Saat yang tepat untuk ‘Memakzulkan’ Jokowi

Diskusi publik bertajuk Evaluasi 100 Hari Pemerintahan Jokowi-JK (Senin, 26 Januari 2015) kemarin digelar di Jakarta. dalam diskusi publik tersebut terdapat pernyataan diluar mainstream dari politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Effendi Simbolon. Pernyataan ini sebenarnya kalau saya lihat konteksnya adalah kritik keras darinya terhadap Jokowi. Mungkin  tidak ‘seseram’ tajuknya. Kutipan pernyataan itu kurang lebih seperti ini: “Jika ingin melakukan impeachment sekaranglah saatnya. Karena banyak celah … Continue reading Saat yang tepat untuk ‘Memakzulkan’ Jokowi

Penting gak sih “Follower” di Twitter?

Terakhir saya ngetwitt terbilang agak lama, ya kurang lebih dua mingguan. Sebagai pecandu dunia socmed nampaknya saya menjadi tidak populer akhir-akhir ini karena jarang ngetwitt atau bikin #kultwit (red:kuliah twitter) seperti jaman mahasiswa dulu. Entah karena males, atau karena load pekerjaan yang bisa dijadikan kambing hitam. Hehehe. Ah, alasan saja! nah sejak malas ngetwitt atau bikin #kultwit follower saya jadi stagnan dan hanya dari circle yang … Continue reading Penting gak sih “Follower” di Twitter?

Membangun Gerakan Digital

TAKUTNYA CHINA

Betapa takutnya pemerintah China perihal demontrasi besar-besaran oleh darah muda Hongkong yang dipimpin oleh anak 17 tahun, Joshuo Wong. Joshuo Wong adalah mimpi buruk bagi pemerintah Cina, bahkan media pemerintah menyebutnya ekstrimis dan badut. Scholarism adalah organisasi bentukan Joshuo Wong yang menentang sistem pendidikan nasional di HongKong yang waktu itu berhasil menggalang 120 ribu massa dengan aksi mogok makan dan demonstrasi. Gelombang demonstrasi pada 2012 pun berujung pada pembatalan kurikulum oleh pemerintah Hong Kong. Tahun ini revolusi berlanjut, adapun yang menjadi dasar aksi mahasiswa kali ini adalah hak politik rakyat Hong Kong untuk memilih pemimpinnya seperti yang pernah Cina janjikan. Saat Hong Kong dikembalikan ke Cina pada 1997, Cina berjanji memberi Hong Kong otonomi luas dan hak memilih.

Generasi Wong yang menggerakan revolusi adalah para pemuda Hong Kong yang menikmati akses terhadap teknologi dan saluran informasi via internet. Termasuk jadi diri Hong Konger yang menerap nilai global dan hasrat merasakan demokrasi liberal gaya barat. Wong dan teman sesama aktivis disana menjadi bulan-bulanan aparat setempat dengan penggeledahan kamar asramanya, termasuk komputer dan telepon genggamnya.  China meradang dengan menutup akses media sosial termasuk Instagram  sebagai media jejeaing sharing. The Strait Times melaporkan, media sosial berbagi foto itu diblokir setelah foto dan gambar polisi Hong Kong yang sedang menembakkan gas air mata ke arah demonstran muncul bebas di internet. Pemblokiran juga diterima oleh Weibo sebagai situs media sosial di China.

Continue reading “Membangun Gerakan Digital”

Indonesia di Bulan Mei 1998

Kita tahu sebabnya: ada orang yang percaya bahwa pembunuhan, bahkan pembantaian anak-anak, bisa halal. Ada orang yang percaya bahwa mereka yang tewas itu adalah korban yang diperlukan untuk memperoleh sebuah efek. (Goenawan Mohamad)

Secuil penyataan Goenawan Mohamad (Aktivis dan Budayawan) tersebut diatas menyiratkan bahwa setiap pergantian jaman/pergolakan politik/reformasi/revolusi akan selalu melahirkan martir-martir yang menjadi noda hitam dalam sejarah bangsa. Terlepas mereka dicatat dalam sejarah atau diabaikan sama sekali. Namun yang perlu diingat para martir ini tentunya tidak menumpahkan darahnya untuk sesuatu yang sia-sia. Meskipun implikasi perjuangan mereka tidak kita rasakan secara langsung.

77penculikan aktivis-istMungkin masih segar dalam ingatan kita ketika Hitler dengan faham Ultra Nasionalisnya (NAZI-FASIS) semakin membuas dan menginginkan seluruh Eropa menjadi bagian dari politik Lebensraum (bahasa Jerman: “habitat” atau secara harafiah “ruang hidup”) yang merupakan salah satu tujuan politik genosidal utama Adolf Hitler. Ketika itu seluruh masyarakat Jerman dicurahkan pada politik ultra nasionalis, kecuali kelompok Inge School yang bertahan untuk melakukan resistensi. Mereka (pemuda-pemuda Jerman ini) punya keberanian untuk berkata “tidak”. Mereka, walaupun masih muda, telah berani menentang pimpinan rezim fasis Nazi yang semua identik. Bahwa bagi mereka hilangnya nyawa, bukanlah persoalan. Mereka telah memenuhi panggilan seorang pemikir dan sebagai martir bagi kebenaran.  Seperti Soe Hok Gie bilang bahwa tidak ada indahnya (dalam arti romantik) penghukuman mereka, tetapi apa yang lebih puitis selain bicara tentang kebenaran.

Mei kala itu pada tahun 1998, Saat itu saya masih kecil. Mungkin kalau tidak salah saat itu saya masih kelas 5. Ingatan saya mendalam sampai sekarang karena waktu itu kebetulan saya sakit terkena demam berdarah dan harus istirahat total di rumah. Stasiun televisi swasta waktu itu begitu gamblang menyiarkan kabar mengenai pergolakan massa dari Orde Baru ke Reformasi. Bulan Mei terutama adalah bulan-bulan awal dimana para aktivis mahasiswa (Forum Kota) dan keluarga Besar UI bergerak ke arah Senayan. Setidaknya @FaisalBasri dalam kultwitt nya di @IndonesianYouth beberapa hari yang lalu menjelaskan detail pergerakan Keluarga Besar UI dari kacamata seorang @FaisalBasri . Berikut fragmen @FaisalBasri dalam “Kejadian Mei 1998” di kultwit @IndonesiaYouth 14 Mei 2014 kemarin.

Continue reading “Indonesia di Bulan Mei 1998”