close up of newspapers
Photo by Soudha J. on Pexels.com

Mengapa Ilmuwan dan Jurnalis Terus Gagal Memahami Satu Sama Lain

Ketika sebuah preprint tentang penularan COVID-19 (chloroquine/hydroxychloroquine, ivermectin) beredar tanpa melalui tinjauan sejawat pada awal 2020, redaksi media di seluruh dunia memuat berita utama yang memperlakukannya sebagai temuan ilmiah yang telah terkonfirmasi. Ulasan redaksi di media juga dimainkan oleh politisi untuk membenarkan serangkaian kebijakan penanggulangan penularan virus dalam pandemi. Peredaran dan amplifikasi konten media ini memicu perdebatan ruang digital publik.

Dalam hitungan hari, temuan tersebut dibantah oleh para peneliti di bidangnya. Koreksi para ilmuwan tersebut tidak hanya disampaikan secara diam-diam melalui grup chat, tetapi juga digemakan dalam media sosial oleh para ilmuwan “visible scientist” dengan pengikut besar. Namun, ruang digital saat itu sudah lekat dengan efek gema dan pembelahan opini yang parah. Situasi yang saya gambarkan waktu itu adalah sebuah kontestasi ketidakpastian (the contestation of uncertainty), kondisi yang penuh ketidakpastian dan kontestasi antaraktor, yang perdebatannya tidak sering berujung pada erosi kepercayaan publik terhadap institusi jurnalistik dan juga akademik.

Tetapi situasi di atas bukanlah cerita tentang ketidakmampuan institusional jurnalistik atau “kesombongan” komunitas ilmiah. Ini adalah sebuah gambaran tentang dua institusi yang beroperasi dengan logika yang berbeda, tanpa adanya ruang yang memadai bagi masing-masing pihak untuk memahami pihak lain.

Ilmu pengetahuan bergerak perlahan dan hati-hati, menimbang klaim berdasarkan bukti yang terkumpul selama bertahun-tahun. Jurnalisme digital bergerak dalam hitungan jam, diatur oleh nilai berita dan perhatian audiens. Ketika dua kerangka waktu ini bertabrakan dalam kondisi darurat, hasilnya adalah kesalahpahaman. Adalah erosi sistematis kemampuan publik untuk menilai risiko.

Dalam sebuah esai teoretis yang baru-baru ini diterbitkan di Observatorio, saya berargumen bahwa respons standar terhadap masalah ini — pelatihan komunikasi sains yang lebih baik, siaran pers yang lebih jelas, peneliti yang lebih paham media — memang diperlukan tetapi tidak cukup. Yang hilang adalah sesuatu yang lebih mendasar yang menyangkut komitmen terhadap refleksivitas dua arah, yaitu proses timbal balik di mana baik ilmuwan maupun jurnalis mengkaji asumsi epistemik mereka sendiri, bukan hanya kegagalan satu sama lain.

Lebih dari menyalin dan menyampaikan pesan

Model dominan komunikasi sains masih mengasumsikan bahwa tantangan utamanya adalah mentranslasikan pesan ilmiah dan proses transmisinya, dengan kata lain, mengambil temuan ilmiah yang kompleks dan menjadikannya dapat dipahami oleh audiens non-spesialis. Kerangka berpikir ini, yang sering disebut model defisit, didasarkan pada premis bahwa masyarakat kurang pengetahuan dan bahwa jurnalis berperan sebagai perantara “netral” antara temuan ilmiah di labotarium dengan kedai kopi.

Walaupun masih berfungsi dalam konteks tertentu, model defisit telah ditentang secara empiris selama puluhan tahun. Argumennya adalah bahwa skeptisisme publik terhadap sains tidak berkorelasi secara langsung dengan ketidaktahuan tentang temuan ilmiah. Namun, model ini tetap bertahan untuk dipakai oleh institusi yang melatih ilmuwan untuk berkomunikasi (komunikasi sains) dan cara redaksi menugaskan liputan sains yang menggunakan ilmuwan sebagai narasumber utama.

Di sisi ilmuwan, mereka hanya menerima pelatihan komunikasi yang minimal sepanjang karier, meskipun tuntutan yang semakin meningkat dari pemberi dana untuk menunjukkan dampak riset pada publik. Penelitian oleh Swords dkk. (2023) menemukan bahwa hanya 51% ilmuwan yang pernah berkomunikasi dengan audiens non-ahli sebelum pelatihan formal, menunjukkan bahwa hambatannya bersifat institusional, bukan sikap. Kondisi ini tentu lebih buruk di negara yang tidak memiliki sumber daya yang besar untuk anggaran riset dan publik.

