Apa yang terjadi ketika seorang anak perempuan “sekadar bermain”? Puisi karya Anita Wadley (1974) berjudul Just Playing, mempertanyakan kepolosan anak-anak ketika bermain. Bermain sering kali dipahami sebagai aktivitas alami yang menjadi sarana bagi anak-anak untuk mengeksplorasi tubuh, imajinasi, benda, dan lingkungan di sekitar mereka. Namun, arena bermain bukanlah ruang yang bebas dari muatan politis, terutama ketika membicarakan anak perempuan. Gerakan tubuh mereka sering ditafsirkan melalui anggapan-anggapan seperti kerentanan, keselamatan, femininitas, dan kepatutan. Seorang anak perempuan yang memanjat, melompat, berlari, mengangkat, melempar, atau berinteraksi dengan benda-benda asing baginya tidak sekadar dianggap sedang bermain. Ia sedang menegosiasikan batasan-batasan mengenai apa yang boleh dilakukan oleh tubuhnya.
Puisi Wadley meminta orang dewasa untuk mengenali kegiatan bermain sebagai bentuk pembelajaran alih-alih menganggapnya sebagai kegiatan waktu luang. Agensi tubuh muncul ketika anak menafsirkan sendiri aktivitas tersebut sebagai pengetahuan,
When you see me learning to skip, hop, run, and move my body,
Please don’t say I’m ‘just playing’
For you see, I’m learning as I play
I’m learning how my body works.
I may be a doctor, nurse, or athlete someday.
Puisi ini melampaui nilai pendidikan dari permainan anak-anak. Ini merupakan pernyataan bahwa anak memiliki logikanya sendiri sebagai kapasitas untuk menafsirkan tindakan yang dilakukan tubuhnya. Anak bukan objek yang dipersiapkan untuk menjadi orang dewasa. Anak sudah menjadi subjek yang mampu menemukan apa yang dapat dilakukan tubuhnya.
Konsep yang dikemukakan oleh Sandra Lee Barkty mengenai perempuan yang patuh dalam Female Body Docile (1988) menegaskan temuan tersebut. Bagi Barkty, femininitas dibentuk melalui praktik-praktik pendisiplinan yang menjadikan tubuh perempuan terkendali, terbatas, dan diatur. Disiplin seperti ini tidak melulu dimanifestasikan dalam hukuman dan larangan. Namun, hal ini juga bekerja melalui praktik-praktik sehari-hari yang tampak penuh kasih sayang, seperti mengingatkan anak perempuan untuk duduk dengan sikap yang “pantas”, memperingatkan mereka agar tidak memanjat terlalu tinggi, memberi tahu bahwa suatu benda terlalu berat untuk diangkat, melarang permainan yang kasar, atau melakukan intervensi ketika gerakan mereka tampak berlebihan secara fisik. Dengan demikian, pola asuh dapat menjadi salah satu mekanisme keseharian yang menjadikan tubuh perempuan menjadi patuh.
Akibatnya, taman bermain menjadi ruang yang sarat dengan perebutan makna dan kuasa. Sekilas, ruang bermain mungkin menawarkan kebebasan bagi anak-anak, akan tetapi anak perempuan tidak serta-merta menikmati kebebasan tersebut secara setara. Orang tua memegang posisi yang penuh otoritas di ruang bermain, seperti mengawasi, menafsirkan, menilai, memperingatkan, dan melakukan intervensi. Otoritas mereka kerap dilegitimasi melalui wacana kepedulian. Namun, kepedulian juga bisa berubah menjadi bentuk pendisiplinan ketika hal itu terus menanamkan pemahaman kepada anak perempuan bahwa tubuh mereka adalah objek rapuh yang harus dilindungi. Masalahnya bukanlah pada sikap orangtua yang peduli akan keselamatan. Persoalan krusialnya adalah apa yang terjadi ketika perlindungan tersebut menjadi begitu dominan hingga anak perempuan mulai melihat pembatasan sebagai sifat yang melekat pada tubuhnya sendiri.
Tulisan karya Iris Marion Young yang berjudul Throwing Like a Girl (1980) menjabarkan fenomena ini secara nyata. Young berpendapat bahwa femininitas dapat terwujud dalam tubuh melalui hubungan yang terbatas antara tubuh dan kapasitas bergeraknya di dalam ruang. Anak perempuan mungkin belajar tidak hanya untuk bergerak dengan cara yang berbeda, tetapi juga untuk mengantisipasi keterbatasan diri mereka sendiri. Mereka merasa ragu, rentan, dan takut sebelum meregangkan tubuh, mengambil ruang fisik, atau mendekati objek dan lingkungan. Menariknya, puisi Wadley memperlihatkan bahwa gerakan tubuh justru adalah proses belajar yang nir-gender. Melompat-lompat kecil, melompat dengan satu kaki, berlari dan terjatuh, serta menggunakan alat-alat di sekelilingnya merupakan cara tubuh untuk mengembangkan kapasitasnya dalam ruang bermain. Pertanyaannya adalah apakah lingkungan sosial menghendaki hal tersebut terjadi pada anak-anak perempuan?
Orangtua mungkin berkata, “itu terlalu berat,” “kamu bisa jatuh,” “aduh, apa kan kata mama/papa,” “no no ya,” atau “tuh kan udah dibilangin” dengan keyakinan bahwa ucapan-ucapan tersebut semata-mata bertujuan melindungi anak. Namun, ketika intervensi semacam itu terus-menerus ditujukan kepada anak perempuan, hal tersebut dapat menjadi batasan dalam ruang geraknya. Anak mulai memandang dirinya sendiri melalui tatapan antisipatif orang dewasa. Sebelum meraih suatu benda, ia mungkin sudah membayangkan dirinya akan tidak mampu mengangkatnya; sebelum memanjat, ia mungkin sudah membayangkan dirinya akan terjatuh; dan sebelum berlari, ia mungkin sudah membayangkan dirinya tidak sanggup. Otoritas eksternal orangtua perlahan-lahan berubah menjadi pengawasan diri secara internal, dan anak akan mengganggapnya sebagai hal yang alamiah.
Dalam konteks ini, pandangan Barkty menjadi krusial bahwa tubuh perempuan yang patuh tidak hanya dikendalikan dari luar, melainkan secara bertahap mereka mengatur dirinya sendiri. Ketika anak perempuan berulang kali diperingatkan untuk tidak memanjat, mengangkat beban, berlari, melempar, atau mengambil terlalu banyak ruang, mereka akan menginternalisasi batasan-batasan tersebut dan mulai memandang tubuh mereka dari sudut pandang kerentanan. Dalam pengertian ini, pengasuhan orangtua yang terlalu protektif dapat menjadi mekanisme pembatasan yang mengahambat perkembangan kapasitas tubuh anak-anak. Sebagaimana diingatkan oleh puisi Just Playing karya Wadley, anak sedang mempelajari cara kerja tubuhnya,
When you ask me what I’ve done at school today, and I say, “I just played”
Please don’t misunderstand me.
For you see, I’m learning as I play.
I’m learning to enjoy and be successful in my work.
I’m preparing for tomorrow.
Today, I am a child and my work is play.
Hal ini menunjukkan bahwa gerakan bukan sekadar persiapan menuju masa dewasa, melainkan pengalaman subjektivitas anak-anak di masa kini. Oleh karena itu, politik di ruang bermain terletak pada siapa yang menempati ruang dan juga pada siapa yang diperbolehkan mengalami tubuhnya dalam aktivitas bermain. Tugas krusial dalam pengasuhan bukanlah meniadakan segala risiko, namun mengenali kapan perlindungan berubah menjadi pendisiplinan dan memberi anak perempuan ruang untuk mengenali kemampuan tubuhnya sendiri sebelum anak perempuan belajar bahwa tubuhnya adalah tubuh yang harus dibatasi, dilindungi, dikurung, dan diatur hanya karena ia adalah perempuan.