Ketika menghadapi persoalan besar seperti perubahan iklim, pandemi, atau perkembangan teknologi baru, masyarakat tidak hanya menerima informasi dari satu sumber. Mereka berhadapan dengan pesan dari ilmuwan, pemerintah, korporasi, media, dan orang-orang di sekitarnya—sering kali dengan posisi yang bertolak belakang.
Seorang ilmuwan mungkin menyatakan bahwa suatu tindakan diperlukan dan tindakan itu didukung oleh sains. Pemerintah dapat mengambil posisi berbeda karena prioritas khusus dan juga pilihan politis. Sektor swasta mungkin menolak perubahan tertentu karena tidak sesuai dengan misi bisnis, sementara masyarakat menunjukkan tingkat dukungan yang beragam sehingga sering kali terjadi polarisasi. Dalam situasi seperti ini, keputusan publik dalam isu besar seperti perubahan iklim dan pandemi tidak terbentuk hanya oleh kredibilitas satu aktor, melainkan oleh konfigurasi berbagai sinyal informasi yang hadir secara bersamaan.
Dalam riset terbaru dengan empat studi preregistrasi, para peneliti menguji bagaimana kombinasi sinyal informasi dari ilmuwan, masyarakat umum, pemerintah, dan sektor swasta memengaruhi respons publik terhadap berbagai persoalan lingkungan, kesehatan, dan teknologi.
Temuan utama penelitian ini menunjukkan sebuah pola yang konsisten, yaitu dukungan bersama dari ilmuwan dan masyarakat merupakan kombinasi sinyal informasi yang paling kuat dalam memobilisasi respons publik, termasuk ketika pemerintah dan industri mengambil posisi yang berlawanan.
Penelitian ini penting karena banyak studi sebelumnya cenderung menelaah pengaruh masing-masing aktor secara terpisah. Penelitian tentang komunikasi sains, misalnya, sering mengkaji pengaruh konsensus ilmiah. Literatur lain meneliti norma sosial, kepercayaan terhadap pemerintah, atau pengaruh perusahaan. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, individu tidak menerima sinyal-sinyal tersebut secara terisolasi dan terpisah. Pada kenyataannya, sinyal-sinyal informasi ini berkelindan satu sama lain. Mereka harus menafsirkan lingkungan informasi yang lebih kompleks.
Empat studi eksperimen tentang persoalan sosial
Dalam dua eksperimen conjoint, peserta diminta memilih di antara berbagai solusi terhadap persoalan sosial. Setiap pilihan disertai informasi mengenai apakah ilmuwan, masyarakat umum, pemerintah, dan perusahaan mendukung, menentang, atau tidak menyatakan posisi terhadap solusi tersebut.
Desain ini memungkinkan peneliti membandingkan bobot relatif dari setiap sumber sinyal informasi sekaligus menguji berbagai kombinasi dukungan dan penolakan.
Studi pertama berfokus pada isu lingkungan, termasuk kebijakan iklim, kendaraan listrik, dan protein berkelanjutan.
Studi kedua memperluas pengujian ke sembilan isu dalam tiga bidang, yaitu lingkungan, kesehatan, dan teknologi.
Di seluruh bidang tersebut, sinyal informasi dari ilmuwan dan masyarakat memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap pilihan peserta dibandingkan dengan sinyal informasi dari pemerintah dan sektor swasta. Pola ini juga tetap terlihat ketika peneliti membedakan antara dukungan yang dinyatakan melalui kata-kata dan dukungan yang ditunjukkan melalui tindakan.
Namun, penelitian ini tidak berhenti pada pilihan hipotetis.
Dalam studi ketiga, peserta diberi kesempatan untuk menyumbangkan sebagian bonus uang mereka kepada organisasi nirlaba yang bekerja pada isu privasi data. Informasi tentang posisi berbagai aktor sosial diberikan sebelum peserta memutuskan apakah akan menyumbang.
Studi ketiga ini penting karena memperluas analisis terhadap preferensi terhadap perilaku yang memiliki konsekuensi material. Peneliti ingin mengetahui apakah pola yang sebelumnya muncul dalam tugas pilihan juga dapat terlihat ketika peserta harus mengorbankan sebagian keuntungan finansial mereka.
Studi keempat kemudian membawa pengujian ke lingkungan digital yang lebih naturalistik. Melalui eksperimen A/B pada Facebook, peneliti membandingkan respons pengguna terhadap iklan yang menampilkan konfigurasi dukungan dari aktor-aktor sosial yang berbeda.
Keempat rangkaian studi tersebut menguji fenomena yang sama dalam beberapa konteks persoalan sosial, mulai dari pilihan kebijakan dan produk, keputusan donasi, serta keterlibatan dalam komunikasi digital.

Mengapa kombinasi dukungan dari ilmuwan dan masyarakat tampak memiliki pengaruh yang lebih besar?
Secara teoretis, para peneliti menginterpretasikan kekuatan kombinasi ini melalui kemungkinan adanya dua fungsi psikologis yang saling melengkapi.
Ilmuwan diasosiasikan oleh peserta dengan pengetahuan dan kompetensi, sehingga mereka diharapkan dapat memenuhi kebutuhan individu akan akurasi dalam pengambilan keputusan.
Masyarakat umum menyediakan sinyal informasi yang berbeda. Peserta menilai anggota masyarakat sebagai aktor yang lebih mudah diidentifikasi dan lebih disukai. Dukungan dari masyarakat umum dapat memberikan sinyal penerimaan sosial, identifikasi, dan afiliasi.
Lebih lanjut, analisis eksploratif menunjukkan bahwa ilmuwan dipersepsikan sebagai aktor yang paling berpengetahuan, sedangkan masyarakat dipersepsikan sebagai yang paling mudah diidentifikasi dan disukai. Para peneliti menemukan bahwa pengaruh kedua sinyal informasi tersebut cenderung bersifat aditif, bukan sinergistik, yang berarti bahwa masing-masing sinyal informasi ini memberikan kontribusi tersendiri terhadap mobilisasi tindakan.
Temuan ini memiliki implikasi bagi cara pemahaman komunikasi sains, khususnya tentang perubahan iklim dan pandemi.
Selama ini, banyak strategi komunikasi sains berangkat dari asumsi bahwa meningkatkan pengetahuan publik tentang posisi ilmiah akan dengan sendirinya meningkatkan dukungan terhadap suatu tindakan. Penelitian ini menunjukkan bahwa informasi mengenai apa yang dikatakan ilmuwan berada dalam lingkungan sosial yang lebih luas.
Publik tidak hanya mempertimbangkan apa yang diketahui oleh para ahli, tetapi juga berbagai petunjuk mengenai bagaimana aktor lain merespons persoalan yang sama.
Namun, sebagai catatan penting, temuan ini tidak berarti bahwa konsensus sosial harus menggantikan bukti ilmiah. Sebaliknya, penelitian ini menunjukkan bahwa keduanya dapat berfungsi sebagai sumber informasi yang berbeda dalam proses pengambilan keputusan. Konsensus ilmiah menyediakan sinyal informasi mengenai pengetahuan dan kompetensi, sementara konsensus sosial memberikan informasi mengenai penerimaan dan posisi kelompok.
Bagi komunikasi sains, perbedaan tersebut penting. Menyampaikan bahwa terdapat konsensus ilmiah yang dapat menjawab pertanyaan mengenai dasar pengetahuan suatu klaim. Namun, komunikasi tersebut berlangsung dalam lingkungan yang juga dipenuhi oleh informasi mengenai apa yang dipercaya, dilakukan, atau didukung oleh orang lain. Dengan kata lain, penerimaan terhadap informasi ilmiah tidak berlangsung di ruang sosial yang kosong.
Meski demikian, penelitian ini memiliki sejumlah keterbatasan yang perlu diperhatikan
Pertama, seluruh penelitian dilakukan di Amerika Serikat. Tingkat kepercayaan terhadap ilmuwan, pemerintah, dan perusahaan berbeda antarnegara. Para peneliti secara eksplisit menyatakan bahwa pola yang ditemukan dapat berbeda dalam populasi dengan konfigurasi kepercayaan institusional yang lain.
Namun begitu, konteks Amerika Serikat juga relevan karena tingkat kepercayaan terhadap pemerintah relatif rendah. Kondisi ini dapat membantu menjelaskan mengapa sinyal informasi dari pemerintah dalam penelitian tersebut tidak memiliki pengaruh sebesar sinyal dari ilmuwan dan masyarakat.
Kedua, dalam eksperimen conjoint, peserta terutama membuat keputusan berdasarkan informasi mengenai siapa yang mendukung atau menentang suatu pilihan. Mereka tidak menerima informasi substantif yang mendalam mengenai kualitas kebijakan, produk, atau solusi yang sedang dievaluasi.
Desain ini relevan untuk situasi ketika individu memiliki informasi terbatas dan menggunakan sinyal informasi dari aktor lain sebagai petunjuk dalam mengambil keputusan. Namun, banyak keputusan di dunia nyata juga melibatkan pengalaman pribadi, pengetahuan sebelumnya, kepentingan material, identitas politik, dan informasi substantif mengenai persoalan yang dihadapi.
Ketiga, penelitian ini menguji pengaruh aktor sebagai sumber sinyal terhadap respons publik, bukan kapasitas institusional mereka untuk menghasilkan perubahan sosial. Pemerintah dan perusahaan tetap memiliki peran yang sangat berbeda dalam pembuatan kebijakan, alokasi sumber daya, regulasi, dan implementasi solusi dalam skala besar. Karena itu, rendahnya pengaruh relatif suatu sinyal terhadap pilihan peserta tidak dapat diartikan bahwa aktor tersebut tidak penting dalam penyelesaian persoalan sosial.
Kontribusi bagi studi komunikasi sains
Bagi studi komunikasi sains, studi ini menjelaskan bahwa memahami respons publik terhadap sains tidak cukup dilakukan dengan mempelajari hubungan antara ilmuwan dan individu secara terpisah. Hubungan tersebut selalu berlangsung di tengah masyarakat, institusi, kepentingan ekonomi, dan berbagai sumber informasi lain yang ikut membentuk bagaimana sebuah pesan ditafsirkan.
Persoalan sosial kontemporer berkembang dalam lingkungan informasi yang semakin kompleks. Publik dapat menerima dukungan ilmiah terhadap suatu tindakan pada saat yang sama ketika pemerintah mengambil kebijakan berbeda dan perusahaan mempertahankan kepentingan yang berlawanan.
Efektivitas suatu pesan tidak hanya bergantung pada kredibilitas pembawa pesan. Ia juga bergantung pada bagaimana pesan tersebut ditempatkan dalam konfigurasi sosial yang lebih luas. Hal ini menunjukkan bahwa ketika pengetahuan ilmiah dan dukungan sosial mengarah pada posisi yang sama, keduanya dapat menyediakan dua bentuk legitimasi yang berbeda, yaitu legitimasi yang berkaitan dengan kompetensi dan pengetahuan, serta legitimasi yang berkaitan dengan penerimaan sosial.