Di sisi jurnalistik, meja redaksi sains khusus semakin menyusut (setidaknya ruang kolom makin mengecil). Tekanan ekonomi di bawah kapitalisme platform telah merestrukturisasi insentif editorial seputar metrik klik dan optimasi keterlibatan, mempercepat siklus produksi yang sudah terlalu cepat untuk menangani liputan mendalam yang cermat terhadap temuan ilmiah. Jurnalis (khususnya digital) semakin bergantung pada siaran pers dan konten yang dikurasi secara algoritmik daripada keterlibatan langsung dengan peneliti. Ketika alat AI generatif masuk ke alur kerja ruang redaksi, risikonya semakin besar: ringkasan yang dihasilkan AI dapat mereproduksi kesalahan, mereduksi ketidakpastian, dan memalsukan kutipan yang tidak terdeteksi oleh editor manusia tepat waktu.

Di Global Selatan, tempat saya menempatkan sebagian besar analisis saya, hal ini diperparah oleh kondisi struktural yang sebagian besar tidak dibahas dalam literatur komunikasi sains Barat. Di Indonesia, topik-topik ilmiah sebagian besar ditangani oleh jurnalis umum tanpa pelatihan khusus, yang beroperasi di ruang redaksi yang dibentuk oleh konglomerat media dengan kemerdekaan editorial yang terbatas.

Saya mencontohkan, selama pandemi COVID-19, pesan pemerintah yang “buruk” pada awal pandemi, koordinasi yang lemah antara Kementerian Kesehatan dan lembaga penelitian, serta banjirnya informasi, bersatu untuk menghasilkan krisis kepercayaan terhadap sains dan media secara bersamaan. Situasi di Filipina tidak begitu berbeda; tradisi jurnalisme investigatif berdampingan dengan hampir tidak adanya jurnalisme sains yang terinstitusionalisasi, sehingga liputan sains berkurang menjadi fungsi hubungan masyarakat yang melayani agenda institusional daripada pengetahuan publik yang deliberatif. Situasi yang digambarkan ini sangat bergantung pada kapasitas institusional, sekalipun ada upaya dalam proyek media khusus, tapi skalanya dapat dimungkinkan tidak besar.

Dalam konteks itulah, persoalan asimetri struktural ini penting dibahas karena mengungkapkan bahwa antarmuka sains-jurnalisme bukanlah ruang netral yang menunggu cara dan teknik komunikasi yang lebih baik dalam membawakan topik sains. Kondisi ini sebenarnya adalah hubungan yang dikondisikan secara politik dan ekonomi, dan kerangka kerja apa pun untuk memperbaikinya harus secara jujur memperhitungkan kondisi-kondisi tersebut.

Kerangka Kerja Refleksivitas Dua Arah dalam Kolaborasi Ilmuwan dan Jurnalis

Apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh refleksivitas

Refleksivitas dua arah bukanlah metafora untuk saling menghormati peran. Saya menganggapnya sebagai sebuah “tuntutan” analitis dengan implikasi institusional.

Bagi ilmuwan, hal ini menuntut pengakuan bahwa mengomunikasikan ketidakpastian, sifat sementara sains, dan kompleksitas metodologis bukanlah kelemahan retoris yang harus diminimalkan sebelum dirilis ke publik. Misalnya, ketika para ilmuwan menghilangkan kualifikasi dari temuan mereka untuk menghasilkan narasi media yang lebih “bersih”, mereka berpotensi tidak membuat sains lebih mudah diakses. Mereka justru membuatnya lebih menyesatkan. Krisis preprint di awal pandemi bukanlah kegagalan fungsi jurnalisme untuk memahami kerja saintifik. Ini sebagian merupakan kegagalan norma komunikasi ilmiah yang memperlakukan keterlibatan publik sebagai hal yang berada di hilir dan terpisah dari proses penelitian itu sendiri.

Bagi jurnalis, refleksivitas memerlukan lebih dari sekadar verifikasi fakta dari sumber ilmiah. Hal ini memerlukan pengkajian asumsi epistemologis yang tertanam dalam format naratif. Kecenderungan peliputan sains dilakukan dengan cover both sides yang sebenarnya merupakan keseimbangan palsu (false balance). Kondisi ini muncul dengan asumsi yang memperlakukan konsensus ilmiah dan penolakan terhadap sains (termasuk anti-intelektual) sebagai perspektif yang setara, dramatisasi konflik yang membuat sains tampak lebih kontroversial daripada kenyataannya, serta ketidakjelasan struktural dan ketidakpastian dalam bentuk naratif yang menuntut penyelesaian. Analisis Brüggemann dan Engesser, misalnya, tentang liputan iklim menunjukkan bagaimana kecenderungan ini menghasilkan distorsi sistematis pada sains bahkan ketika jurnalis secara individual menyuguhkan dua perspektif untuk itikad baik bagi publik.

Kerangka kerja refleksivitas dua arah (two-way reflexivity) yang saya usulkan beroperasi di empat dimensi. Secara epistemologis, baik ilmuwan maupun jurnalis harus mempertanyakan siapa yang dianggap sebagai produsen pengetahuan yang sah dan berdasarkan apa. Hal ini sangat mendesak dalam konteks Global Selatan di mana agenda penelitian dan norma publikasi dari Utara terus mendominasi, dan di mana sistem pengetahuan lokal secara sistematis “diremehkan”. Secara institusional, refleksivitas memerlukan reformasi organisasi, bukan hanya perubahan sikap individu: pusat media sains, program jurnalis terintegrasi di lembaga penelitian, dan pedoman editorial untuk komunikasi sains di tengah ketidakpastian ilmiah. Secara komunikatif, hal ini menuntut protokol kolaborasi bersama tentang bagaimana temuan ilmiah diframing dan untuk siapa temuan itu dibuat, apakah publik atau entitas perseorangan/swasta. Secara struktural, hal ini berarti secara aktif menentang ekstraksi epistemik di mana penelitian dari Global Selatan hanya masuk ke visibilitas global ketika disaring melalui kerangka institusional Utara.

Ruang yang sudah ada dan perlu diperluas

Ada alasan untuk optimisme, tapi terus diperlukan kehati-hatian dan kecermatan. Platform seperti The Conversation Indonesia menunjukkan bahwa norma-norma ilmiah tentang verifikasi, konteks, dan kedalaman dapat diintegrasikan ke dalam praktik jurnalistik tanpa mengorbankan aksesibilitas atau ketepatan waktu. Walaupun tidak menutup peluang, tetap ada risiko mediatisasi dan platformisasi sains. Dalam banyak kerja-kerja jurnalistik, sebenarnya sudah terjadi kerja sama investigasi antara jurnalis dan peneliti di Indonesia pada isu-isu mulai dari deforestasi hingga risiko penyakit zoonosis, yang menunjukkan seperti apa produksi bersama yang sensitif terhadap konteks dalam praktik kerja sama ini.

Dalam pembahasan Platform, Indonesia mempunyai The Conversation Indonesia, sekalipun media ini lahir di Australia dan mempunyai jaringan global. Praktik di Indonesia mempunyai perbedaan dari jaringan global lainnya. Disini, jurnalis dan ilmuwan punya peluang untuk berperan dan bertukar gagasan dalam pembentukan framing bersama, bukan hanya sebagai penerjemah artikel sains. (Gambar: Website The Conversation Indonesia)

Munculnya ilmuwan-influencer (dalam terminologi lain disebut The Visible Scientist) di platform media sosial merupakan perkembangan yang lebih ambigu. Ilmuwan yang berkomunikasi langsung dengan audiens luas tidak hanya “melompati” mediasi jurnalistik, tetapi mereka juga melewati struktur verifikasi dan akuntabilitas yang dilakukan dalam praktik jurnalisme profesional pada tingkat terbaiknya. Di negara-negara di mana jurnalisme sains profesional lemah atau tidak ada, individu-individu ini menjadi sumber informasi ilmiah utama bagi jutaan orang, tanpa struktur dukungan institusional tempat mereka bernaung yang dapat membantu mereka menavigasi tanggung jawab untuk menjaga kepercayaan publik pada sains. Ini belum lagi saat masuk pada persoalan peneliti nonafiliasi yang pekerjaannya sepenuhnya tidak dapat dipertanggungjawabkan pada ikatan etik dan norma institusional.

Tantangan-tantangan komunikasi sains yang melibatkan dua aktor utama, jurnalis dan ilmuwan, ini bukanlah terletak pada dikotomi antara kecepatan dan ketelitian, atau antara otoritas ilmiah dan independensi jurnalistik. Tantangannya adalah menciptakan struktur institusional di mana kecepatan dapat disesuaikan secara sadar dengan nilai epistemik, dan di mana ilmuwan dan jurnalis dilatih untuk mengenali titik buta mereka sendiri daripada sekadar mengidentifikasi titik buta pihak lain.

Media “Pinggiran” seperti Project Multatuli juga sering menjadi contoh bagaimana praktik refleksivitas dua arah dalam peliputan mendalam tentang sains melalui investigasi yang melibatkan jurnalis dan ilmuwan. (Gambar: Website Project-M)

Penyesuaian ulang tersebut tidak akan terjadi hanya melalui workshop dan pelatihan komunikasi keduanya. Hal ini memerlukan investasi lebih jauh dalam pendidikan lintas disiplin, infrastruktur editorial kolaboratif, dan kemauan “politik” untuk memperlakukan jurnalisme sains sebagai kebutuhan demokratis bagi publik akan kebenaran ilmiah, tidak hanya sebagai fitur tambahan dalam lanskap media. Ilmuwan dan jurnalis perlu berhenti memperlakukan satu sama lain sebagai sebuah masalah dan mulai memperlakukan satu sama lain sebagai mitra dalam produksi pengetahuan publik, sekalipun di bawah kondisi yang tidak sepenuhnya dikendalikan oleh salah satu pihak.

————–

Ilham Akhsanu Ridlo adalah kandidat doktor di LMU Munich dan dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga. Penelitiannya berfokus pada hubungan ilmuwan-jurnalis dan komunikasi sains di Indonesia.

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Discover more from ScienceWatchdog.id

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading