family enjoying iftar meal at restaurant
Photo by Nurul Sakinah Ridwan on Pexels.com

Psikologi Makan: Lebih dari Sekadar Mengisi Perut Kosong

Dua minggu yang lalu Anda sudah konsisten mengurangi karbohidrat, menghindari gorengan, dan mencatat kalori setiap hari. Lalu Sabtu malam datang, ada makan malam keluarga besar, dan dalam dua jam semua komitmen itu runtuh. Senin pagi, Anda memulai dari nol lagi. Biasanya Anda akan merasa bahwa hal ini merupakan bentuk kegagalan niat.

Namun, sebuah telaah oleh peneliti psikolog kesehatan dari Universitas Mannheim (Jerman), menawarkan penjelasan yang lebih dari sekadar kegagalan niat individu. Kita gagal bukan karena niat kita lemah, melainkan karena kita mencoba mengubah perilaku yang pada dasarnya bersifat sosial dengan cara yang sepenuhnya menggunakan pendekatan individual.

Jutta Mata menunjukkan bahwa sebagian besar penelitian tentang perilaku makan selama ini memperlakukan makan sebagai aktivitas pribadi, padahal data empiris menunjukkan sebaliknya. Bahkan di negara-negara Eropa Utara yang dikenal individualis, hanya sekitar sepertiga makanan dikonsumsi sendirian. Sekitar 42 hingga 46 persen makanan masih dimakan bersama anggota keluarga. Angka ini kemungkinan lebih tinggi di Indonesia, meski data lokal yang spesifik belum tersedia untuk perbandingan langsung. Dari perspektif evolusioner, berbagi makanan adalah strategi bertahan hidup. Otak manusia terbentuk dalam konteks makan bersama, dan warisan ini masih aktif dalam perilaku kita hari ini.

Salah satu temuan paling menarik yang diulas oleh Matta berasal dari studi buku harian tujuh hari terhadap 515 partisipan di Amerika Serikat. Studi itu menemukan bahwa asupan kalori paling rendah terjadi saat makan sendirian, meningkat saat makan bersama rekan kerja, dan mencapai puncaknya saat makan bersama teman dekat atau keluarga. Kondisi ini sudah terjadi sebelum makanan pada hari pertama saat data diambil. Penelitian yang dikutip Mata menunjukkan bahwa orang cenderung mengambil porsi lebih besar ketika mereka sudah tahu akan makan bersama orang lain.

Fasilitasi Sosial Hingga Mukbang

Dalam psikologi sosial, ini dikenal sebagai social facilitation atau fasilitasi sosial, yaitu kecenderungan untuk mengonsumsi lebih banyak ketika orang lain hadir. Lebih jauh lagi, penelitian lain yang diulas Mata mencatat bahwa sebagian besar orang tidak menyadari bahwa kehadiran sosial memengaruhi pilihan makan mereka.

Tinjauan Mata juga mengidentifikasi pergeseran dalam bentuk makan bersama di era digital. Tiga bentuk baru yang relevan adalah: makan bersama melalui panggilan video, berbagi foto makanan secara tidak sinkron di media sosial (instafood) yang membentuk komunitas selera, dan menonton siaran langsung seseorang makan dalam porsi besar sambil berinteraksi dengan penonton, yang dikenal sebagai mukbang, sebuah fenomena asal Korea Selatan yang kini memiliki banyak pengikut di Indonesia. Soal layar dan makan, Mata mencatat bahwa penggunaan layar saat makan sering dikaitkan dengan peningkatan asupan hingga sepertiga lebih banyak, khususnya saat menonton televisi. Namun, studi-studi tersebut sebagian besar bersifat korelasional, sehingga belum bisa disimpulkan bahwa layar secara langsung menyebabkan makan berlebih.

Mata juga merangkum sejumlah studi yang menemukan asosiasi antara frekuensi makan malam bersama keluarga dan indikator kesehatan mental yang lebih baik pada remaja, termasuk tingkat depresi yang lebih rendah. Namun, Mata sendiri menekankan batas dari temuan ini. Bukti yang ada sebagian besar bersifat observasional, bukan eksperimental.

Ia belum bisa menyimpulkan bahwa makan keluarga secara langsung melindungi kesehatan mental remaja, karena banyak variabel lain yang mungkin berperan, termasuk kohesi keluarga, kondisi ekonomi, dan pola asuh. Yang tampak lebih konsisten adalah bahwa kualitas suasana meja makan, apakah berlangsung dengan hangat atau penuh konflik, tampaknya lebih penting daripada sekadar frekuensinya.

Bagian yang paling provokatif dari tinjauan Mata adalah kritiknya terhadap teori-teori perubahan perilaku yang sudah ada. Ia mengidentifikasi bahwa terdapat lebih dari 80 teori perubahan perilaku dalam literatur kesehatan, namun dari 20 kelompok teknik yang diidentifikasi, hanya dua yang secara eksplisit bersifat sosial.

Aspek-aspek yang lebih kompleks seperti kualitas hubungan, dinamika kekuasaan dalam pasangan, dan suasana emosional saat makan sebagian besar tidak masuk ke dalam kerangka teori yang ada. Satu contoh konkret: ketika pasangan mulai tinggal bersama, data dari Jerman dan Swiss menunjukkan bahwa pola makan keduanya cenderung menyatu. Perempuan cenderung meningkatkan konsumsi daging, sementara laki-laki cenderung mengonsumsi lebih banyak sayuran. Diet kita, dengan kata lain, bersifat interdependen dengan orang-orang terdekat kita.

Mata berargumen bahwa penelitian dan intervensi perilaku makan perlu bergeser dari fokus pada individu semata menuju pemahaman yang lebih sistemik tentang konteks sosial. Ini bukan berarti kemauan individu tidak penting. Ini berarti bahwa kemauan individu beroperasi di dalam jaringan sosial yang kuat dan mengabaikan jaringan itu adalah kesalahan metodologis yang mahal.

Bagi kita di Indonesia, di mana makan adalah ekspresi kebersamaan, kepercayaan, dan identitas budaya, pesan ini terasa relevan. Meja makan bukan hanya tempat nutrisi terjadi, lebih dari itu, merupakan tempat norma terbentuk, kebiasaan yang diwariskan, dan perubahan perilaku.

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Discover more from ScienceWatchdog.id

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading