close up shot of a human eye

Erosi Skeptisisme

Photo by Ana Claudia Quevedo Estrada on Pexels.com

Ada satu hal yang menurut saya semakin menarik dalam cara kita berdebat di ruang publik. Dalam pandangan saya saat ini, orang tidak selalu berhenti bersikap kritis karena mereka tidak mampu berpikir kritis. Kadang mereka berhenti karena sudah lebih dulu percaya pada orang yang berbicara. Saya menyebut fenomena ini sebagai erosi skeptisisme (the erosion of scepticism), sebuah kondisi berkurangnya kecenderungan seseorang untuk mempertanyakan, memeriksa, dan mengevaluasi suatu klaim secara kritis ketika klaim tersebut datang dari figur yang telah lebih dulu memperoleh kepercayaan dari publik.

Tentu diskusi tentang erosi skeptisisme ini harus ditempatkan dalam konteks di mana sudah terjadi sebuah kontestasi klaim yang secara penuh membawa publik pada kondisi vis-à-vis. Di luar kondisi itu, pada kenyataannya kita tidak mungkin hidup tanpa mempercayai orang lain. Sebagian besar pengetahuan yang kita miliki diperoleh melalui peristiwa “kesaksian” orang lain atau kesepakatan kelompok yang dipercaya/terpercaya.

Misalnya, kita mempercayai dokter karena tidak mungkin mempelajari sendiri seluruh ilmu kedokteran ketika sedang sakit. Dalam kondisi ini terjadi sebuah asimetri pengetahuan yang tidak mungkin dapat kita raih dalam waktu cepat, juga persoalan lain yang kemudian dinamakan kredensial.

Kita mempercayai ilmuwan karena tidak mungkin mengulang sendiri seluruh eksperimen yang pernah dilakukan manusia. Walaupun begitu, ilmuwan dan sains juga bekerja di ruang ketidakpastian (uncertainty) sehingga ruang ini memungkinkan penelaahan ulang dan falsifikasi ulang pada kerja-kerja saintifiknya.

Kita mempercayai jurnalis karena tidak mungkin berada di setiap tempat untuk menyaksikan sendiri semua peristiwa dan kemudian mencatatnya dalam sebuah tulisan atau medium lainnya.

Dalam pengertian ini, kepercayaan terhadap sumber merupakan hal normal dari kehidupan epistemik manusia. Masalahnya kemudian muncul ketika kepercayaan terhadap seseorang perlahan berubah menjadi kepercayaan terhadap hampir semua hal yang dikatakannya. Ini yang terjadi dalam perdebatan publik di media sosial (Facebook) yang baru-baru ini terjadi di beranda penulis AS Laksana, menanggapi beberapa pernyataan Ryu Hasan, bukan sebagai dokter spesialis saraf, melainkan lebih pada klaimnya sebagai narator publik. Saya tidak akan menceritakan peristiwa publik medsos ini. Tautan HTML di bawah ini cukup untuk membuat Anda menyusuri konteks perdebatan publik ini.

Ilmuwan yang lebih terlihat

Di sinilah, saya kira, kita perlu membedakan antara trust dan credulity. Kepercayaan yang sehat selalu memiliki batas dan konteks. Kita mempercayai seorang dokter karena ia memiliki kompetensi profesional dalam bidang kedokterannya. Kredensial tersebut relevan ketika ia berbicara mengenai persoalan yang memang berada dalam domain keahliannya. Tetapi kompetensi itu tidak otomatis membuat seluruh pendapatnya tentang sejarah, filsafat, antropologi, politik, atau persoalan lain memiliki bobot epistemik yang sama. Dengan kata lain, kredensial memiliki domain. Batas-batas semacam ini semakin menjadi kabur ketika seorang profesional memasuki ruang komunikasi publik digital.

Beberapa dekade lalu, Rae Goodell menulis tentang fenomena yang ia sebut “The Visible Scientists.” Dalam karyanya pada 1977, Goodell mengamati kemunculan sejumlah ilmuwan yang memperoleh visibilitas publik jauh lebih besar dibandingkan dengan banyak koleganya. Mereka bukan ilmuwan palsu. Mereka memiliki kredensial dan kompetensi ilmiah. Yang membuat mereka berbeda adalah kemampuan berhubungan dengan media dan publik. Apa yang disebut Goodell sebagai “The visible scientist” ini adalah kemampuan mereka untuk menjelaskan persoalan ilmiah, berbicara melalui radio dan televisi, berinteraksi dengan jurnalis, dan menjadikan persoalan yang kompleks lebih mudah dipahami oleh khalayak. Dalam bukunya, Goodell menyatakan bahwa keahlian dan kemampuan untuk terlihat oleh publik adalah dua hal yang berbeda.

Hari ini, menjadi “lebih terlihat” oleh publik merupakan diskusi yang jauh lebih kompleks. Media sosial, podcast, YouTube, dan berbagai platform digital memungkinkan siapa saja, termasuk kalangan profesional, untuk membangun hubungan langsung dengan audiens dalam skala yang sebelumnya lebih banyak dimiliki oleh institusi media massa.

Kemunculan figur yang “lebih terlihat” bukan hanya dari kalangan expert, tetapi juga communicator, performer, sekaligus media personality. Kemampuan “lebih terlihat” tersebut memberi keuntungan besar dalam memperoleh perhatian. Seseorang yang pandai menjelaskan sesuatu dengan bahasa sederhana, memiliki gaya bicara menarik, mampu membuat audiens merasa dipahami, dan konsisten hadir di layar akan lebih mudah membangun basis pengikut. Tetapi kemampuan memperoleh perhatian tentu tidak sama dengan kemampuan menghasilkan pengetahuan yang benar atau ilmiah.

Di sinilah persoalannya menjadi menarik dalam kasus figur seperti Ryu-Sulak. Kita tidak perlu menyamakan fenomena ini dengan The Visible Scientists yang dibahas Goodell karena konteks tentulah berbeda.

Kemunculan erosi skeptisisme

Namun, ada persoalan mengenai bagaimana kredensial profesional bertemu dengan kemampuan komunikasi dan visibilitas media, kemudian menghasilkan otoritas publik yang dapat melampaui ruang kompetensi asalnya. Seseorang dapat memiliki kredensial yang sah sebagai dokter, memiliki pendidikan kedokteran yang jelas, sekaligus memiliki kemampuan naratif yang membuatnya sangat menarik bagi media dan publik. Ketika kedua hal tersebut bertemu, figur tersebut dapat memperoleh otoritas yang jauh lebih luas dalam persepsi audiens daripada otoritas yang secara formal diberikan oleh profesinya.

Bukan berarti seseorang tidak boleh berbicara di luar bidang keahliannya. Tentu saja boleh. Seorang dokter sangat boleh berbicara tentang filsafat. Seorang fisikawan boleh berbicara tentang kebudayaan. Seorang filsuf boleh berbicara tentang politik. Tidak ada yang salah dengan itu. Persoalannya yang muncul adalah bagaimana audiens menilai klaim yang disampaikan ketika kredibilitas profesional seseorang ikut terbawa ke dalam klaim yang sebenarnya berada di luar kompetensinya. Ini yang perlu mendapatkan perhatian kritis.

Banyak contoh yang terjadi di kanal medsos seseorang yang sejak awal dikenal sebagai profesional dengan kredensial yang sah. Ia memiliki pendidikan yang jelas, profesi yang diakui, mampu berbicara dengan percaya diri, dan dapat menjelaskan persoalan kompleks dengan cara yang menarik. Lambat laun kemudian sering muncul di podcast, video, dan berbagai kanal media sosial. Namanya semakin dikenal, kemudian memicu perbincangan publik, dengan kontennya yang menghasilkan perhatian dan perdebatan. Lama-kelamaan semua atribut tersebut dapat bergabung menjadi satu persepsi awam: “Orang ini kredibel.”

Persoalannya adalah kredibilitas tersebut kemudian dapat berpindah dari satu domain ke domain lain. Ia berbicara tentang persoalan medis dan audiens percaya karena ia seorang dokter. Ia berbicara tentang sejarah dan audiens tetap percaya karena ia dianggap pintar. Ia berbicara tentang filsafat dan audiens tetap percaya karena ia sudah dianggap sebagai figur intelektual. Pada titik tertentu, audiens tidak lagi mengevaluasi setiap klaim berdasarkan kompetensi sumber terhadap klaim tersebut, tetapi berdasarkan persepsi umum bahwa orang tersebut adalah seseorang yang dapat dipercaya. Singkatnya, kepercayaan terhadap sumber berubah menjadi kepercayaan terhadap klaim.

Dan ketika pergeseran tersebut berlangsung terlalu jauh, skeptisisme mulai terkikis. Orang tidak lagi bertanya, “Apakah klaim ini benar?” dengan intensitas yang sama seperti sebelumnya. Pertanyaannya berubah menjadi, “Kalau dia yang mengatakan, mungkin memang benar.” Dalam situasi seperti ini, kredibilitas figur berfungsi sebagai jalan pintas epistemik. Audiens tidak perlu melakukan pemeriksaan yang sama terhadap setiap klaim karena mereka sudah membawa modal kepercayaan dari interaksi sebelumnya.

Saya kira penting untuk menegaskan bahwa argumen ini bukan ajakan untuk tidak mempercayai dokter, ilmuwan, profesor, atau profesional lainnya. Justru sebaliknya. Masyarakat membutuhkan kepercayaan terhadap keahlian profesional. Pasien tidak mungkin melakukan sendiri operasi bedah saraf terhadap dirinya. Mereka harus mempercayai dokter, rumah sakit, dan sistem pengetahuan medis. Tetapi kepercayaan tersebut harus terkalibrasi. Jika seseorang memiliki kompetensi dalam satu bidang, kita memperhitungkan kompetensinya ketika ia berbicara tentang bidang tersebut. Ketika ia berbicara di luar bidangnya, kita tidak harus menolak pendapatnya, tetapi kita perlu mengembalikan skeptisisme kita ke tingkat yang semestinya.

Karena itu, skeptisisme bukan berarti tidak percaya. Skeptisisme berarti tetap bersedia bertanya: apa buktinya, apakah sumber tersebut memang kompeten dalam persoalan yang sedang dibicarakan, apakah klaimnya sesuai dengan bukti yang tersedia, apakah sumber lain yang kompeten mengatakan hal yang sama, dan apakah ada alasan untuk mempercayai klaim tersebut selain karena kita mempercayai orang yang menyampaikannya? Pertanyaan terakhir mungkin yang paling penting:Apakah saya mempercayai klaim ini karena buktinya, atau karena saya mempercayai orang yang mengatakannya?

Dalam konteks inilah kalimat “bahas pemikirannya, jangan orangnya” juga perlu ditempatkan secara hati-hati. Kalimat tersebut terdengar seperti prinsip intelektual yang sehat, tetapi tidak selalu berlaku untuk semua konteks. Dalam perdebatan filsafat, misalnya, kita memang tidak seharusnya menolak suatu argumen hanya karena orang yang menyampaikannya memiliki kehidupan pribadi yang buruk. Itu bisa menjadi ad hominem. Namun, dalam profesi yang otoritasnya bergantung pada kompetensi profesional, informasi mengenai siapa yang berbicara dapat menjadi relevan secara epistemik.

Pasien bedah saraf tidak hanya membutuhkan “pemikiran yang mencerahkan” dari dokter yang akan menangani mereka. Mereka membutuhkan informasi yang valid tentang kualifikasi, kompetensi, integritas profesional, pendidikan, dan rekam jejak dokter tersebut. Mereka menyerahkan tubuh dan, dalam situasi tertentu, hidup mereka kepada seseorang berdasarkan kepercayaan terhadap kompetensi profesionalnya. Mengetahui siapa yang berbicara, dengan kompetensi apa, dan berdasarkan rekam jejak seperti apa bukanlah serangan personal. Itu merupakan bagian dari evaluasi terhadap sumber informasi.

Dengan demikian, ada perbedaan antara mengatakan, “Pendapatnya salah karena orangnya buruk,” dan mengatakan, “Kita perlu mengetahui kompetensi serta rekam jejak sumber karena informasi tersebut relevan untuk menilai apakah ia memiliki otoritas terhadap klaim yang sedang dibuat.” Yang pertama dapat menjadi ad hominem. Yang kedua merupakan evaluasi terhadap sumber. Perbedaan ini penting karena kredibilitas sumber memang merupakan bagian dari cara manusia menilai informasi.

Ekosistem media digital dan kabut algoritma

Persoalan tersebut menjadi semakin rumit karena kita sekarang berada dalam ekosistem media yang bekerja di bawah apa yang saya sebut sebagai kabut algoritma. Platform digital tidak terutama dirancang untuk menentukan klaim mana yang paling kuat secara epistemik. Sistem rekomendasi bekerja dengan berbagai sinyal perilaku dan keterlibatan pengguna. Konten yang membuat orang berhenti menggulir, menonton lebih lama, berkomentar, marah, merasa terwakili, atau membagikannya kepada orang lain dapat memperoleh visibilitas yang lebih besar. Karena itu, sesuatu yang sangat terlihat di platform tidak otomatis merupakan sesuatu yang paling benar secara ilmiah.

Popularitas bukan ukuran validitas epistemik. Sebuah klaim dapat viral karena benar, tetapi juga dapat viral karena kontroversial, emosional, mengejutkan, lucu, atau disampaikan oleh orang yang sudah memiliki basis penggemar. Algoritma tidak perlu “memusuhi kebenaran” untuk menghasilkan persoalan ini. Cukup dengan menjadikan perhatian sebagai sumber daya utama dalam distribusi informasi.

Di sinilah kemampuan naratif menjadi sangat penting. Orang yang mampu mengubah persoalan kompleks menjadi cerita sederhana memiliki keuntungan komunikatif. Orang yang mampu membuat audiens merasa dekat dengannya memiliki keuntungan sosial. Orang yang mampu menciptakan identifikasi memiliki keuntungan psikologis. Sementara itu, penjelasan ilmiah sering kali justru tidak memiliki karakteristik tersebut. Sains penuh dengan ketidakpastian, batas pengetahuan, probabilitas, perdebatan metodologis, hasil penelitian yang tidak konsisten, dan kesimpulan yang dapat berubah ketika bukti baru muncul. Semua itu membuat komunikasi ilmiah jauh lebih sulit dibandingkan dengan narasi yang menawarkan jawaban sederhana.

Masalah terbesar muncul ketika hubungan antara figur dan audiens berubah dari kepercayaan menjadi loyalitas. Pada tahap awal, seseorang mungkin berkata, “Saya percaya dokter ini.” Itu masih merupakan bentuk kepercayaan yang wajar. Kemudian berubah menjadi, “Saya biasanya setuju dengan dokter ini.” Itu pun belum tentu bermasalah. Tetapi ketika berubah menjadi, “Kalau dia bilang begitu, pasti ada benarnya,” mekanismenya mulai berbeda. Klaim tidak lagi diuji secara independen. Mengklaim mendapatkan semacam imunitas epistemik karena datang dari sumber yang sudah dipercaya.

Bahkan ketika bukti yang bertentangan muncul, audiens dapat terdorong untuk mempertahankan figur tersebut. Mereka bukan lagi sekadar mempertahankan sebuah proposisi, tetapi mempertahankan hubungan dengan seseorang yang telah menjadi bagian dari cara mereka memahami dunia. Pada titik itu, kritik terhadap klaim dapat dirasakan sebagai kritik terhadap figur, dan kritik terhadap figur kemudian dapat dipersepsikan sebagai serangan terhadap kelompok atau identitas mereka sendiri. Skeptisisme membuat kerja menjadi semakin sulit.

Karena itu, saya tidak melihat erosi skeptisisme semata-mata sebagai kelemahan individu. Kita terlalu mudah mengatakan bahwa masyarakat sekarang tidak kritis atau mudah dibodohi. Penjelasan semacam itu terlalu sederhana. Yang kita hadapi adalah pertemuan sejumlah mekanisme sekaligus: otoritas profesional, kredibilitas sumber, kemampuan komunikasi, visibilitas media, familiaritas, hubungan parasosial, dinamika kelompok, dan sistem distribusi algoritmik. Seseorang dapat menjadi sangat dipercaya bukan karena satu faktor, melainkan karena seluruh faktor tersebut saling memperkuat.

Kredensial menghasilkan otoritas.

Kemampuan komunikasi menghasilkan perhatian.

Perhatian menghasilkan visibilitas.

Visibilitas menghasilkan familiaritas.

Familiaritas dapat memperkuat kepercayaan.

Kepercayaan dapat menurunkan kebutuhan untuk memeriksa. Dan ketika kebutuhan untuk memeriksa semakin rendah, skeptisisme perlahan mengalami erosi. Ketika seseorang telah memperoleh kepercayaan sedemikian besar sehingga klaimnya tidak lagi diperiksa hanya karena datang darinya, di situlah erosi skeptisisme mulai benar-benar terjadi. Bukan ketika orang mulai percaya, melainkan ketika kepercayaan membuat mereka berhenti memeriksa.

Sehingga pertanyaan yang perlu kita utarakan adalah “Seberapa jauh kita seharusnya mempercayai seseorang?” Itulah inti dari skeptisisme yang sehat. Tentu saja kita tidak membutuhkan masyarakat yang mencurigai semua orang, tapi kita juga tidak membutuhkan masyarakat yang percaya kepada semua orang. Masyarakat yang mampu mengalibrasi kepercayaan berdasarkan klaim, bukti, dan kompetensi. Kondisi inilah yang membuat disinformasi tidak menjadi bencana infodemi dalam sirkulasi informasi publik.

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Discover more from Science Watchdog.id

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading