woman multitasking with phone and laptop in office

Mengapa Skor Turnitin Bukan Vonis Plagiarisme Mahasiswa

Photo by Heru Dharma on Pexels.com

Universitas Southampton akan meninggalkan Turnitin setelah muncul persoalan mengenai penggunaan karya mahasiswa untuk pengembangan AI. Kasus ini juga mengingatkan pada kekeliruan lama di perguruan tinggi tentang “obsesi” menyamakan skor kemiripan (similarity) dengan plagiarisme.

Ada sebuah angka yang cukup berkuasa dalam kehidupan mahasiswa, yaitu similarity index. Di Indonesia misalnya, Turnitin menjadi sebuah alat vonis yang dijadikan “palu godam” solusi masalah sistemik tentang integritas akademik. Di level pembelajaran kampus, setelah tugas diunggah ke Turnitin, sebuah persentase muncul. Angka kecil dalam bentuk persentase sering dianggap aman. Angka persentase besar menimbulkan kecurigaan dan berujung pada vonis “plagiasi”. Di sejumlah kampus bahkan berkembang ketentuan bahwa tugas harus memiliki skor Turnitin di bawah batas tertentu.

Sebuah fakta yang kabur adalah bahwa Turnitin tidak mengukur plagiarisme. Alat ini bukan vonis mutlak untuk mengukur tingkat plagiasi.

Turnitin membandingkan teks dengan sumber yang tersedia dalam basis datanya, kemudian menunjukkan bagian yang memiliki kemiripan. Laporannya tidak menentukan apakah seseorang melakukan plagiarisme. Turnitin sendiri menjelaskan bahwa Similarity Report hanya menandai teks yang cocok atau mirip dengan sumber lain. Pengajar tetap harus membaca laporan tersebut dan menilai konteksnya.

Masalah Baru Turnitin

Yang terbaru, Universitas Southampton memutuskan untuk meninggalkan Turnitin. Universitas di Inggris itu tidak akan memperpanjang kontraknya setelah tahun akademik 2026–27 dan mulai mengurangi penggunaan layanan tersebut pada tahun ini.

Penyebabnya adalah perubahan End User License Agreement (EULA) yang direncanakan oleh Turnitin. Menurut mereka, ketentuan baru itu akan memungkinkan karya mahasiswa yang diserahkan melalui layanan tersebut digunakan untuk melatih layanan kecerdasan buatan. Turnitin kemudian menunda perubahan itu. Namun, Southampton mengatakan perusahaan masih berencana mempertimbangkannya kembali pada tahun berikutnya.

Universitas Southampton memutuskan untuk tidak menunggu tahun depan dan menyebut tanggung jawab untuk melindungi data, kekayaan intelektual dan karya akademik mahasiswa sebagai alasan penghentian kontrak. Mata kuliah yang dimulai pada atau setelah 14 September 2026 tidak lagi diarahkan untuk menggunakan Turnitin. Blackboard Assignment dengan SafeAssign disediakan sebagai pengganti sementara.

Perubahan End User License Agreement (EULA) yang direncanakan oleh Turnitin berkaitan dengan ketentuan baru yang memungkinkan karya mahasiswa yang diserahkan melalui layanan tersebut digunakan untuk melatih layanan kecerdasan buatan. Sekalipun Turnitin kemudian menunda perubahan itu. Namun, Univeritas Southampton mengatakan perusahaan masih berencana mempertimbangkannya kembali pada tahun berikutnya.

Sementara di tempat lain, Universitas Sussex juga mencatat rencana perubahan EULA tersebut. Menurut mereka, ketentuan baru semula dijadwalkan berlaku pada 14 Juli 2026 dan memunculkan pertanyaan mengenai privasi data dan kontrak antara universitas dan Turnitin. Setelah muncul keberatan dari sektor pendidikan tinggi, implementasinya ditunda.

Kabar itu kemudian beredar di media sosial dengan narasi yang lebih keras. Unggah di media sosial seperti di Sludgemag memunculkan narasi bahwa perusahaan (baca: Turnitin) yang digunakan universitas untuk mencegah mahasiswa “mencuri” karya orang lain, menurut narasi tersebut, sekarang hendak menggunakan karya mahasiswa untuk melatih AI.

