person holding a black game controller

Manipulasi Sains Tidak Hanya Soal Ilmuwan Curang

Photo by Tima Miroshnichenko on Pexels.com

Beberapa bulan lalu di blog ini, saya mengulas bagaimana sains dimanipulasi, mulai dari maraknya paper mill, manipulasi sitasi, jurnal predator, hingga berbagai rekayasa yang membuat publikasi ilmiah tampak jauh lebih produktif dan berpengaruh daripada kenyataan sebenarnya. Laporan Forensic Scientometric (FoSci) tahun 2026 membagi praktik kecurangan ini ke dalam tiga tingkatan mikro, meso, dan makro. Namun, manipulasi ini terus terjadi.

Lewat artikel-artikel di ScienceWatchdog.id ini, saya merasa tidak lagi cukup jika kita hanya berfokus pada level mikro yang sekadar membongkar kasus-kasus individu. Perilaku culas perorangan memang bagian dari masalah, tetapi di tengah derasnya ekosistem “publish or perish” yang terus dirawat di Indonesia, menindak individu ibarat sibuk menutup keran di rumah warga tanpa pernah menyentuh pipa utama di perusahaan air minumnya yang beracun. Mengapa ekosistem ini terus memberi ruang bagi praktik kecurangan untuk tumbuh subur?

Melengkapi argumen strukturalis dan sistemik, Lutz Bornmann dan António Osório menawarkan cara yang cukup unik untuk melihat persoalan tersebut. Mereka menggunakan perspektif game theory untuk memahami perilaku “strategis” dalam ilmu pengetahuan. Dalam perspektif ini, peneliti tidak dipandang sebagai aktor yang membuat keputusan secara terpisah dari lingkungannya. Layaknya sebuah permainan, keputusan mereka dipengaruhi oleh aturan, sumber daya yang tersedia, tindakan aktor lain, serta imbalan yang mungkin diperoleh dari setiap pilihan. Dengan argumen ini, perilaku yang selama ini kita anggap sebagai penyimpangan individual dapat dibaca sebagai respons terhadap struktur insentif yang mengatur kehidupan akademik.

Kita biasanya membicarakan integritas ilmiah dalam bahasa moral: peneliti harus jujur, tidak boleh memalsukan data, tidak boleh melakukan plagiarisme, tidak boleh memanipulasi sitasi, dan harus memberikan kredit yang layak kepada orang lain. Semua prinsip tersebut tentu penting. Namun, jika kita hanya berhenti pada moralitas individu, kita dapat kehilangan pertanyaan mengenai kondisi struktural yang membuat perilaku tertentu lebih menguntungkan daripada perilaku lainnya. Bornmann dan Osório justru berangkat dari persoalan tersebut. Mereka berargumen bahwa banyak distorsi dalam praktik ilmiah tidak semata-mata merupakan kegagalan etis individual, melainkan dapat menjadi adaptasi “strategis” terhadap sistem insentif yang tidak selaras dengan tujuan ilmu pengetahuan.

Soal Permainan Metrik

Ilmu pengetahuan modern pada dasarnya adalah sebuah sistem kompetisi. Peneliti berkompetisi untuk memperoleh hibah, posisi akademik, publikasi di jurnal bergengsi, sitasi, reputasi, dan pengakuan. Saat sumber daya yang diperebutkan terbatas, sementara jumlah orang yang menginginkannya jauh lebih besar, maka muncul apa yang sering disebut sebagai hypercompetitive. Kompetisi pendanaan merupakan contoh yang paling mudah dilihat. Peneliti menghabiskan waktu, tenaga, dan sumber daya untuk menyusun proposal, tetapi hanya sebagian yang memperoleh pendanaan. Mereka yang gagal tidak hanya kehilangan kesempatan untuk mendapatkan uang penelitian, tetapi juga kehilangan investasi yang sudah mereka keluarkan untuk mengikuti kompetisi tersebut. Bornmann dan Osório menggambarkan kondisi ini sebagai semacam all-pay auction, yaitu semua peserta membayar biaya untuk mengikuti permainan, tetapi hanya sebagian yang memperoleh imbalan.

Logika yang sama muncul dalam publikasi ilmiah. Publikasi di jurnal bergengsi dapat membawa pengakuan, sitasi, dan keuntungan karier. Karena itu, peneliti memiliki insentif kuat untuk mengejar jurnal-jurnal tersebut. Tetapi ketika tingkat penerimaan jurnal sangat rendah, sebagian besar usaha yang dilakukan oleh peneliti berakhir tanpa imbalan. Dalam kondisi tertentu, kompetisi semacam ini bahkan dapat menghasilkan efek yang berlawanan dengan tujuan awalnya. Peneliti yang merasa peluangnya terlalu kecil dibandingkan dengan peneliti dari institusi atau kelompok yang sudah memiliki reputasi tinggi dapat memilih untuk tidak berkompetisi sama sekali. Kompetisi kemudian menjadi semakin terkonsentrasi pada mereka yang sejak awal sudah memiliki sumber daya dan keuntungan lebih besar.

Layaknya sebuah permainan, keputusan mereka dipengaruhi oleh aturan, sumber daya yang tersedia, tindakan aktor lain, serta imbalan yang mungkin diperoleh dari setiap pilihan.

Persoalannya lebih lanjut ketika kompetisi berubah menjadi apa yang disebut Bornmann dan Osório sebagai lingkungan yang hiperkompetitif. Dalam keadaan seperti ini, peneliti tidak lagi hanya berusaha menghasilkan penelitian yang baik. Mereka juga harus terus memikirkan bagaimana penelitian tersebut akan dinilai oleh sistem. Jumlah publikasi, jurnal tempat publikasi, jumlah sitasi, dan indikator kinerja lainnya menjadi sasaran yang harus dioptimalkan. Dengan kata lain, aktivitas penelitian dapat berubah menjadi permainan untuk memaksimalkan metrik.

Di sinilah persoalan yang saya tulis sebelumnya tentang manipulasi sains menjadi lebih mudah dipahami. Ketika publikasi menjadi mata uang utama dalam perkembangan karier akademik, permintaan terhadap publikasi akan selalu ada. Dan ketika permintaan tersebut sangat tinggi, muncul insentif bagi sebagian aktor untuk mencari jalan yang lebih cepat, lebih murah, atau lebih mudah untuk memperoleh publikasi. Paper mill kemudian tidak lagi terlihat sebagai fenomena yang berdiri sendiri. Ia dapat dipahami sebagai salah satu bentuk respons terhadap sebuah sistem yang memberikan nilai tinggi kepada jumlah dan keberadaan publikasi.

Hal yang sama dapat terjadi pada sitasi. Jika sitasi digunakan sebagai indikator pengaruh ilmiah, maka meningkatkan jumlah sitasi dapat menjadi tujuan “strategis”. Tekanan publikasi dapat mendorong praktik seperti penambahan sitasi yang tidak diperlukan dan honorary authorship. Sitasi dengan model seperti ini mempunyai kecenderungan mengutip artikel ulasan dari jurnal bergengsi alih-alih sumber primer, karena “strategi” tersebut dapat membuat daftar referensi terlihat lebih prestisius sekaligus mengurangi kebutuhan untuk menelusuri literatur secara mendalam.

Yang menarik, distorsi tersebut tidak selalu membutuhkan seseorang yang secara sadar memutuskan untuk “menjadi jahat”. Argumen penguat lainnya datang dari Smaldino dan McElreath yang menunjukkan bagaimana sistem yang memberikan penghargaan terhadap tingkat publikasi dan prestise dapat menghasilkan tekanan menuju produksi penelitian yang lebih mudah dipublikasikan, sementara ketelitian metodologis dapat terpinggirkan.

Higginson dan Munafò bahkan menggunakan model matematis untuk menunjukkan bahwa dalam struktur insentif tertentu, strategi yang menguntungkan karier dapat berupa membagi sumber daya ke banyak penelitian kecil daripada menggunakannya untuk penelitian yang lebih sedikit tetapi lebih kuat. Hasilnya adalah sistem yang dapat menghasilkan lebih banyak publikasi sekaligus meningkatkan risiko penelitian yang lemah atau sulit direplikasi.

Mengubah Aturan, Bukan Hanya Menghukum Pemain

Mengatakan bahwa sistem menghasilkan insentif tertentu bukan berarti semua peneliti akan mengikutinya. Game theory tidak memprediksi bahwa semua ilmuwan akan berbuat curang, tetapi membantu menjelaskan mengapa struktur tertentu dapat meningkatkan peluang munculnya perilaku strategis.

Logika yang sama berlaku dalam kolaborasi ilmiah. Ketika penelitian semakin bergantung pada tim besar, pertanyaan tentang siapa yang mendapatkan kredit menjadi penting. Posisi kepengarangan membawa konsekuensi terhadap pengakuan dan karier, sehingga kepengarangan dapat menjadi arena permainan strategis. Ketimpangan distribusi kredit, karena itu, tidak hanya merupakan persoalan etika, tetapi juga berkaitan dengan desain sistem penghargaan.

Peer review menghadapi persoalan serupa. Reviewer menyediakan kerja yang penting bagi kualitas ilmu pengetahuan, tetapi umumnya tanpa imbalan finansial langsung. Dalam Public Goods Game, sistem ini bergantung pada kesediaan individu untuk menanggung biaya pribadi demi kepentingan kolektif. Anonimitas juga dapat menciptakan peluang bagi perilaku oportunistik, terutama ketika reviewer memiliki kepentingan terhadap hasil evaluasi. Transparansi peer review dapat menjadi salah satu mekanisme untuk meningkatkan akuntabilitas.

Lalu, apakah semua metrik harus dihapus? Tidak.

Metrik dan reputasi jurnal tetap memiliki fungsi sebagai mekanisme insentif. Namun, penggunaannya harus dirancang dan digunakan dengan tepat. Jika jumlah publikasi, sitasi, dan prestise jurnal menjadi sasaran utama, peneliti memiliki insentif untuk mengoptimalkan indikator tersebut, bahkan ketika “strategi” itu tidak selalu sejalan dengan kualitas penelitian.

Karena itu, integritas ilmiah tidak cukup dijaga melalui seruan agar peneliti lebih jujur. Perubahan pada aturan permainan (kebijakan evaluasi kinerja) melalui desain mekanisme kinerja harus menciptakan insentif yang lebih selaras dengan tujuan ilmu pengetahuan, termasuk mengaitkan penghargaan dengan transparansi, keterbukaan data, kode, dan protokol penelitian yang mendorong praktik sains yang baik (good science).

Gagasan ini memperluas tulisan saya sebelumnya tentang manipulasi sains. Paper mill, kartel sitasi, dan jurnal predator bukan hanya persoalan individu yang tidak jujur. Kita juga perlu bertanya mengapa sistem menciptakan permintaan terhadap produk-produk tersebut dan siapa yang memperoleh keuntungan dari aturan yang berlaku. Pendeknya, pertanyaannya dapat diubah menjadi “Kebijakan seperti apa yang membuat kecurangan menjadi strategi yang menguntungkan?” Sains membutuhkan ilmuwan yang berintegritas. Tetapi integritas individual akan selalu berhadapan dengan struktur insentif. Jika sistem terus memberikan penghargaan terbesar kepada kemampuan memainkan metrik, maka mengubah perilaku mungkin tidak cukup.

Tabik.

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Discover more from Science Watchdog.id

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading