a person holding a scam document

Sindikat Organisasi Ilmiah Palsu Menipu Ilmuwan Ternama

Photo by Leeloo The First on Pexels.com

Julia Hirschberg sempat mengira 2026 adalah tahun yang sangat baik untuk karier akademiknya.

Ilmuwan komputer dari Columbia University, Amerika Serikat, itu menerima tiga kehormatan akademik dalam waktu yang relatif berdekatan. Ia terpilih menjadi anggota National Academy of Artificial Intelligence (NAAI), Austrian Academy of Engineering, dan kemudian European Academy of Engineering (EAE). Nama terakhir terdengar sangat meyakinkan. Di situsnya, EAE menyebut dirinya sebagai institusi utama yang memberikan salah satu pengakuan profesional tertinggi dalam bidang teknik. Puluhan penerima Nobel disebut berada dalam daftar anggotanya.

Columbia ikut merayakannya. Universitas itu menerbitkan pengumuman mengenai pencapaian Hirschberg. Kolega-koleganya mengirimkan ucapan selamat.

Hingga kemudian, sesuatu terasa janggal. Seorang yang memperkenalkan diri sebagai sekretaris EAE, Michael Chu, menghubungi Hirschberg dan mengatakan ingin mencalonkannya sebagai rotating chairperson. Posisi tersebut bahkan disertai kompensasi US$2.000 per tahun.

Ketika Hirschberg membuka situs EAE untuk mencari tahu lebih jauh, ia menemukan namanya sudah terpampang di bagian pimpinan organisasi.

Masalahnya, ia belum pernah menyatakan kesediaannya.

Ia juga tidak pernah diminta memberikan referensi, belum pernah mengikuti rapat organisasi, dan sebelum menerima penghargaan itu bahkan tidak mengenal organisasi tersebut.

Kejanggalan inilah yang kemudian membawa jurnalis Nature, Max Kozlov, masuk lebih jauh ke dalam jaringan organisasi akademik yang “tampak prestisius” dari luar, tetapi sulit diverifikasi ketika diperiksa satu per satu. Investigasi yang diterbitkan pada 25 September 2026 tersebut menemukan puluhan organisasi dengan karakteristik serupa: nama yang terdengar resmi, situs profesional, daftar anggota yang mengesankan, penghargaan akademik, serta hubungan yang diklaim dengan institusi ilmiah mapan.

Di balik tampilan itu, Nature menemukan sejumlah masalah serius.

Nama ilmuwan terkemuka dicantumkan sebagai anggota atau pemimpin tanpa sepengetahuan mereka. Sejumlah organisasi menggunakan nama dan singkatan yang menyerupai lembaga akademik mapan. Teks di situs mereka ditemukan berasal dari organisasi lain. Riwayat organisasi dan lokasi fisiknya sulit diverifikasi. Beberapa foto bahkan telah dimanipulasi.


Manipulasi Gambar dan Foto EAE

Di Google Maps yang tertempel di websitenya, mereka menggunakan gambar palsu untuk meyakinkan para akademisi, salah satunya adalah foto gedung yang diakui sebagai tempat institusi palsu ini. Contohnya, Akademi Teknik Eropa, yang konon berkantor pusat di Swedia, ternyata menggunakan foto Universitas Gothenburg yang telah dimanipulasi (geser untuk melihat perbedaannya)

Foto diambil dari Max Kozlov dengan modifikasi untuk penandaan.
Jika dilihat dari Google Maps, peta dan alamat gedung yang ditautkan pada website mereka mempunyai bentuk dan fungsi yang berbeda dengan foto cover penanda tempat.
Salah satu sesi paparan dalam forum Akademi Teknik Eropa/EAE di website EAE yang anehnya sedang membahas prevalensi stunting dari kutipan data American Journal of Clinical Nutrition. Website ini sepintas cukup meyakinkan, tapi palsu.

Organisasi itu mencantumkan alamat di Swedia. Namun, Kozlov tidak menemukan organisasi dengan nama tersebut dalam basis data organisasi publik Swedia. Alamat yang diberikan ternyata mengarah pada layanan virtual mailbox, bukan kantor akademi.

Di Google Maps, lokasi EAE menampilkan bangunan megah dengan tulisan nama akademi dalam bahasa Swedia. Pemeriksaan terhadap foto bangunan menunjukkan sesuatu yang berbeda: bangunan tersebut sebenarnya merupakan gedung utama University of Gothenburg. Gambarnya telah dimodifikasi sehingga seolah-olah merupakan kantor European Academy of Engineering.

Situs EAE juga pernah memuat pernyataan dukungan terhadap Ukraina yang ternyata disalin dari situs US National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine.

Tetapi bagian paling menarik dari kasus ini bukan hanya keberadaan situs palsu atau foto yang dimanipulasi. Mengapa penipuan semacam ini masih efektif menjaring “korban”?

Salah satunya yang membuat jaringan semacam ini efektif justru adalah kemampuannya memanfaatkan sesuatu tentang reputasi ilmuwan.

Meminjam nama besar

Jika Anda sebagai peneliti muda yang ditawari penghargaan prestisius, tentu Anda dengan mudah percaya. Tetapi bagaimana jika di halaman websitenya menyuguhkan di depannya nama penerima Nobel, profesor Stanford, Columbia, Berkeley, atau anggota US National Academy of Sciences? Dan Anda bukan lagi peneliti muda, tetapi sudah menjadi profesor di bidang sains. Kecurigaan menjadi lebih kecil.

Menurut investigasi Kozlov, sejumlah organisasi dalam jaringan ini tampaknya memberikan penghargaan atau keanggotaan tanpa biaya kepada ilmuwan terkemuka. Nama mereka kemudian muncul dalam daftar anggota atau penerima penghargaan.

Reputasi para ilmuwan tersebut selanjutnya menjadi modal reputasi organisasi. Efeknya semakin kuat ketika universitas tempat ilmuwan itu bekerja ikut mengumumkan penghargaan tersebut.

Dengan modal reputasi palsu itu, mereka kemudian dapat menarget korban baru dengan sistem keanggotaan berbayar, biasanya ini akan menyasar peneliti muda atau peneliti dari negara-negara berkembang yang belum mempunyai reputasi kuat dalam sains.

Lebih jauh lagi, Nature menemukan lebih dari 30 siaran pers dari universitas-universitas terkemuka yang merayakan keberhasilan staf mereka dalam memperoleh pengakuan dari EAE dan NAAI. Bahkan US National Academies sempat mengirimkan buletin yang memberi selamat kepada 51 anggotanya yang disebut terpilih menjadi anggota EAE.

Prestise akademik mempunyai nilai ekonomi karena sistem akademik sendiri memberikan nilai pada prestise tersebut.

Sebuah komoditi prestise

Di ujung lain sistem tersebut terdapat sesuatu yang lebih sederhana: uang.

Menurut Nature, situs NAAI menawarkan beberapa kategori keanggotaan. Biayanya mulai sekitar US$30 per tahun untuk kategori student affiliate hingga biaya awal US$600 untuk menjadi anggota penuh.

Organisasi itu juga menawarkan program doktoral virtual seharga US$10.000 dan program pascadoktoral virtual seharga US$2.000.

Anggota memperoleh sertifikat dan kartu keanggotaan digital yang dapat ditampilkan, antara lain, di LinkedIn.

Nature juga menemukan promosi dari konsultan di media sosial Cina yang menawarkan jasa membantu akademisi mendapatkan keanggotaan dari organisasi-organisasi tersebut. Belum jelas apakah konsultan itu mempunyai hubungan langsung dengan organisasi yang bersangkutan.

Karena itu, bukti yang tersedia belum cukup untuk mengatakan bahwa setiap orang yang namanya tercantum dalam organisasi tersebut telah membeli gelar atau mengetahui persoalan di balik organisasi pemberinya. Sebaliknya, investigasi menunjukkan beberapa ilmuwan terkemuka justru merasa telah diperdaya.

Namun, model bisnis seperti ini menunjukkan sesuatu yang lebih luas: prestise akademik mempunyai nilai ekonomi karena sistem akademik sendiri memberikan nilai pada prestise tersebut.

Gelar fellow, anggota akademi, penghargaan internasional, dan berbagai titel kehormatan dapat mempercantik CV. Dalam sistem yang menggunakan indikator semacam itu untuk menilai promosi, hibah, jabatan atau reputasi, titel akademik tidak lagi sekadar simbol pengakuan. Ia menjadi aset karier.

Di Cina, persoalan ini menjadi sangat menonjol. Fan Xiudi dari Tongji University menjelaskan kepada Nature bahwa sistem evaluasi penelitian di negara tersebut masih sangat bergantung pada berbagai gelar kehormatan. Gerard Postiglione dari University of Hong Kong juga mengaitkannya dengan meningkatnya kompetisi mendapatkan pekerjaan dan pendanaan penelitian.

