Perbedaan Antara Jurnalisme dan Komunikasi Sains

Laman ini adalah bagian dari materi Indonesian Science Affairs Fellowship (ISAF) yang dibuat untuk arsip IDSCL (Indonesian Science Communication Lab).

TL;DR

  • Komunikasi sains (science communication) adalah payung luas bagi semua kegiatan menyampaikan sains kepada publik, sedangkan jurnalisme sains (science journalism) adalah bentuk khusus yang tunduk pada logika dan etika jurnalistik.
  • Pada tingkat profesionalisasi, jurnalisme sains memiliki sejarah institusional lebih tua (NASW berdiri pada 1934) dan klaim yurisdiksi yang lebih jelas, tetapi kini mengalami krisis ekonomi dan prekaritas. Komunikasi sains (institusional) tumbuh pesat, namun secara sosiologis masih berupa “bidang praktik yang sedang berprofesionalisasi”, bukan profesi penuh menurut kriteria klasik.
  • Batas keduanya makin kabur akibat mediatisasi sains, platformisasi, model hibrida seperti The Conversation, dominasi humas riset atas ruang redaksi yang menyusut, dan kini AI generatif. Justru karena batas itu kabur, pembedaan analitis dan normatif menjadi semakin penting untuk diajarkan.

Pembedaan antara komunikasi sains dan jurnalisme sains yang lebih luas bukan hanya tentang keterampilan menulis, melainkan juga dapat diperluas menjadi struktur institusional, loyalitas epistemik, dan sumber pendanaan.

Ada satu wawancara menarik dari Manuela Callari kepada Felicity Nelson, Carl Smith, Lee Constable dan Phil Dooley di IJNet (2025). Felicity Nelson, jurnalis sains dengan byline di Nature dan Guardian Australia, merumuskan bahwa jurnalisme sains “didefinisikan oleh urutan prioritasnya: tugas pertamanya kepada kebenaran, tugas keduanya kepada pembaca”, sementara komunikasi sains non-independen “tugas pertamanya kepada klien yang membayar produksi konten, tugas keduanya kepada kebenaran, dan tugas ketiganya kepada pembaca” . Phil Dooley, komunikator sains profesional, meringkasnya secara tajam: “Perbedaannya bergantung pada siapa yang membayar tagihan.” Komunikasi sains adalah kategori payung. Bucchi dan Trench (2021) menyebutnya “percakapan sosial seputar sains” (the social conversation around science).

Jurnalisme sains sering diposisikan sebagai subhimpunan, tetapi sesungguhnya memiliki logika otonom yang sama dengan jurnalisme pada umumnya yang memperlakukan sains sebagaimana jurnalis memperlakukan politik atau bisnis, yakni sebagai objek pengawasan (watchdog), bukan objek promosi.

Genealogi kedua bidang ini berbeda. Komunikasi sains modern berakar pada gerakan Public Understanding of Science (PUS) yang dilembagakan oleh Bodmer Report Royal Society (1985), lalu bergeser ke Public Engagement dan model dialog serta partisipasi. Jurnalisme sains berakar pada kelahiran beat sains dan pendirian National Association of Science Writers (1934), diperkuat oleh perlombaan teknologi di era Sputnik dan Perang Dingin.

Pada dimensi profesionalisasi, kerangka Andrew Abbott (1988) tentang “sistem profesi” dan perebutan yurisdiksi menjelaskan mengapa jurnalis sains, komunikator institusional, dan ilmuwan-komunikator kini bersaing atas wilayah yang sama. Ketimpangan ekonomi mengubah keseimbangan. Misalnya, di Amerika Serikat, rasio praktisi humas terhadap jurnalis telah melonjak dan banyak jurnalis pindah ke humas, sebuah fenomena yang dikenal sebagai “flight to Public Relations (PR)”.


Payung yang Tumpang Tindah

Persoalan konseptual utama adalah adanya “payung yang tumpang tindih”. Dalam banyak literatur, jurnalisme sains diperlakukan sebagai subhimpunan komunikasi sains. Definisi ensiklopedi mencatat bahwa komunikasi sains umumnya merujuk pada situasi ketika audiens bukan ahli (outreach), dengan jurnalisme sains sebagai salah satu contohnya, di samping komunikasi kesehatan. Namun, perlakuan sebagai subhimpunan ini menyembunyikan perbedaan mendasar pada dimensi “loyalitas epistemik” (untuk siapa dan melayani siapa?) dan “norma/etika” yang dirujuk (pekerjaannya diatur oleh apa? bagaimana bekerja?).

Komunikasi sains berorientasi pada penyampaian daya tarik, signifikansi, dan kegunaan sains—misalnya dengan menjelaskan penemuan material baru atau partikel subatomik. Jurnalisme sains, sebaliknya, tidak memiliki mandat untuk mempromosikan sains. Tugasnya adalah memperlakukan sains sebagai objek peliputan jurnalistik dengan memeriksa bukti, menguji klaim, menghadirkan berbagai perspektif, serta menelusuri konflik kepentingan, kegagalan eksperimen, praktik eksploitatif, dan bahkan penipuan.

Knight Science Journalism Program di MIT, ketika membahas argumen Susan Watts, merumuskan perbedaan ini sebagai perbedaan antara “science communication” yang dapat menampilkan kegembiraan dan keajaiban sains dan “science journalism” yang juga harus mengungkap “murky underbelly of science.” Dalam kerangka ini, jurnalis tidak ditempatkan sebagai promotor sains, melainkan sebagai pihak yang meliput sains sebagaimana mereka meliput institusi kepolisian, bisnis, atau politik—dengan memperhatikan keberhasilan sekaligus kesalahan dan penyimpangannya.

Sehingga dengan beberapa pertimbangan itu, definisi operasional yang saya adalah:

  • Komunikasi sains: seluruh bentuk komunikasi yang berfokus pada pengetahuan atau kerja ilmiah, baik di dalam maupun di luar sains terlembaga, mencakup produksi, isi, penggunaan, dan efeknya (Schäfer et al., 2015; Bucchi & Trench, 2021).
  • Jurnalisme sains: praktik jurnalistik yang menjadikan sains, teknologi, kesehatan, dan lingkungan sebagai objek liputan, tunduk pada norma verifikasi, independensi editorial, dan akuntabilitas kepada publik.

Dari nuansa epistemologis, jurnalis sains menghasilkan “berita sains”, sebuah produk epistemik yang merupakan “sains publik” (public science) yang berbeda dari “sains riset” (research science) sebagaimana termuat dalam makalah peer-reviewed. Seorang jurnalis sains “sekaligus” menjadi non-ahli ketika mengumpulkan berita dan menjadi ahli ketika menuliskannya.

Genealogi Historis

Titik tonggak yang lazim diajarkan hingga kini adalah tahun 1985, saat terbitnya laporan Royal Society “The Public Understanding of Science”, yang dikenal sebagai Bodmer Report, yang diketuai oleh ahli genetika Sir Walter Bodmer. Isi dari laporan ini adalah bahwa komite menjawab afirmatif terhadap pertanyaan apakah publik yang melek sains akan membuat dunia lebih baik, dengan alasan bahwa hal itu memfasilitasi pengambilan keputusan publik dan meningkatkan kemakmuran nasional. Laporan ini memberi dorongan institusional bagi gerakan PUS dan melahirkan Committee on the Public Understanding of Science (COPUS).

Dari laporan ini juga kemudian muncul kritik terhadap “model defisit” (deficit model) yang mengandaikan publik yang pasif, amorf, dan sebagian besar buta sains, yang apresiasinya akan meningkat bila pengetahuan faktual berulang kali dipaparkan. Sebenarnya istilah “deficit model” tidak diperkenalkan oleh Bodmer sendiri; ia dilekatkan secara retrospektif oleh para kritikus. Bahkan sejarawan seperti Jean-Baptiste Gouyon mencatat bahwa banyak asumsi model defisit tidak eksplisit dalam laporan asli. Brian Wynne (1992) mengkritik karakterisasi publik yang tidak berdiferensiasi dan menegaskan bahwa audiens beragam. Perdebatan ini kemudian bergerak ke model dialog dan partisipasi, sejalan dengan pergeseran dari Public Understanding of Science ke Public Engagement with Science (Schäfer 2009).

Kerangka tiga model (deficit, dialogue, participation) yang paling banyak diajarkan berasal dari Brian Trench (2008) dalam “Towards an Analytical Framework of Science Communication Models”, termuat dalam Handbook of Public Communication of Science and Technology yang disunting oleh mereka berdua. Penamaan “deficit model” muncul pada awal 1990-an; Trench (2008) menyusunnya menjadi tipologi analitis tiga model; lalu Bucchi dan Trench (2021) merumuskan ulang model-model itu sebagai “spektrum” dinamis, seperti akordeon yang bisa memampat dan memuai. Trench sendiri menegaskan ketiganya tidak membentuk hierarki atau evolusi, melainkan tetap berguna dalam keadaan tertentu.

Evolusi Komunikasi Sains (Dibuat dengan NotebookLLM)

National Association of Science Writers (NASW) dibentuk pada Juni 1934 oleh sekelompok jurnalis dengan beat sains, yakni John J. O’Neill, William L. Laurence (New York Times), Howard W. Blakeslee, Gobind Behari Lal, dan David Dietz yang menjadi presiden NASW pertama. Tujuan awal pendirian NASW adalah “memupuk penyebaran pengetahuan ilmiah yang akurat oleh pers”. Pendirian ini sebagian juga dimaksudkan untuk membangun hubungan yang lebih baik dengan narasumber ilmuwan yang saat itu curiga, sekaligus membedakan penulis sains elit dari “riff-raff” jurnalistik lain. NASW kini memiliki lebih dari 2.000 anggota. Perlombaan teknologi pada era Sputnik (1957) dan Perang Dingin mendorong perluasan liputan sains dan penajaman peran jurnalis sains, termasuk peran ganda “cheerleader” versus “watchdog”.

Perkembangan jurnalisme sains sendiri, sejak krisis ekonomi media 2008, mengalami keruntuhan struktural. Contoh paling kentara adalah keputusan CNN pada 3 Desember 2008 untuk menutup seluruh unit sains, teknologi, dan lingkungannya di Atlanta, yang menghapus tujuh posisi, termasuk koresponden Miles O’Brien dan enam produser. The Boston Globe menghentikan seksi Kesehatan/Sains mingguannya pada Februari 2009 setelah 25 tahun, meski sebagian besar reporternya dipertahankan. Geoff Brumfiel dalam Nature merangkum era ini dengan kutipan penulis sains Wall Street Journal Robert Lee Hotz: “Liputan sains independen bukan sekadar terancam; ia sedang sekarat.”

Jumlah surat kabar AS yang memiliki seksi sains mingguan mengalami penurunan tajam sejak akhir 1980-an. Laporan Science and the Media dari American Academy of Arts and Sciences mencatat bahwa jumlah tersebut mencapai puncak sekitar 95 surat kabar pada 1989, turun menjadi 44 pada 1992, sekitar 34 surat kabar pada 2005, dan sekitar 31 pada awal 2009. Angka 1989 dan 1992 berasal dari survei Scientists’ Institute for Public Information, sedangkan angka 2005 dan 2009 diperoleh melalui analisis Editor & Publisher International Yearbook.


Secara singkat, perbedaan keduanya dapat dibedakan dalam tabel ini, tapi perlu ditekankan bahwa kolom-kolom ini adalah tipe ideal (ideal types). Tapi perbedaan ideal ini dalam praktik nyata sering hibrida dan seorang individu dapat berpindah peran.

DimensiJurnalisme SainsKomunikasi Sains (institusional)
Loyalitas utamaPublik dan kebenaranInstitusi, pemberi kerja, atau klien
Otonomi editorialTinggi (independensi)Terbatas (tunduk pada tujuan institusi)
Tujuan komunikatifInformasi, pengawasan, akuntabilitasPromosi, edukasi, keterlibatan, literasi, reputasi
Sumber pendanaanIklan, langganan, hibah media, filantropiAnggaran riset, humas, kementerian, funder
Norma intiVerifikasi, skeptisisme, cek silangAkurasi representasional, kesesuaian pesan
Relasi dengan ilmuwanJarak kritisKemitraan atau kolaborasi
Kriteria seleksiNilai berita (newsworthiness)Relevansi, keterlibatan, tujuan strategis
Perlakuan atas ketidakpastian dan kontroversiDiangkat sebagai isuCenderung diminimalkan
Perlakuan atas kesalahan ilmiah (misconduct, retraksi)Objek investigasiCenderung dilindungi atau tidak diangkat
Peran dalam ekosistemGatekeeping dan gatewatchingSumber (source) dan pembentuk pesan

Untuk memahami mengapa demarkasi dua profesi ini terus diperjuangkan, kita perlu memperkenalkan konsep boundary work dari Thomas Gieryn. Dalam artikelnya di American Sociological Review (“Boundary-Work and the Demarcation of Science from Non-Science”, 48(6): 781-795), Gieryn menunjukkan bahwa batas “sains” versus “non-sains” bukan sesuatu yang inheren, melainkan dibangun secara ideologis untuk kepentingan otoritas profesional, karier, dan otonomi. Secara analog, batas antara jurnalisme sains dan komunikasi sains juga merupakan boundary work, yaitu para praktisi menegaskan batas untuk mempertahankan legitimasi dan yurisdiksi masing-masing.

Lebih lanjut, konsep ini diperjelas dengan bagaimana mekanisme mengaburnya batas itu, yaitu mediatisasi sains (mediatization atau medialization of science). Peter Weingart menggambarkan medialisasi sebagai “kehilangan jarak” (loss of distance) antarsubsistem masyarakat, ketika sains menjadi lebih erat dengan sistem media, politik, dan ekonomi (Weingart 2001; 2012).

Franzen, Weingart, dan Rödder (2012) memperingatkan bahwa adaptasi berlebihan terhadap logika media dapat mendistorsi proses inti dan mengubah fungsi sosial sains. Rödder dan Schäfer (2010) serta Väliverronen (2021) juga mendokumentasikan bangkitnya budaya promosi di universitas. Studi longitudinal Vogler dan Schäfer (2020) di Swiss, misalnya, menunjukkan pengaruh humas universitas yang tumbuh atas liputan berita sains.

Profesionalisasi Aktor Komunikasi Sains

Dengan menggunakan kerangka sistem profesionalisasi milik Andrew Abbott, “The System of Professions: An Essay on the Division of Expert Labour” (1988). Abbott mendefinisikan profesi secara longgar sebagai “kelompok okupasi eksklusif yang menerapkan pengetahuan yang agak abstrak pada kasus-kasus tertentu”. Kontribusi utamanya adalah menempatkan perebutan yurisdiksi (jurisdiction) dan kompetisi antarprofesi sebagai inti analisis. Otoritas profesional bertumpu pada yurisdiksi atas tugas, dan profesi saling bersaing memperebutkan hak untuk menangani masalah tertentu. Dalam kasus, tiga kelompok bersaing untuk yurisdiksi yang sama dalam komunikasi sains kepada publik.

  • Kelompok pertama adalah jurnalis sains.
  • Kelompok kedua adalah komunikator dan petugas humas riset institusional.
  • Kelompok ketiga adalah ilmuwan yang berkomunikasi langsung, kini difasilitasi oleh platform digital.
Science Communication Actors. Creator: Fabio Crameri and Lucía Pérez Díaz License: Attribution-ShareAlike 4.0 International (CC BY-SA 4.0)

Pergeseran ekonomi menggeser keseimbangan yurisdiksi ke arah kelompok kedua (komunikator sains institusional/Humas), sebagaimana ditunjukkan oleh data ketimpangan Humas versus jurnalis di bagian bukti empiris.

Untuk memahami profesionalisasi jurnalisme secara spesifik, Waisbord (2013) berargumen bahwa profesionalisme jurnalistik pada dasarnya adalah kemampuan sebuah bidang praktik untuk menetapkan batas dan menghindari intrusi kepentingan eksternal. Jurnalisme tidak pernah diakui sebagai profesi penuh seperti kedokteran atau hukum. Ia adalah bidang yang terus memperjuangkan otonomi. Waisbord menekankan bahwa dalam logika jurnalistik, nilai kebaruan berita mengungguli pertimbangan lain. Ia menyimpulkan bahwa tanpa kendali atas batas profesionalnya, jurnalisme rentan terhadap kepentingan eksternal yang kuat dan tidak dapat menjadi penyeimbang kekuasaan.

Teori peran jurnalistik dari Thomas Hanitzsch dan Tim Vos (2017) menambahkan pembahasan penting dalam profesionalisasi jurnalis. Mereka berargumen bahwa peran-peran jurnalistik dikonstitusi secara diskursif, dinegosiasikan dalam “ranah diskursif” (discursive field) tempat jurnalis, media, dan organisasi berebut otoritas atas identitas jurnalisme. Peran itu beroperasi pada dua tingkat, yaitu orientasi peran (normatif dan kognitif) serta performa peran (yang dipraktikkan dan yang dinarasikan). Meminjam kerangka ini, saya menjelaskan mengapa “jurnalis sains” bukan merupakan profesi dengan “kategori tetap”, melainkan identitas yang terus diperebutkan, terlebih ketika komunikator institusional hingga independen pun dapat mengklaim label sebagai aktor komunikasi sains kepada publik.

Untuk sisi komunikasi sains, profesionalisasi ditandai oleh upaya menyusun kerangka kompetensi. Lewenstein, B. V., & Baram-Tsabari, A. (2022) berupaya mengubah pelatihan komunikasi sains dari yang “oportunistik”, bergantung pada minat pelatih individual, menjadi praktik sistematis berbasis teori pembelajaran dan komunitas praktik (community of practice). Mereka mengorganisasi tujuan pembelajaran ke dalam enam untaian kompetensi (identity, participation, affective, reflection, methods, content knowledge) dan tiga kategori komunikator: occasional, active, dan professional. Keberadaan kerangka semacam ini adalah tanda profesionalisasi yang sedang berlangsung, tetapi belum matang sepenuhnya. Termasuk praktiknya masih sangat terbatas pada spesifik Barat.

Bukti struktural menunjukkan profesionalisasi bersifat asimetris. Pada sisi asosiasi, NASW (1934) melayani penulis dan jurnalis sains, sedangkan World Federation of Science Journalists (WFSJ) yang diluncurkan pada 2002 di São José dos Campos, Brasil, menjadi federasi global. PCST Network (Public Communication of Science and Technology) mewadahi komunitas komunikasi sains yang lebih luas.

Di Global South terdapat jejaring seperti African Gong, jaringan Pan-Afrika yang dipimpin oleh Elizabeth Rasekoala. Pada sisi pendidikan, terdapat program master jurnalisme sains ternama di MIT, Boston University, dan Imperial College, berdampingan dengan program komunikasi sains yang berkembang pesat. Pada sisi kode etik, NASW dan WFSJ memiliki pedoman etik dan WFSJ menerbitkan “Guiding Principles for Science Journalism” (Massarani, Neves, & Bustamante Hernández, 2024).

Sehingga dapat disimpulkan bahwa jurnalisme sains memiliki penanda profesi yang lebih tua dan lebih tegas, tetapi basis materialnya lebih rapuh. Komunikasi sains institusional memiliki basis material yang membesar, tetapi penanda profesinya (kode etik yang mengikat, kontrol masuk, yurisdiksi eksklusif) belum matang. Karena itu, komunikasi sains lebih tepat disebut “bidang praktik yang sedang berprofesionalisasi” ketimbang “profesi penuh”.


Catatan Kaki

  • Ketimpangan humas versus jurnalis. Data Biro Statistik Tenaga Kerja AS yang dikutip Robert McChesney dan John Nichols dalam “The Death and Life of American Journalism” (via ProPublica 2011, “PR Industry Fills Vacuum Left by Shrinking Newsrooms”) menunjukkan: “Pada 1980, terdapat sekitar 0,45 pekerja humas per 100.000 penduduk dibandingkan dengan 0,36 jurnalis. Pada 2008, terdapat 0,90 orang humas per 100.000 dibandingkan dengan 0,25 jurnalis. Itu rasio lebih dari tiga banding satu.” Tren ini berlanjut. Tekanan struktural terhadap jurnalisme juga tercermin dalam perubahan relatif ukuran tenaga kerja jurnalistik dan hubungan masyarakat. Dalam sebuah tulisan bertanggal 6 September 2018, Muck Rack, dengan merujuk pada data U.S. Bureau of Labor Statistics (BLS), mencatat bahwa terdapat hampir enam praktisi public relations untuk setiap jurnalis, meningkat dari sekitar lima berbanding satu dua tahun sebelumnya. Pada periode yang sama, jumlah pekerjaan di ruang redaksi Amerika Serikat dilaporkan menurun sekitar 23%, dari 114.000 pada 2008 menjadi sekitar 88.000 pada 2017.
  • Pengaruh siaran pers atas akurasi. Studi Petroc Sumner dkk. (2014) menganalisis 462 siaran pers biomedis dari 20 universitas terkemuka Inggris pada 2011, beserta makalah dan 668 berita terkait. Hasilnya: 40% siaran pers mengandung saran berlebihan, 33% mengandung klaim kausal berlebihan dari data korelasional, dan 36% mengandung inferensi berlebihan dari temuan hewan ke manusia. Temuan ini juga menyatakan bahwa sebagian besar kalimat sensasional sudah ada pada siaran pers yang sebelumnya disetujui oleh ilmuwan, bukan diciptakan oleh jurnalis. Sebuah studi replikasi oleh kelompok peneliti yang sama (2019) menemukan bahwa pernyataan kausal yang berlebihan dalam siaran pers “berkurang dari 28% (95% CI = 16% hingga 45%) pada tahun 2014 menjadi 13% (95% CI = 6% hingga 25%) pada tahun 2015”, sementara “hubungan antara pernyataan yang berlebihan dalam berita dan siaran pers tetap kuat”. Dengan demikian, masalah akurasi berita berakar pada rantai komunikasi kelembagaan, bukan semata-mata pada jurnalisme. Hal ini secara empiris membuktikan mengapa fungsi verifikasi independen yang dilakukan oleh jurnalis sains sangat berharga.
  • Ekosistem yang memfasilitasi ketergantungan ini adalah sistem embargo jurnal ilmiah. Science Media Centre (SMC) di Inggris, didirikan pada 2002 dan dipimpin oleh Fiona Fox, menyediakan reaksi cepat dari ahli dan briefing pers, dengan filosofi bahwa media akan meliput sains lebih baik bila ilmuwan berurusan dengan media lebih baik. EurekAlert!, platform distribusi siaran pers yang dioperasikan oleh AAAS dan diluncurkan pada Mei 1996, memberi jurnalis akses ke materi embargo dari jurnal terkemuka. Kritik akademik terhadap ekosistem ini terangkum dalam istilah “churnalism” yang dipopulerkan Nick Davies dalam “Flat Earth News” (2008), dengan basis empiris studi Cardiff oleh Justin Lewis dkk. (2008) yang menemukan mayoritas berita pers Inggris bersumber wholly atau mainly dari kawat berita atau materi humas. Dalam konteks sains spesifik, Toby Murcott dan Andy Williams (2013) membahas ketergantungan pada humas dan peran Science Media Centre (SMC). Perdebatan tetap terbuka: Fiona Fox membantah bahwa briefing SMC adalah churnalism, sedangkan Connie St. Louis (mantan direktur MA jurnalisme sains City University, London) menuduh SMC “menyuburkan budaya churnalism dalam sains”.
  • Survei jurnalis sains global. Global Science Journalism Report 2021, diterbitkan oleh SciDev.Net bersama London School of Economics, Fiocruz Brasil, ISCTE-Lisbon, dan WFSJ, melibatkan 633 jurnalis sains dari 77 negara, dengan 54% (341 orang) perempuan. Sebanyak 64% responden menyatakan jumlah proyek per minggu meningkat dalam lima tahun terakhir, dengan angka lebih tinggi di Afrika dan Eropa. Kesimpulan survei tersebut mengatakan bahwa kerja jurnalis sains menjadi “lebih intens”. Ini adalah bukti prekaritas dan intensifikasi kerja, sekaligus menegaskan karakter global bidang jurnalisme sains tersebut.
  • Global South dan Indonesia. Literatur dekolonial mengkritik Eurosentrisme dalam kerangka komunikasi sains. Lindy Orthia (2020) berargumen bahwa kecenderungan mengonseptualisasikan komunikasi sains sebagai fenomena Barat dan modern dapat memperkuat marginalisasi kelompok minoritas. Elizabeth Rasekoala (2023) menyerukan penjembatanan kesenjangan Utara-Selatan melalui dekolonisasi, ekuitas, dan pembelajaran timbal balik. Luisa Massarani mendokumentasikan “ketidaktampakan” karya sarjana Amerika Latin di jurnal-jurnal komunikasi sains utama. Di Afrika, Marina Joubert merintis kursus daring komunikasi sains pertama di benua itu. Di Indonesia, jurnalisme sains menghadapi hambatan struktural dengan sedikit outlet yang memprioritaskan science beat, keterbatasan akses terhadap data yang andal, dan minimnya pelatihan (IJNet, “The State of Science Journalism in Indonesia”, yang mengutip jurnalis lingkungan Harry Surjadi, mantan ICFJ Knight Fellow).
  • The Conversation. Platform ini menjalankan model journalism-as-a-service”: akademisi menulis, editor yang umumnya berlatar belakang jurnalis membantu menyunting, dan artikel terbit di bawah lisensi Creative Commons sehingga dapat dipublikasikan ulang secara luas. Lars Guenther dan Marina Joubert (2021) menyebut The Conversation Africa sebagai “perpaduan komunikasi ilmiah, komunikasi sains publik, dan jurnalisme sains”(amplifier platform), sebuah konvergensi dunia profesional sains dan jurnalisme. Ini adalah contoh sempurna bahwa kategori dapat berbaur.
  • Jurnalisme sains nirlaba. STAT, Undark, Mongabay, dan Retraction Watch mewakili model yang didanai filantropi, sebuah respons terhadap runtuhnya model iklan-langganan. Retraction Watch secara khusus menjalankan “watchdog science journalism” atas pelanggaran norma ilmiah seperti retraksi dan fraud. Niels Mede dkk. (2025) menganalisis bagaimana Retraction Watch berinteraksi dengan ekspektasi normatif terhadap sains di lingkungan media hibrida.
  • AI generatif. Sejak 2023, AI generatif mengubah kedua bidang secara fundamental. Editorial JCOM (2025) menyatakan bahwa AI “secara fundamental mengubah komunikasi sains”, dari produksi konten hingga keterlibatan publik. Untuk jurnalisme, analisis institusional (Springer, Communication and Change, 2025) memperlakukan AI generatif sekaligus sebagai kekuatan transformatif dan institusi baru yang menantang otoritas profesional. Friederike Hendriks dkk. (2025) menekankan perlunya kebiasaan kerja etis bagi ilmuwan yang memakai AI. Reuters Institute (Generative AI and News Report 2025) menemukan sikap publik yang terbelah dan cenderung skeptis terhadap peran AI dalam jurnalisme. Bagi profesionalisasi, AI mengancam menghapus tugas-tugas yang selama ini menjadi basis yurisdiksi kedua kelompok (jurnalis sains dan komunikator sains).