Meet Our Fellows — Indonesian Science Affairs Fellowship 2026/01

Perjalanan Indonesian Science Affairs Fellowship 2026 kini memasuki tahap utama.

Program ini berawal dari 92 pendaftar dengan latar belakang dan domisili yang sangat beragam, dari Aceh hingga Papua, bahkan menjangkau pelamar yang sedang berada di Kyoto, Adelaide, Utrecht, dan Seoul. Dari seluruh pendaftar tersebut, 12 peserta dipilih untuk mengikuti tahap pre-fellowship, yang terdiri atas dua sesi pengantar mengenai dasar-dasar jurnalisme sains.

Setelah melalui tahap tersebut, para fellow yang ditampilkan di sini terpilih untuk melanjutkan ke Indonesian Science Affairs Fellowship 2026/01. Mereka datang dari latar belakang yang berbeda—penulis, jurnalis, hingga ilmuwan—tetapi dipertemukan oleh ketertarikan untuk memahami dan menceritakan sains kepada publik:

Ayu Nabilah — Freelance Writer
Gert Tobing — Neuroscientist
M. Galih Widiyanto — Popular Science Writer
Lika Fuaddah — Documentary Writer
Susi Gustiana — Journalist

Selama fellowship, mereka akan mengembangkan proyek liputan yang juga sangat beragam: mulai dari ekonomi karbon dan lahan gambut, kecerdasan buatan dalam penelitian biomedis, produksi dan komunikasi pengetahuan, genom purba dan sejarah migrasi manusia di Nusantara, hingga kolaborasi ilmuwan dan citizen scientists dalam konservasi hiu paus.

Namun fellowship ini bukan semata-mata program belajar menulis tentang sains. Selama sekitar tiga bulan, peserta akan mempelajari bagaimana menemukan cerita sains, memahami bagaimana sains bekerja, membaca dan mengevaluasi penelitian ilmiah, mewawancarai ilmuwan, memahami integritas penelitian dan metascience, serta meliput isu lingkungan dan kontroversi ilmiah.

Mereka akan belajar bersama para instructor dengan pengalaman yang berbeda tetapi saling melengkapi: Dyna Rochmyaningsih, Ilham Akhsanu Ridlo, Rizqy Amelia Zein, dan Harry Surjadi, bersama sejumlah pengajar lain dalam rangkaian kelas fellowship.

Gagasan di balik program ini sederhana: jurnalisme sains yang kuat membutuhkan lebih dari kemampuan menerjemahkan sains ke dalam bahasa populer. Ia membutuhkan skeptisisme, kemampuan membaca bukti, memahami bagaimana pengetahuan diproduksi, mengajukan pertanyaan kritis kepada ilmuwan, dan menempatkan sains dalam konteks masyarakat. Prinsip-prinsip inilah yang menjadi bagian penting dari proses pembelajaran fellowship.

Indonesian Science Affairs Fellowship merupakan kolaborasi antara Indonesian Science Affairs, Society of Indonesian Science Journalists (SISJ), dan ScienceWatchdog.id, sebagai bagian dari upaya yang lebih panjang untuk memperkuat ekosistem jurnalisme sains di Indonesia.

Selamat kepada para fellows. The journey has begun.

Baca lebih lanjut tentang program dan rangkaian fellowship di SISJ — Indonesian Science Affairs Fellowship 2026

#ScienceJournalism #ScienceCommunication #ScienceWriting #IndonesianScienceAffairs #ISAFellowship #SISJ #ScienceWatchdog #Journalism #Science #Indonesia


In English

Meet Our Fellows — Indonesian Science Affairs Fellowship 2026/01

The Indonesian Science Affairs Fellowship 2026 is moving into its main fellowship phase.

The programme began with 92 applicants from diverse professional and educational backgrounds, based across Indonesia and abroad. From this pool, 12 participants were selected for the pre-fellowship programme, where they took part in introductory sessions on the foundations of science journalism.

Following the pre-fellowship stage, five participants have been selected to continue as Fellows in the Indonesian Science Affairs Fellowship 2026/01:

Ayu Nabilah — Freelance Writer
Gert Tobing — Neuroscientist
M. Widiyanto — Popular Science Writer
Lika Fuaddah — Documentary Writer
Susi Gustiana — Journalist

Their backgrounds are different, but they share an interest in understanding science and bringing evidence-based stories to wider audiences.

Over the course of the fellowship, they will develop reporting projects on a wide range of topics: from peatlands and Indonesia’s carbon economy, AI agents in biomedical research, and the production and communication of scientific knowledge, to ancient genomes and human migration across the Indonesian archipelago, and collaborations between researchers and citizen scientists in whale shark conservation.

The fellowship is not simply about learning how to “translate” science into accessible language. Fellows will learn how to find science stories, understand how science works, read and critically assess scientific papers, interview scientists, investigate research integrity, engage with metascience, and report on environmental and scientific controversies.

They will learn alongside instructors with complementary backgrounds in science journalism, research, metascience, and science communication, including Dyna Rochmyaningsih, Ilham Akhsanu Ridlo, Rizqy Amelia Zein, and Harry Surjadi, as well as other contributors throughout the programme.

At the heart of the fellowship is a simple idea: strong science journalism requires more than the ability to explain science clearly. It also requires scepticism, evidence literacy, an understanding of how scientific knowledge is produced, the ability to ask critical questions, and the capacity to place science within its broader social context.

The Indonesian Science Affairs Fellowship is a collaboration between Indonesian Science Affairs, the Society of Indonesian Science Journalists (SISJ), and ScienceWatchdog.id, contributing to a longer-term effort to strengthen the science journalism ecosystem in Indonesia.

Congratulations to our five Fellows. The journey has begun.

More about the programme: Indonesian Science Affairs Fellowship 2026/01

#ScienceJournalism #ScienceCommunication #ScienceWriting #IndonesianScienceAffairs #ISAFellowship #SISJ #ScienceWatchdog #Indonesia