Kabar yang menjadi perbincangan di lingkungan akademik Inggris ini memang masih belum banyak mendukung kesimpulan tentang keinginan Turnitin untuk menggunakan data pengguna untuk melatih kecerdasan buatannya.

Turnitin bereaksi atas hal ini dengan menyatakan secara sepihak bahwa karya mahasiswa tidak digunakan untuk melatih model yang mendukung Turnitin Clarity, produknya yang menyediakan beberapa fungsi berbasis AI. Perusahaan mengatakan model tersebut tidak menggunakan atau menyimpan data mahasiswa untuk AI training and evaluation. Turnitin memang menyebut penggunaan data tugas mahasiswa yang telah dianonimkan untuk mengevaluasi dan meningkatkan kemampuan AI assistant.

Maka perlu dibedakan antara apa yang sudah dilakukan dan apa yang direncanakan. Southampton mengatakan bahwa Turnitin merencanakan ketentuan yang memungkinkan student submissions digunakan untuk melatih layanan AI. Rencana itu ditunda. Kekhawatiran bahwa ketentuan tersebut dapat kembali diberlakukan kemudian menjadi alasan Southampton untuk tidak memperpanjang kontrak.

Pihak Turnitin menyatakan bahwa karya mahasiswa tidak digunakan untuk melatih model yang mendukung Turnitin Clarity. Perusahaan mengatakan model tersebut tidak menggunakan atau menyimpan data mahasiswa untuk AI training and evaluation. Disisi lain, mereka menyebut penggunaan data tugas mahasiswa yang telah dianonimkan untuk mengevaluasi dan meningkatkan kemampuan AI assistant.

Persoalan tersebut membawa perhatian kembali pada fungsi Turnitin sendiri.

Similarity index bukan persentase plagiarisme. Sebuah tulisan dapat memperoleh skor tinggi tanpa melakukan plagiarisme. Kutipan langsung yang diberi atribusi, daftar pustaka, nama organisasi atau uraian metode yang menggunakan istilah standar dapat menghasilkan kecocokan. Sebaliknya, skor rendah tidak membuktikan bahwa sebuah tulisan bebas dari masalah.

Seseorang dapat mengambil gagasan dari sumber lain, menuliskannya kembali dan tidak memberikan atribusi. Kemiripan kata mungkin sedikit, tetapi masalah akademiknya tetap ada. Generative AI menambah persoalan lain. Teks yang dihasilkan model bahasa dapat memiliki tingkat kemiripan sangat rendah karena susunan kalimatnya belum pernah muncul dalam corpus yang diperiksa. Angka persentase rendah tidak memberi tahu siapa yang menulis teks tersebut, bagaimana sumber digunakan atau apakah penggunaan AI diperbolehkan dalam tugas itu.

Penelitian mengenai perangkat pencocokan teks sudah lama menunjukkan keterbatasan tersebut. Text-matching software dapat menemukan kesamaan yang perlu diperiksa, tetapi penentuan plagiarisme membutuhkan konteks dan penilaian manusia. Karena itu, kebiasaan menetapkan batas seperti “maksimal Turnitin 20%” mempunyai dasar yang lemah jika angka tersebut diperlakukan sebagai ukuran plagiarisme. Bahkan kebijakan “sembrono” seperti itu dapat mengubah perilaku mahasiswa. Targetnya bukan lagi menggunakan sumber secara benar, melainkan menurunkan angka persentase indeks. Kalimat diganti, susunan kata diubah dan parafrase dilakukan sampai kecocokan berkurang. Skornya mungkin turun, tetapi kualitas atribusinya belum tentu membaik.

Text-matching software dapat menemukan kesamaan yang perlu diperiksa, tetapi penentuan plagiarisme membutuhkan konteks dan penilaian manusia. Karena itu, kebiasaan menetapkan batas seperti “maksimal Turnitin 20%” mempunyai dasar yang lemah jika angka tersebut diperlakukan sebagai ukuran plagiarisme. Bahkan kebijakan “sembrono” seperti itu dapat mengubah perilaku mahasiswa.

Kekeliruan yang Kita Tutupi dari Turnitin

Kekeliruan tentang angka Turnitin ini juga membuat bagian penting dari Turnitin jarang dibicarakan. Untuk membandingkan tulisan, sistem membutuhkan corpus. Perhatian pengguna biasanya tertuju pada persentase yang muncul di layar, bukan pada infrastruktur yang memungkinkan persentase itu dihasilkan. Pertanyaannya seharusnya lebih luas: dari mana mereka membuat pemodelan? dokumen apa yang diproses, apakah karya mahasiswa disimpan, bagaimana karya tersebut digunakan, siapa yang dapat mengaksesnya dan berapa lama data dipertahankan?

Kehadiran AI membuat pertanyaan semacam ini lebih sulit diabaikan. Corpus tulisan manusia dapat digunakan untuk banyak keperluan selain pencocokan teks. Data dapat membantu mengevaluasi sistem, menguji keluaran dan mengembangkan fitur. Dalam kondisi tertentu, data juga dapat digunakan dalam pelatihan model.

Mahasiswa hingga para dosen dan peneliti, sementara itu, menyerahkan tugas dan capaian ilmiahnya untuk tujuan yang jelas: memenuhi kewajiban akademik/riset dan memperoleh penilaian. Jika universitas dan lembaga riset menggunakan Turnitin, dokumen itu juga diproses untuk memeriksa kemiripan. Penggunaan berikutnya untuk pengembangan AI menimbulkan pertanyaan lain mengenai tujuan pemrosesan dan persetujuan.

Persoalan persetujuan di lingkungan pendidikan dan riset juga tidak sederhana. Mahasiswa dan akademisi tidak selalu dapat memilih platform yang digunakan untuk menyerahkan tugas dan capaian kinerja mereka. Misalnya, jika sebuah mata kuliah mewajibkan penggunaan sistem tertentu, menolak ketentuan layanan dapat membuat mahasiswa kesulitan menyelesaikan proses pengumpulan tugas. Menekan tombol “agree” dalam situasi seperti ini tidak sama dengan memilih menggunakan sebuah aplikasi secara sukarela. Begitu juga, para dosen dan peneliti tidak akan banyak dapat “menolak” penilaian jenjang karir dan kepangkatannya jika penilaian akhir sering kali ditentukan oleh vonis persentase Turnitin ini. Mereka sama seperti para mahasiswa, tidak dapat menolak, bahkan bertanya secara kritis. Ini kenyataannya.

Kajian tentang learning analytics telah membahas masalah serupa jauh sebelum generative AI menjadi populer. Pengumpulan dan penggunaan data mahasiswa membawa persoalan mengenai privasi, transparansi, persetujuan dan kendali atas data. AI memperluas kemungkinan penggunaan data tersebut.

Keputusan Universitas Southampton juga datang ketika universitas sedang sibuk mengatur penggunaan AI oleh mahasiswa. Sejak ChatGPT menyebar, banyak perguruan tinggi membuat pedoman tentang penggunaan AI dalam tugas, deklarasi penggunaannya dan sanksi ketika teknologi tersebut dipakai di luar ketentuan. Pengawasan itu tidak hanya relevan untuk mahasiswa. Universitas perlu mengetahui bagaimana perusahaan yang mereka kontrak memperlakukan karya yang diserahkan mahasiswa.

Berhenti menggunakan Turnitin tentu tidak mengakhiri persoalan. Universitas Southampton sendiri beralih sementara ke SafeAssign. Semua layanan semacam ini tetap memerlukan pemeriksaan terhadap cara data diproses dan digunakan. Mengganti perangkat lunak juga tidak banyak membantu apabila perguruan tinggi masih menganggap similarity score sebagai ukuran plagiarisme.

Apa yang terjadi di Universitas Southampton menyatukan dua persoalan yang selama ini sering dibicarakan secara terpisah. Yang pertama adalah cara perguruan tinggi menilai integritas akademik. Yang kedua adalah cara mereka mengelola karya mahasiswa setelah karya tersebut masuk ke sistem digital. Pertanyaan “berapa persen Turnitin?” sejak awal memang kurang tepat.

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Discover more from Science Watchdog.id

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading