Tiga Orang Meninggal di Kapal Pesiar, Satu Warga Jerman: Apa yang Sebenarnya Terjadi dengan Hantavirus?

Dari Munich, saya mengikuti perkembangan wabah ini lewat siaran pers RKI dan berita Jerman. Begini yang perlu Anda ketahui.

Pertengahan April lalu, notifikasi dari Robert Koch-Institut (RKI) — lembaga yang di Jerman berfungsi seperti gabungan antara BPOM dan Kemenkes dalam urusan surveilans penyakit — mulai ramai dibicarakan oleh media Jerman, termasuk tempat tinggal saya saat ini di Munich. Sebuah kapal pesiar kecil, MV Hondius, berlayar dari ujung selatan Argentina dan membawa wabah Hantavirus yang akhirnya menewaskan tiga penumpang, termasuk seorang warga Jerman.

Saat berita ini beredar di media sosial Indonesia, yang muncul di kolom komentar sebagian besar adalah dua simpul ekstrem kepanikan yang menyamakan ini dengan awal pandemi COVID-19, atau sebaliknya, gelak tawa dan meme. Hal ini juga terjadi di Jerman. Akun-akun Homeless Media juga bernada sama. Keduanya tidak membantu. Sebagai orang yang tinggal di Jerman dan mengikuti respons ilmiah serta kebijakan kesehatan publik di sini dari dekat, saya ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi — dan mengapa kasusnya lebih bernuansa daripada yang terlihat di headline media akhir-akhir ini.

Hantavirus itu bukan satu virus

Ini mungkin sumber kebingungan terbesar. “Hantavirus” bukan nama satu jenis virus — ini adalah nama keluarga besar virus (famili Hantaviridae) yang mencakup puluhan spesies berbeda, dengan profil bahaya yang sangat beragam.

Di Jerman, Hantavirus sebenarnya bukan hal asing. Menurut data RKI, antara 2001 dan 2024, puluhan ribu kasus Hantavirus dilaporkan di negara ini — dan hampir seluruhnya selamat. Jenis yang beredar di sini, terutama Puumala virus yang dibawa tikus ladang (Rötelmaus), umumnya menyebabkan gangguan ginjal yang bisa ditangani dan jarang fatal. Pada 2024 saja, 423 orang dilaporkan terinfeksi, semua bertahan hidup.

Namun, kasus wabah yang terjadi di MV Hondius berbeda. Virus yang diidentifikasi adalah Andes-Hantavirus — spesies yang hanya ada di Amerika Selatan, khususnya di Argentina dan Chili. Perbedaannya bukan hanya soal asal geografis. Andes-Hantavirus menyerang paru-paru, bukan ginjal, dan dapat menyebabkan sindrom pernapasan akut yang memburuk dengan sangat cepat. Angka kematian pada beberapa wabah yang terdokumentasi mencapai 30–40 persen dari kasus terkonfirmasi — jauh lebih tinggi dari varian yang beredar di Eropa.

Apa yang terjadi di atas kapal MV Hondius?

Kapal MV Hondius bertolak dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April 2026, membawa sekitar 140–150 penumpang, kru, dan peneliti dari 23 negara — termasuk beberapa warga Jerman. Sekitar 11 April, seorang penumpang Belanda berusia 70 tahun meninggal di atas kapal. Istrinya, 69 tahun, kemudian meninggal di rumah sakit Johannesburg saat transit. Seorang perempuan warga Jerman meninggal di atas kapal.

Per awal Mei, WHO mengonfirmasi enam kasus terkonfirmasi laboratorium dan dua kasus suspek. Dari delapan orang itu, tiga meninggal — angka kematian kasusnya, pada titik ini, mencapai sekitar 37 persen.

Kapal akhirnya berlabuh di Tenerife, Spanyol, setelah sempat ditolak di berbagai pelabuhan. Di sana, proses evakuasi berlangsung ketat: penumpang dibawa ke darat dalam kelompok kecil, disemprot disinfektan, dan diterbangkan ke negara asal masing-masing. Empat warga Jerman yang tersisa mendarat di Belanda, lalu dibawa ke Frankfurt untuk pemeriksaan medis, sebelum menjalani karantina di masing-masing negara bagian.

Mengapa Jerman sangat serius merespons ini?

Yang menarik bagi saya sebagai pengamat adalah soal kecepatan dan keketatan respons institusional Jerman. RKI mengaktifkan STAKOB — jaringan nasional pusat kompetensi untuk patogen sangat berbahaya, semacam satuan khusus epidemiologi klinis yang biasanya hanya aktif untuk kasus seperti Ebola atau SARS. Mereka juga mengeluarkan Handreichung (panduan teknis) khusus untuk seluruh kantor kesehatan (Gesundheitsamt) di Jerman: kontak erat dengan kasus terkonfirmasi harus menjalani karantina selama enam minggu, bahkan jika tidak bergejala, dan hasil tes negatif saja tidak cukup untuk mengakhiri karantina.

Mengapa seketat itu? Ada satu fakta ilmiah yang menjadi kuncinya: Andes-Hantavirus adalah satu-satunya spesies Hantavirus yang terdokumentasi dapat menular dari manusia ke manusia. Semua Hantavirus lain, termasuk yang ada di Jerman, hanya menular dari tikus ke manusia — bukan antar-manusia. Andes-Hantavirus berbeda. Penularan antar-manusia ini terutama terjadi pada kontak erat dan berkepanjangan, seperti pasangan serumah atau satu kabin kapal. Tapi kata “terutama” bukan berarti “selalu demikian” — dan ketidakpastian inilah yang mendorong kehati-hatian. Direktur WHO untuk Kesiapsiagaan Pandemi, Dr. Maria Van Kerkhove, menyatakan para penyidik wabah berasumsi penularan dapat terjadi melalui kontak sangat erat, seperti yang terjadi pada pasangan suami-istri di atas kapal.

Lalu, seberapa besar risiko untuk kita?

ECDC (Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa) pada 6 Mei 2026 menerbitkan penilaian risiko yang cukup tegas: risiko bagi masyarakat umum di EU/EEA dari wabah ini sangat rendah. Alasannya, bahkan jika terjadi penularan lebih lanjut dari penumpang yang dievakuasi, virus ini tidak mudah menyebar dalam rantai panjang — tidak seperti influenza atau COVID-19 yang dapat menyebar secara eksponensial.

Untuk warga Indonesia yang tidak pernah menginjakkan kaki di Amerika Selatan atau berinteraksi dengan orang yang baru pulang dari ekspedisi Patagonia, risiko praktisnya mendekati nol. Namun, ada catatan penting: “sangat rendah” bukan “tidak ada.” Kondisi ini terus dipantau. Satu kontak asimptomatik sudah tiba di Düsseldorf dan sedang dimonitor ketat oleh otoritas kesehatan setempat.

Yang perlu diperhatikan Indonesia

Sebagai orang yang bergerak di antara dua konteks — sistem kesehatan Jerman yang terstruktur ketat dan realitas Indonesia yang berbeda — ada satu hal yang ingin saya sampaikan ke pembaca di tanah air.

Wabah ini bukan tentang Hantavirus menjadi pandemi baru. Ini tentang bagaimana sebuah patogen yang selama ini tidak pernah “terbang” jauh dari ekosistem aslinya di Amerika Selatan, kini terbawa oleh mobilitas wisatawan global ke jalur pelayaran internasional. Ini adalah pengingat bahwa zoonosis — penyakit yang melompat dari hewan ke manusia — tidak mengenal batas geografis begitu manusianya bergerak.

Indonesia, dengan kekayaan satwa liar dan kontak manusia-hewan yang tinggi di berbagai daerah, memiliki kepentingan tersendiri untuk terus memperhatikan dinamika seperti ini — bukan karena Andes-Hantavirus mengancam Indonesia secara langsung, tetapi karena prinsip-prinsip yang sama berlaku untuk patogen zoonosis lain yang mungkin lebih dekat daripada yang kita kira.

Leave a Comment Here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.