IDSCL: Mengapa seorang profesor pun belum tentu cakap berkomunikasi di lingkungan publik digital?


Laman ini adalah bagian dari materi khusus tentang Komunikasi Sains yang dibuat untuk arsip IDSCL (Indonesian Science Communication Lab).

Jika seorang profesor ilmu kesehatan masyarakat yang telah menerbitkan puluhan artikel di jurnal bereputasi. Ia memahami epidemiologi. Suatu hari ia menulis utas panjang di X (dulu Twitter) tentang temuan risetnya. Reaksi publik: kebingungan, salah tafsir, bahkan serangan personal. Apa yang salah? Jawabannya bukan soal kebenaran isi pesannya, melainkan soal cara pesan itu bertemu dengan arsitektur ruang digital yang bekerja dengan logika yang sama sekali berbeda dari ruang akademik.

Fenomena ini mencerminkan pola yang dapat dijelaskan oleh setidaknya empat mekanisme yang telah diteliti secara sistematis: bias kognitif yang melekat pada keahlian itu sendiri, ketergantungan pada model komunikasi satu arah, runtuhnya batas antara panggung depan dan panggung belakang, serta keruntuhan konteks yang menjadi ciri khas platform digital.

Kutukan Pengetahuan

Mekanisme pertama bersifat kognitif. Para ekonom Colin Camerer, George Loewenstein, dan Martin Weber pada 1989 memperkenalkan istilah “curse of knowledge” untuk menjelaskan fenomena di mana seseorang yang menguasai suatu topik secara sistematis melebih-lebihkan pemahaman orang lain terhadap topik yang sama. Begitu seseorang memahami sesuatu secara mendalam, ia kehilangan kemampuan untuk membayangkan bagaimana rasanya tidak memahami hal tersebut. Seorang musisi tidak lagi secara sadar mengingat teori musik saat bermain. Seorang epidemiolog tidak lagi memikirkan definisi dasar odds ratio saat menulis analisis.

Bias ini memiliki konsekuensi konkret dalam komunikasi publik. Miro Kazakoff dari MIT Sloan mengamati bahwa pakar di suatu bidang sering menjadi komunikator yang lebih buruk di bidang mereka sendiri dibanding non-pakar, karena mereka tidak bisa “melepaskan” pengetahuan yang sudah terotomasi dalam cara berpikir mereka. Jargon yang terasa alami bagi profesor, seperti “signifikansi statistis” atau “interval kepercayaan,” bisa terdengar seperti bahasa asing bagi publik awam. Dan yang membuat bias ini sulit diatasi: riset menunjukkan bahwa sekadar memberitahu seseorang tentang bias ini, atau meminta mereka membayangkan perspektif orang lain, tidak cukup mengurangi efeknya.

Jebakan Model Defisit

Mekanisme kedua bersifat institusional. Simis dan kolega (2016) dalam esai mereka di jurnal Public Understanding of Science mengajukan pertanyaan provokatif: mengapa model defisit terus bertahan dalam komunikasi sains, padahal riset empiris sudah lama menunjukkan bahwa pendekatan ini tidak efektif?

Model defisit adalah asumsi bahwa jika publik menolak atau tidak memahami sains, penyebab utamanya adalah kekurangan pengetahuan, sehingga solusinya adalah memberikan lebih banyak informasi. Simis dan kolega mengidentifikasi empat penyebab keberlangsungan model ini. Pertama, pelatihan ilmiah menanamkan keyakinan bahwa audiens memproses informasi secara rasional. Kedua, program pendidikan pascasarjana di bidang sains umumnya tidak menyediakan pelatihan formal dalam komunikasi publik. Ketiga, ilmuwan yang memiliki sikap kurang positif terhadap ilmu sosial cenderung lebih terpaku pada model defisit. Keempat, model ini mudah diterjemahkan ke dalam desain kebijakan karena menyediakan solusi yang tampak sederhana: berikan lebih banyak informasi.

Implikasi praktisnya langsung terasa di media sosial. Ketika seorang profesor menghadapi perdebatan publik tentang vaksinasi atau perubahan iklim, respons instingtifnya sering berupa penjelasan panjang yang sarat data, mengasumsikan bahwa penolakan publik berakar pada ketidaktahuan. Padahal riset menunjukkan bahwa sikap publik terhadap sains dibentuk oleh jaringan kompleks yang melibatkan kepercayaan terhadap institusi, nilai personal, pengalaman hidup, dan dinamika sosial, bukan semata-mata oleh jumlah informasi yang diterima.

Panggung yang Tidak Punya Tirai

Mekanisme ketiga menyentuh struktur interaksi sosial itu sendiri. Sosiolog Erving Goffman dalam karyanya The Presentation of Self in Everyday Life (1959) membedakan antara “panggung depan” (front stage), tempat seseorang menampilkan diri secara sadar di hadapan audiens tertentu, dan “panggung belakang” (back stage), tempat ia bisa melepaskan peran dan bersikap lebih informal. Goffman menekankan bahwa orang bekerja keras menjaga pemisahan kedua wilayah ini. Runtuhnya batas antara panggung depan dan belakang melanggar ekspektasi audiens dan menimbulkan rasa malu atau kebingungan.

Media sosial secara struktural menghancurkan pemisahan ini. Kajian terbaru tentang teori dramaturgi Goffman di era digital menunjukkan bahwa platform seperti Instagram, TikTok, dan X mendorong visibilitas konstan, memberi imbalan melalui amplifikasi algoritmik, dan menyimpan performa dalam arsip digital yang persisten. Dalam lingkungan semacam ini, pengelolaan kesan (impression management) bukan lagi sekadar urusan agensi individual: ia semakin dibentuk oleh desain platform, logika algoritmik, dan pengawasan yang meresap.

Bagi seorang profesor, ini berarti komentar informal yang ia tulis di kolom balasan, candaan yang ia lontarkan di grup yang ia kira terbatas, atau bahkan ekspresi frustrasi yang spontan, semuanya berpotensi menjadi pertunjukan publik yang permanen. Tidak ada lagi tirai yang memisahkan ruang kuliah dari warung kopi.

Ketika Semua Audiens Menjadi Satu

Mekanisme keempat berkaitan langsung dengan arsitektur platform. Marwick dan boyd (2011) memperkenalkan konsep “context collapse” untuk menjelaskan bahwa teknologi media sosial melebur berbagai audiens ke dalam satu konteks tunggal, sehingga menyulitkan penggunanya untuk memakai teknik yang biasa dipakai dalam menangani kemajemukan audiens pada percakapan tatap muka.

Dalam kehidupan sehari-hari, seorang profesor berbicara dengan register yang berbeda kepada mahasiswa, kolega sejawat, jurnalis, dan tetangganya. Ia secara intuitif menyesuaikan tingkat formalitas, kedalaman teknis, dan bahkan humor berdasarkan siapa yang ada di hadapannya. Media sosial merampas kemampuan ini. Sebuah cuitan yang dirancang untuk kolega sesama peneliti bisa dibaca oleh mahasiswa semester satu, aktivis, politisi, dan troll secara bersamaan. Tidak ada mekanisme bawaan dalam arsitektur platform untuk membedakan audiens-audiens ini.

Konsekuensinya bersifat sistematis, bukan insidental. Pesan yang terdengar presisi dan informatif bagi sesama akademisi bisa terdengar arogan atau tidak empatik bagi publik umum. Pernyataan yang mengandung nuansa dan kualifikasi metodologis bisa dipotong menjadi kutipan viral yang kehilangan seluruh konteksnya. Profesor yang paling jujur secara epistemis, yaitu yang paling banyak menyebutkan ketidakpastian dan limitasi, justru paling rentan terhadap distorsi di lingkungan yang menghargai kepastian dan kesederhanaan.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Keempat mekanisme ini bekerja simultan, bukan bergantian. Curse of knowledge membuat profesor tidak sadar bahwa pesannya tidak terbaca oleh publik. Model defisit membuatnya yakin bahwa solusinya adalah menjelaskan lebih banyak. Runtuhnya panggung belakang membuat setiap momen informalnya berpotensi menjadi bahan krisis. Dan context collapse memastikan bahwa pesan yang ia rancang untuk satu audiens diterima oleh semua audiens secara bersamaan.

Solusinya bukan meminta profesor berhenti berkomunikasi di ruang publik digital. Kehadiran pakar di ruang publik tetap penting, terutama di era misinformasi. Langkah yang lebih realistis adalah mengakui bahwa keahlian substantif dan keahlian komunikatif adalah dua kompetensi yang berbeda, dan yang kedua memerlukan pelatihan tersendiri yang saat ini hampir tidak tersedia dalam kurikulum pendidikan pascasarjana di Indonesia maupun di banyak negara lain.

Beberapa langkah konkret yang didukung oleh literatur meliputi: pelatihan komunikasi berbasis ilmu sosial yang terintegrasi dalam program doktoral, bukan sekadar workshop satu hari; kesadaran eksplisit terhadap curse of knowledge melalui pengujian pesan pada audiens non-ahli sebelum dipublikasikan; dan yang paling mendasar, pergeseran dari model defisit ke model dialogis, di mana komunikasi sains dipahami bukan sebagai transfer informasi dari yang tahu kepada yang tidak tahu, melainkan sebagai percakapan dua arah yang menghargai pengetahuan, nilai, dan pengalaman yang dibawa publik ke dalam interaksi tersebut.

Satu hal perlu dicatat sebagai penutup. Sebagian besar riset tentang mekanisme-mekanisme di atas dilakukan dalam konteks negara berpenghasilan tinggi dengan sistem media yang relatif independen. Sejauh mana temuan ini berlaku di konteks Indonesia, di mana dinamika hubungan akademisi-publik, struktur media, dan budaya otoritas epistemis memiliki karakteristik tersendiri, masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Klaim-klaim dalam artikel ini sebaiknya diperlakukan sebagai kerangka kerja yang perlu diuji, bukan sebagai jawaban final.


Referensi

  • Camerer, C., Loewenstein, G., & Weber, M. (1989). The curse of knowledge in economic settings: An experimental analysis. Journal of Political Economy, 97(5), 1232–1254. doi:10.1086/261651
  • Goffman, E. (1959). The Presentation of Self in Everyday Life. Doubleday.
  • Marwick, A. E., & boyd, d. (2011). I tweet honestly, I tweet passionately: Twitter users, context collapse, and the imagined audience. New Media & Society, 13(1), 114–133. doi:10.1177/1461444810365313
  • Simis, M. J., Madden, H., Cacciatore, M. A., & Yeo, S. K. (2016). The lure of rationality: Why does the deficit model persist in science communication? Public Understanding of Science, 25(5), 565–580. doi:10.1177/0963662516629749

Ilham Akhsanu Ridlo adalah kandidat doktoral di Institut für Kommunikationswissenschaft und Medienforschung, LMU München, serta dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga. Risetnya berfokus pada relasi antara ilmuwan dan jurnalis dalam komunikasi sains di Indonesia.