Laporan Forensic Scientometrics (FoSci) 2026 memberikan kerangka kerja bagi penerbit, lembaga, pemberi dana, dan pembuat kebijakan untuk memperkuat integritas penelitian serta memulihkan kepercayaan terhadap sains.
Pada tahun 2022, Anna Abalkina, seorang peneliti di Freie Universität Berlin, menemukan sesuatu yang tidak biasa ketika memeriksa alamat email para penulis di Journal of Community Psychology, sebuah jurnal arus utama yang terkemuka. Enam artikel mencantumkan alamat email dari domain tanu.pro — domain institusi palsu yang tidak memiliki afiliasi akademis sah di baliknya. Ketika ia dan Dorothy Bishop dari Universitas Oxford menelaah artikel-artikel tersebut, mereka menemukan konten yang gagal menggambarkan studi yang diklaim secara koheren: argumen-argumen lemah yang disambungkan secara longgar ke referensi di berbagai bagian, kesalahan tata bahasa yang berulang, dan — dalam lima dari enam kasus — bukti tidak langsung bahwa proses tinjauan sejawat telah dimanipulasi.
Makalah-makalah itu ditempatkan oleh perusahaan perantara yang menjual slot kepengarangan kepada penulis, menyediakan saran peninjau palsu kepada jurnal, dan menjamin publikasi di muka. Jaminan semacam itu tidak mungkin ditawarkan oleh proses editorial yang sah, karena keputusan penerimaan seharusnya mengikuti — bukan mendahului — tinjauan sejawat. Ketika cakupan penuh operasi tanu.pro berhasil didokumentasikan, angkanya mencengangkan: 1.517 makalah yang diterbitkan di 380 jurnal antara 2017 dan 2025 terhubung ke domain email palsu yang sama. Para penulisnya melibatkan lebih dari 4.500 akademisi di 46 negara dan lebih dari 460 universitas — termasuk, secara tidak proporsional, profesor dan kepala departemen yang jabatan institusionalnya memberi kredibilitas pada setiap pengajuan naskah.
Kasus di atas bukan pengecualian. Laporan Forensic Scientometrics (FoSci) 2026, yang dihasilkan oleh konsorsium penyelidik integritas penelitian lintas negara dan disiplin ilmu, mendokumentasikan apa yang selama ini hanya dicurigai secara diam-diam oleh banyak ilmuwan: infrastruktur penerbitan akademik telah menjadi sistem yang dapat dimanipulasi, dieksploitasi, dan dikorupsi secara massal — sementara mekanisme yang dirancang untuk mencegahnya gagal mengimbangi kecanggihan dan volume manipulasi tersebut.
Laporan FoSci 2026 disusun sebagai kerangka kerja untuk audit sistematis. Temuan-temuannya menuntut respons yang lebih dari sekadar keprihatinan institusional — dan lebih dari sekadar menyalahkan individu atas masalah yang sejatinya bersifat struktural.
Penerbitan akademik beroperasi di atas kepercayaan, dan kepercayaan itu kini semakin sering dieksploitasi dengan efisiensi yang terus meningkat.
Paper mill — pabrik makalah — adalah organisasi yang menjual slot kepengarangan dan menjamin penempatan di jurnal. Mereka menghasilkan jutaan dolar setiap tahun dengan mengeksploitasi celah antara pengawasan editorial dan volume naskah yang harus diproses oleh sistem penerbitan modern.
“Pabrik peninjau” menyediakan penelaah sejawat yang menulis laporan baku — dirancang utamanya untuk menyelundupkan permintaan kutipan paksa (coercive citation) yang mendongkrak metrik penulis yang berafiliasi dengan mereka. Jurnal jiplakan meniru publikasi sah, lengkap dengan ISSN dan metadata yang cocok, untuk memungut biaya pemrosesan artikel dari peneliti yang tidak sadar bahwa mereka membayar untuk terbit di volume palsu. Kartel kutipan — jaringan peneliti dan institusi yang saling mengutip satu sama lain secara terkoordinasi — merusak metrik yang selama ini diandalkan oleh komite rekrutmen, lembaga pendanaan, dan pembuat kebijakan sebagai penanda kualitas ilmiah.
Para investigator FoSci menegaskan bahwa tidak ada dari praktik-praktik ini yang secara hukum ilegal, setidaknya hingga saat ini. Para pelakunya tidak melanggar undang-undang, meskipun mereka melanggar prinsip kepercayaan. Dalam konteks ini, kepercayaan tidak memiliki mekanisme penegakannya sendiri. Kasus-kasus seperti ini akan sangat sulit dibawa ke ranah hukum — dan itulah mengapa ke depan, persoalan ini perlu mulai dikonstruksi sebagai subjek kajian hukum tersendiri.
Mudah Sekali Menyalahkan Jargon “Publish-or-Perish“
Struktur insentif publish-or-perish adalah musuh yang paling mudah disalahkan dalam cerita ini — dan bukan tanpa alasan. Namun mengaitkan masalah ini semata-mata dengan tekanan individual melewatkan sesuatu yang lebih mendasar tentang logika pasar yang menopang mengapa manipulasi ini terus berlangsung.
Paper mill tidak akan eksis dalam skala besar tanpa permintaan yang terus-menerus. Dan permintaan itu ada karena prestise jurnal memberikan keuntungan nyata dalam promosi jabatan, permohonan hibah, dan sistem peringkat universitas nasional yang digunakan pemerintah untuk mengalokasikan dana penelitian.
Laporan FoSci menyoroti kelemahan mendasar ini. Persoalan peringkat universitas internasional yang mengutamakan kuantitas di atas kualitas, dengan beberapa sistem bahkan secara eksplisit memasukkan kutipan diri (self-citation) sebagai ukuran mutu penelitian yang menciptakan insentif langsung untuk memanipulasi metrik, persis seperti yang didokumentasikan dalam laporan tersebut.
“Pabrik” artikel tidak akan ada dalam skala besar jika tidak ada permintaan yang berkelanjutan terhadap layanan mereka, dan permintaan tersebut ada karena prestise jurnal.

Laporan FoSci 2026 mengorganisir analisisnya melalui tiga tingkatan investigasi:
Mikro — makalah individual dan anomali yang terdeteksi di dalamnya. Meso — jaringan dan aktor terkoordinasi yang beroperasi melintasi jurnal dan institusi. Makro — kondisi sistemik yang lebih luas: insentif peringkat, eksploitasi akses terbuka, dan campur tangan geopolitik yang memberi “rasionalitas” bagi manipulasi di tingkat individual.
Model Kematangan FoSci 2026 menilai setiap tingkatan berdasarkan tiga hal: seberapa luas pengetahuan tentang topik tersebut, berapa banyak orang yang terlibat dalam upaya deteksi, serta sejauh mana metode deteksi dan pencegahan telah tersedia.
Di tingkat mikro, alat deteksi sebenarnya sudah ada dan terus berkembang: penggunaan frasa mencurigakan hingga kutipan paksa dapat diidentifikasi melalui penyaringan otomatis. Ketidakkonsistenan statistik terdeteksi melalui metode seperti analisis GRIM. Duplikasi gambar ditandai oleh alat seperti Image-Twins atau forum telaah pascapublikasi seperti PubPeer.
Masalahnya bukan pada ketiadaan alat deteksi. Masalahnya adalah bahwa deteksi di level individual jarang berujung pada koreksi — dan ketika koreksi terjadi, jarang yang berujung pada pencabutan artikel. Penarikan artikel lebih sering diinisiasi oleh editor jurnal daripada sistem deteksi itu sendiri.
“Fraud Laundering” hingga “Stealth Correction”: Penerbit Jurnal Ilmiah Pun Ikut Menyumbang Masalah
Ada bagian dalam laporan FoSci yang tidak nyaman bagi penerbit.
Laporan itu mendokumentasikan apa yang disebutnya fraud laundering — pencucian kecurangan: kasus-kasus di mana jurnal menerbitkan koreksi formal terhadap artikel meskipun bukti pemalsuan sudah jelas. Langkah ini secara efektif mengukuhkan pelanggaran etika ke dalam catatan ilmiah — sekaligus mengekspos para penyelidik yang mengidentifikasinya pada risiko reputasi dan hukum.
Laporan ini juga mendokumentasikan apa yang disebut stealth correction — koreksi tersembunyi: perubahan pascapublikasi yang dilakukan tanpa pemberitahuan atau notifikasi, yang dirancang untuk menyelesaikan masalah integritas secara diam-diam padahal seharusnya memicu pencabutan penuh. Hingga saat ini, 131 kasus semacam itu telah teridentifikasi — dan prevalensi sesungguhnya masih belum diketahui.
Penerbit, menurut laporan FoSci, sering berposisi sebagai garis pertahanan terakhir dalam sistem yang memang tidak pernah dirancang untuk menahan tekanan seperti ini. Dan sebagian dari mereka tidak mempertahankan garis itu dengan keyakinan yang memadai.
Penerbit Tidak Bisa Bekerja Sendirian
Ada argumen yang masuk akal dari sisi penerbit: mereka tidak dapat secara realistis diharapkan untuk menyaring setiap naskah di tengah volume pengiriman yang terus membengkak — apalagi dalam era kecerdasan buatan generatif yang mampu menghasilkan naskah yang secara sintaksis “masuk akal” dengan biaya sangat rendah dan dalam jumlah yang melampaui kapasitas tinjauan manual mana pun.
Laporan FoSci mendokumentasikan bahwa lebih dari lima puluh makalah di NeurIPS 2025 — konferensi machine learning bergengsi dengan tingkat penerimaan 24,5 persen dan beberapa putaran tinjauan ahli — mengandung kutipan yang dihalusinasi dan penulis fiktif. Temuan ini menunjukkan bahwa persoalan volume pengiriman naskah meluas jauh melampaui jurnal predator, hingga ke venue paling selektif di bidangnya.
Sementara itu, eksploitasi dataset akses terbuka telah melahirkan bentuk produksi massal berkualitas rendah. Publikasi yang menganalisis basis data NHANES saja melonjak lebih dari dua kali lipat antara 2023 dan 2025 — dari 2.805 menjadi 7.883 — dengan banyak di antaranya melaporkan hubungan sederhana tanpa mengoreksi uji berulang dan tanpa memperhitungkan sifat multifaktorial dari hasil yang diteliti.
Keterbatasan ini nyata, dan laporan FoSci tidak menyangkalnya. Yang tidak diterima adalah bahwa keterbatasan tersebut membenarkan: memprioritaskan volume publikasi di atas akuntabilitas, memilih koreksi di saat pencabutan artikel yang dibenarkan, atau menjadikan ancaman hukum dari penulis yang berkeberatan sebagai alasan untuk berdiam diri.
Beberapa solusi yang diusulkan dalam laporan ini sebenarnya sederhana secara teknis dan sudah diterapkan di sebagian jurnal: pendaftaran wajib hipotesis penelitian sebelum pengumpulan data akan menyulitkan pembuatan templat naskah dari dataset terbuka yang sudah ada. Tinjauan sejawat terbuka — dengan identitas dan laporan peninjau yang dapat diakses publik — akan membuat operasi pabrik peninjau terlihat secara langsung. Persyaratan data tingkat peserta individual pada saat pengajuan akan mengungkap dataset palsu sebelum masuk ke dalam literatur.
Eksploitasi dataset akses terbuka telah menghasilkan bentuk produksi massal berkualitas rendah. Publikasi yang menganalisis basis data NHANES saja lebih dari dua kali lipat antara 2023 dan 2025, dari 2.805 menjadi 7.883, dengan banyak di antaranya melaporkan hubungan sederhana tanpa mengoreksi uji berulang dan tanpa memperhitungkan sifat multifaktorial dari hasil yang diteliti.
Ekonomi-Politik Peringkat: Perlombaan Kampus Menyumbang Kebobrokan Sistem
Yang secara struktural paling sulit diatasi adalah hubungan antara sistem peringkat universitas dan pasar yang menopang industri paper mills.
Laporan FoSci 2026 sangat tegas mengenai ini: peringkat internasional bukan sekadar latar belakang kontekstual — peringkat itu adalah akar penyebab meledaknya pelanggaran etika, karena menciptakan insentif finansial langsung untuk mengejar volume publikasi.
Selama publikasi di jurnal terindeks bergengsi berarti keuntungan dalam rekrutmen, keputusan promosi, dan — dalam beberapa sistem nasional — imbalan uang langsung bagi peneliti individu, permintaan terhadap layanan paper millsakan terus ada. Bukan karena para pelakunya kekurangan informasi, melainkan karena struktur imbalan institusional mereka memang dirancang demikian.
Beberapa negara dengan industri paper mills paling aktif justru adalah negara-negara di mana pemerintah membangun sistem evaluasi penelitian nasional berbasis jumlah publikasi dan kutipan mentah. Hubungan antara insentif peringkat dan pelanggaran etika, menurut FoSci, bukan sekadar korelasi — ini kausalitas.
Dimensi geopolitik memperparah situasi ini dengan cara yang laporan FoSci nilai sebagai berbeda secara struktural dari pelanggaran etika individual. Manipulasi afiliasi — di mana peneliti yang sering dikutip mencantumkan suatu institusi sebagai afiliasi utama meskipun hanya memiliki hubungan simbolis dengannya — tidak berfungsi sebagai strategi karier pribadi. Ia berfungsi sebagai mekanisme transfer modal kutipan melintasi batas negara demi kepentingan peringkat universitas. Yang dimanipulasi bukan karya peneliti tersebut, melainkan alamat institusionalnya. Dan yang diuntungkan bukan si peneliti, melainkan negara yang peringkatnya naik sebagai hasil dari kutipan yang berpindah itu.
Skala logika ini diilustrasikan oleh kasus Université Paris-Saclay, di mana pemerintah Prancis menginvestasikan 9 miliar dolar untuk menggabungkan institusi-institusi kecil menjadi satu universitas raksasa — yang kemudian melompat ke peringkat ke-14 dalam Shanghai Ranking. Tidak ada kecurangan penelitian yang terlibat di sini. Tapi kasus ini menunjukkan betapa kuatnya insentif yang diciptakan oleh sistem peringkat: cukup kuat untuk merombak infrastruktur penelitian nasional, mengalihkan miliaran dana publik bukan menuju ilmu pengetahuan yang lebih baik, melainkan menuju skor yang lebih tinggi pada metrik yang tidak pernah dirancang untuk dioptimalkan pada skala ini.
Ketika logika yang sama diterapkan melalui manipulasi afiliasi alih-alih penggabungan institusi, mekanismenya berbeda — tapi insentif dasarnya sama. Sistem peringkat menghargai volume kutipan yang terkonsentrasi, dan para pelaku di setiap tingkatan — peneliti individual, universitas, hingga pemerintah — telah belajar menghasilkan volume itu, terlepas dari apakah ia mencerminkan komunitas akademik yang sejati.
Rekomendasi laporan FoSci 2026 agar peringkat berbasis metrik publikasi dangkal digantikan oleh penilaian yang menghargai integritas penelitian adalah gagasan yang koheren secara teknis dan dapat dipertahankan secara intelektual. Namun ia akan menemui perlawanan dari setiap institusi yang telah membangun reputasi internasionalnya di atas metrik-metrik tersebut — karena mengadopsi evaluasi berbasis integritas berarti mengakui secara publik bahwa metrik yang selama ini membenarkan reputasi itu dapat dimanipulasi, dan dalam kasus-kasus yang terdokumentasi, memang telah dimanipulasi. Ini bukan semata persoalan teknis. Ini persoalan ekonomi-politik.
Semua level — dari mikro, meso, hingga makro — telah dijabarkan dengan jelas oleh tim investigator FoSci 2026. Pertanyaan yang tersisa bukan lagi apakah masalahnya nyata. Pertanyaannya adalah seberapa besar political will para pengambil kebijakan — yang kebanyakan sudah lama mencium persoalan ini — untuk benar-benar membongkarnya.
Ini mungkin yang diungkapkan kebanyakan orang: mudah tapi sulit.
