vaksin ini berhasil digunakan dalam wabah besar di Kivu Utara, RDK, pada 2018–2019. Namun untuk Bundibugyo, situasinya sangat berbeda.
Saat ini belum ada vaksin yang disetujui untuk Bundibugyo. Ada dua kandidat vaksin dalam tahap pengembangan awal, termasuk satu vaksin berbasis teknologi mRNA yang dikembangkan di China dan telah menunjukkan hasil menjanjikan pada tikus. Namun belum satu pun yang memasuki uji klinis pada manusia. Kandidat paling siap pun diperkirakan masih membutuhkan enam hingga sembilan bulan sebelum bisa diuji coba dalam kondisi wabah nyata.
Kandidat (vaksin Ebola Bundibugyo) paling siap pun diperkirakan masih membutuhkan enam hingga sembilan bulan sebelum bisa diuji coba dalam kondisi wabah nyata.
Mengapa belum ada vaksin Ebola Bundibugyo yang sudah siap?
Jawabannya berkaitan dengan struktur prioritas penelitian global termasuk pendanaannya. Selama bertahun-tahun, Bundibugyo dianggap ancaman yang terlalu jarang terjadi untuk mendapat investasi besar. Sumber daya R&D mengalir ke tempat yang dianggap lebih mendesak untuk pengembangan strain Zaire. Kondisi ini diperparah dengan situasi di internal WHO paska penarikan bantuan dana Amerika Serikat oleh rezim Trump.

Mengapa wabah kali ini berbeda dari sebelumnya?
Ada empat faktor yang membuat wabah 2026 ini mempunyai tingkat ketidakpastian lebih tinggi dibandingkan wabah Bundibugyo sebelumnya.
Pertama, wabah ini telah mencapai kota besar. Kasus telah terdeteksi di Bunia, pusat administrasi Provinsi Ituri, dan dua kasus terkonfirmasi muncul di Kampala, ibu kota Uganda, dalam rentang 24 jam. Di lingkungan urban, jaringan kontak sosial jauh lebih padat dan lebih sulit dilacak dibandingkan di daerah terpencil.
Kedua, ada jeda deteksi hampir empat minggu antara kemunculan gejala pada kasus pertama yang diperkirakan dan konfirmasi laboratorium. Sebagian karena alat uji lokal di Bunia dirancang untuk mendeteksi strain Zaire, bukan Bundibugyo. Virus yang “asing” bagi sistem surveilans lokal berhasil menyebar sebelum teridentifikasi.
Ketiga, Provinsi Ituri adalah wilayah konflik aktif. Operasi pelacakan kontak dan isolasi kasus memiliki keterbatasan nyata di lingkungan yang tidak aman.
Keempat, wabah besar Ebola Zaire di Ituri dan Kivu Utara pada 2018–2019, yang berlangsung hampir dua tahun dan merenggut lebih dari 2.000 jiwa, meninggalkan luka kepercayaan yang dalam. Pengalaman traumatik itu dapat menghambat kemauan masyarakat untuk melapor, mengikuti prosedur isolasi, atau menerima intervensi medis dari luar.
Apa artinya ini bagi dunia?
Sejauh ini, WHO dan CDC Amerika Serikat menyatakan risiko penyebaran global tetap rendah. Ebola tidak menyebar melalui udara: penularannya membutuhkan kontak langsung dengan cairan tubuh orang atau hewan yang terinfeksi. Ini berbeda secara fundamental dari COVID-19 atau influenza.
Namun, wabah ini juga menunjukkan persoalan yang lebih mendasar. Sistem kesehatan global cenderung bereaksi ketika ancaman telah berkembang menjadi krisis besar, alih-alih berinvestasi secara konsisten pada pencegahan sejak fase awal. Varian Bundibugyo telah dikenali sejak 2007, tetapi hampir dua dekade berlalu tanpa tersedianya vaksin yang teruji secara memadai. Kondisi ini menjadi peringatan penting bagi pengembangan vaksin mRNA dan kesiapsiagaan pandemi di masa depan.
Kecepatan penyebaran wabah berpotensi meningkat akibat faktor demografis dan dinamika sosial, sementara kemunculan strain baru dan skala transmisinya semakin dipercepat oleh degradasi lingkungan global. Akibatnya, ketika wabah besar akhirnya terjadi, dunia sering kali masih harus memulai respons dari titik yang hampir nol.
