Oleh: Gert Tobing, Dyna Rochmyaningsih, dan Ilham A. Ridlo
Artikel ini adalah versi adaptasi dan translasi dari Indonesia Could See 19,300 Additional Heat-Related Deaths During El Niño. What Does That Number Mean?
Diperkirakan akan terjadi sekitar 19.000 kematian tambahan akibat panas di Indonesia antara September 2026 dan Februari 2027, menurut analisis terbaru oleh Climate Impact Lab. Para ilmuwan menyerukan agar peringatan panas dan rencana tindakan pencegahan bagi kelompok rentan ditingkatkan.
Diterbitkan oleh Climate Impact Lab (23/9/2026) di Energy Policy Institute Universitas Chicago, studi ini memperkirakan bagaimana kenaikan suhu memengaruhi angka kematian di 24.378 wilayah di lebih dari 40 negara, dengan mempertimbangkan iklim lokal, pendapatan, dan kapasitas adaptasi.
Secara global, laporan tersebut memproyeksikan 451.000 kematian terkait panas selama fenomena El Niño ini dibandingkan dengan tahun normal. Laporan tersebut menggambarkan suhu saat ini sebagai “kartu pos dari masa depan”. Sebuah catatan menyoroti bahwa suhu yang disebabkan oleh fenomena Super El Niño saat ini akan menjadi “normal baru” dalam 20 tahun ke depan.
Analisis tersebut memproyeksikan beban angka kematian absolut akibat panas yang sangat tinggi bagi Indonesia selama siklus Super El Niño ini. Indonesia diproyeksikan akan mengalami sekitar 19.300 kematian tambahan akibat panas, angka absolut yang lebih tinggi daripada Filipina (6.500) dan Vietnam (5.600), serta total proyeksi terbesar di Asia Tenggara.
“Indonesia menempati peringkat kedua dalam hal jumlah kematian yang diperkirakan selama 6 bulan ke depan berdasarkan proyeksi kami,” ujar Emily Grover-Kopec, salah satu penulis laporan dan direktur di Rhodium Group, dalam tanggapan tertulisnya kepada ScienceWatchdog.id.Sekitar 10.400 kasus kematian tersebut terkonsentrasi pada periode Desember 2026 hingga Februari 2027.
Menurut studi tersebut, peringatan ini dimaksudkan sebagai seruan dini untuk mengambil tindakan mitigasi. Sebagian besar kematian yang diproyeksikan belum terjadi, sehingga masih ada beberapa bulan di mana pemerintah berpotensi mengurangi beban kesehatan.
Proyeksi ini muncul saat Indonesia sedang mengalami fenomena Super El Niño. Menurut Erma Yulihastin, profesor peneliti di Pusat Iklim dan Atmosfer BRIN, intensitas El Niño telah meningkat 0,1°C per minggu sejak Februari 2026, mencapai 2,54°C dan diprediksi akan melampaui 3,5°C pada Desember, yang merupakan El Niño terpanjang dan terkuat yang pernah tercatat. (BMKG melaporkan 2,76 °C dalam rilis bulan September)
Selain itu, kebakaran telah melahap 895.657 hektar di seluruh Indonesia dari Januari hingga Agustus 2026 menurut Nusantara Atlas. Kementerian Kesehatan melaporkan lebih dari 165.000 kasus infeksi saluran pernapasan per Agustus. Sungai terpanjang di Indonesia, Kapuas, telah mengering di Kalimantan Barat, provinsi yang paling parah terdampak.
Namun, berita-berita ini hanyalah puncak gunung es, kata para ilmuwan. WHO menyatakan bahwa panas dapat memengaruhi kesehatan baik secara langsung maupun tidak langsung. Ketika suhu meningkat, orang-orang rentan mengalami stres panas. Stres panas ini dapat mengganggu suhu tubuh seseorang, menyebabkan heat stroke, dan memperburuk risiko kesehatan kronis seperti kondisi kardiovaskular, mental, dan pernapasan yang sudah ada sebelumnya.
“Mekanisme utama di mana suhu tinggi memengaruhi kesehatan manusia dan menyebabkan kematian adalah melalui tekanan pada sistem kardiovaskular dan pernapasan, dehidrasi, serta heat stroke,” kata Grover-Kopec.
Sebagian besar kematian ini tidak akan tercatat sebagai “kematian akibat panas.” Sebaliknya, kematian tersebut akan tercatat sebagai henti jantung, kegagalan pernapasan, dan stroke. WHO mendefinisikan angka kematian berlebih sebagai selisih antara jumlah total kematian dalam periode tertentu dengan angka yang biasanya diharapkan dalam satu tahun rata-rata.
Also read our related article:

Antara Peringatan dan Catatan Metodologis
Grover-Kopec mengatakan proyeksi timnya didasarkan pada studi tahun 2022 oleh Climate Impact Lab yang meneliti hubungan antara suhu dan angka kematian di 41 negara. Dengan menggunakan data sekitar 399 juta kematian pada periode 1996–2025, studi tersebut membangun model matematis yang menunjukkan bagaimana angka kematian berlebih meningkat seiring kenaikan suhu. Beberapa faktor seperti iklim lokal, tingkat pendapatan, dan kapasitas adaptasi juga dipertimbangkan untuk melihat bagaimana setiap negara menghasilkan hasil yang berbeda dalam model tersebut.
Untuk laporan ini, hubungan antara panas dan kematian tersebut digabungkan dengan prakiraan suhu enam bulan dari sistem musiman European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (salah satu alat prakiraan cuaca paling andal di dunia) guna memproyeksikan angka kematian berlebih selama periode El Niño ini.
“Kami memulai dengan anomali suhu yang diperkirakan untuk enam bulan ke depan dari ECMWF. Kami kemudian menggunakan hubungan yang ditemukan dalam studi tahun 2022, yang memperkirakan angka kematian berlebih terkait suhu berdasarkan suhu, untuk menerjemahkan suhu yang diperkirakan tersebut menjadi angka kematian berlebih akibat panas”, kata Grover-Kopec.
Ini adalah pertama kalinya model tahun 2022 diterapkan pada peramalan musiman karena model tersebut awalnya dirancang untuk proyeksi jangka panjang yang mencakup beberapa dekade, bukan rentang waktu enam bulan.
“Ini adalah pertama kalinya kami menggunakan studi tahun 2022 untuk kasus penggunaan jangka pendek seperti ini… dengan perbedaan utama bahwa dalam penelitian ini kami menggunakan prakiraan suhu musiman untuk 6 bulan ke depan, bukan proyeksi suhu dari model iklim untuk 75 tahun ke depan”, jelas Grover-Kopec, untuk menggambarkan penerapan tersebut sebagai penggunaan baru dari kerangka kerja yang telah mapan.
Mengapa Indonesia Menduduki Peringkat yang Begitu Tinggi?
Jumlah kematian yang diperkirakan tinggi di Indonesia terutama disebabkan oleh jumlah penduduk yang besar dan anomali suhu yang terus meningkat, menurut Grover-Kopec. Perkiraan anomali kenaikan suhu sebesar 1-2°C yang terjadi saat Indonesia mengalami tekanan akibat panas menempatkan Indonesia pada peringkat tinggi dalam proyeksi kematian terkait panas.

Apa yang Dapat Dilakukan
Laporan tersebut menunjukkan berbagai intervensi yang terbukti dapat mengurangi angka kematian akibat panas, seperti sistem peringatan dini, pusat pendingin, pos hidrasi, perlindungan pekerja, serta perluasan jangkauan sistem kesehatan kepada kelompok rentan. Yang terpenting, sebagian besar angka kematian yang diproyeksikan di Indonesia masih akan terjadi pada bulan Desember hingga Februari mendatang. Jendela waktu tersebut memberikan peluang untuk mengambil tindakan, menurut laporan tersebut.
“Situasinya bisa menjadi lebih buruk,” kata Yulihastin kepada Indonesian Science Affairs dalam wawancara sebelumnya.
El Niño, katanya, merupakan salah satu faktor yang berkontribusi terhadap krisis yang sedang dihadapi Indonesia saat ini, bukan satu-satunya penyebab. Kesalahan pengelolaan lahan gambut dan pembakaran yang disengaja tetap menjadi penyebab utama kebakaran. Namun, ketika tanda-tanda panas ekstrem begitu jelas, ia berpendapat, peraturan harus ditegakkan sebelum kerusakan semakin parah.
Kementerian Kesehatan Indonesia telah menyiapkan masker, oksigen, dan logistik kesehatan untuk melawan gas beracun yang dihasilkan oleh kebakaran hutan saat ini. Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia memandang proyeksi Climate Impact Lab mengenai 19.300 korban jiwa sebagai peringatan dini yang dapat ditindaklanjuti, bukan sebagai hasil yang pasti.
Pejabat Sementara Kepala Bidang Data, Informasi, dan Komunikasi Bencana di BNPB, Berton SP Panjaitan, menekankan bahwa meskipun angka-angka tersebut berfungsi sebagai peringatan kritis, angka-angka tersebut tidak memperhitungkan dampak sekunder El Niño seperti kekeringan parah serta kebakaran lahan gambut atau hutan, kata Berton kepada Republika.
Penulisan draft: Gert Tobing
Penyuntingan: Dyna Rochmyaningsih, Ilham Ridlo
Tata letak/Visualisasi data: Ilham A. Ridlo
Foto/Gambar: Melvinas Priananda