Permintaan terhadap prestise menciptakan pasarnya sendiri.

Ego melemahkan verifikasi

Namun kasus ini tidak dapat dijelaskan hanya dengan menunjuk akademisi yang ingin memperpanjang daftar penghargaan dalam CV mereka.

Ilmuwan yang sangat mapan pun bisa terkecoh. Moshe Vardi, ilmuwan komputer di Rice University, menerima penghargaan NAAI pada Maret 2026. Ia sebelumnya tidak mengenal organisasi tersebut. Bahkan foto yang digunakan untuk mengumumkan penghargaan kepadanya terlihat aneh, seperti telah dimanipulasi menggunakan kecerdasan buatan.

Tetapi ada sesuatu yang membuatnya tidak segera curiga. Dalam daftar penerima penghargaan terdapat Judea Pearl dan Yurii Nesterov, dua ilmuwan yang sangat ia hormati.

Rice University kemudian mengeluarkan siaran pers mengenai penghargaan tersebut.

Setelah persoalan NAAI mulai terungkap, Vardi meminta universitasnya mencabut pengumuman itu. Ia mengakui kepada Nature bahwa ego turut membuatnya mengabaikan tanda-tanda yang seharusnya diperiksa lebih jauh.

Pengakuan tersebut mungkin merupakan salah satu bagian paling penting dari keseluruhan kasus.

Akademisi terbiasa memeriksa bukti ketika membaca penelitian. Mereka mempertanyakan metode, data, analisis dan kesimpulan. Namun, ketika informasi yang datang berbentuk penghargaan terhadap diri sendiri, standar pemeriksaan itu ternyata tidak selalu bekerja dengan cara yang sama. Di sini, prestise dapat menjadi titik buta.

Lebih dari sekadar kasus akademi palsu

Ada permasalahan besar yang memungkinkan kasus ini berulang di masa depan. Karena tentu saja menutup satu situs kemungkinan tidak akan menyelesaikan persoalan. Website dapat dibuat kembali. Di era Generative AI, foto bangunan dan nama organisasi dapat dimanipulasi dalam hitungan menit. Generative AI bahkan membuat produksi situs, sertifikat, profil organisasi, foto dan teks promosi semakin “murah”.

Lebih dari persoalan itu, masalah yang lebih mendasar berada pada sistem yang memungkinkan organisasi semacam itu memperoleh nilai. Selama ini budaya prestise akademisi dan institusinya terjadi dengan beragam cara. Mulai dari pemeringkatan peneliti dan institusi seperti universitas.

Selama universitas menganggap setiap titel internasional atau peringkat internasional tertentu sebagai pencapaian tanpa melakukan verifikasi terhadap organisasi pemberinya, penghargaan semacam ini tetap mempunyai nilai bagai suburnya komoditas palsu seperti ini. Selama CV akademik memperoleh tambahan nilai dari panjangnya daftar fellowship, keanggotaan akademi dan penghargaan, akan selalu ada permintaan terhadap bentuk-bentuk baru prestise.

Kasus yang ditemukan Nature juga menunjukkan bahwa verifikasi tidak bisa dibebankan hanya kepada ilmuwan penerima penghargaan. Universitas juga harus ikut mempunyai tanggung jawab.

Sebelum menerbitkan berita bahwa salah satu dosennya terpilih menjadi anggota sebuah akademi internasional, institusi setidaknya perlu mengetahui siapa yang menjalankan organisasi tersebut, bagaimana anggota dipilih, apakah organisasi mempunyai keberadaan hukum yang dapat diverifikasi, dari mana pendanaannya berasal, dan apakah pengakuannya memang dikenal oleh komunitas disiplin terkait.

Investigasi Kozlov yang terbit di Nature menunjukkan bahwa infrastruktur reputasi akademik yang selama ini dirancang untuk mengenali keunggulan ilmiah juga dapat dimanipulasi. Dalam sistem yang semakin terobsesi pada indikator, penghargaan, titel dan visibilitas, persoalannya karena itu lebih besar daripada beberapa organisasi mencurigakan di Internet.


Diadaptasi ulang ke dalam bahasa Indonesia dan dengan penambahan visualisasi gambar dari liputan khusus Max Kozlov, “Exclusive: Sham scientific societies are misleading star researchers”, Nature, 25 September 2026, doi: 10.1038/d41586-026-02980-w.

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Discover more from ScienceWatchdog.id

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading