Mengganti “Konsensus” Dengan “Bukti Konvergen”: Apakah Sekedar Perubahan Semantik?

Pada April 2025, Editor-In-Chief jurnal Science, H. Holden Thorp, mengeluarkan seruan tak biasa kepada para ilmuwan: berhentilah menggunakan istilah “konsensus ilmiah.” Dalam editorial bertajuk “Convergence and Consensus”, Thorp berargumen bahwa istilah tersebut telah disalahpahami publik, dan justru memperkeruh kepercayaan terhadap sains. Sebagai gantinya, ia mengusulkan frasa baru: “bukti yang konvergen” (convergent evidence) yaitu sebuah istilah yang lebih merefleksikan bagaimana pengetahuan ilmiah diperoleh. Perubahan istilah ini … Continue reading Mengganti “Konsensus” Dengan “Bukti Konvergen”: Apakah Sekedar Perubahan Semantik?

Universitas, Kuasa, dan Buruh Akademik: Menentang Ketimpangan dalam Kapitalisme Kampus

Setiap awal tahun ajaran, kampus-kampus di Indonesia ramai mempublikasikan capaian akademik, peringkat internasional, serta kerja sama global yang prestisius. Namun, di balik narasi kemajuan tersebut, tersembunyi realitas tenaga kerja yang rentan persoalan pengupahan layak dosen, status dosen tidak tetap, staf kontrak, dan tenaga teknis yang menopang infrastruktur intelektual universitas. Keberadaan mereka tidak sekadar menjadi konsekuensi kebijakan internal kampus, tetapi juga hasil dari struktur kebijakan dan … Continue reading Universitas, Kuasa, dan Buruh Akademik: Menentang Ketimpangan dalam Kapitalisme Kampus

Etika dan Kekuasaan

Sepanjang proses tahapan Pemilu 2024, telah terjadi sejumlah pelanggaran etika. Namun, dua diantaranya dapat dikatakan paling ganjil dan besar dampaknya, yaitu pelanggaran etika yang melibatkan hakim-hakim di Mahkamah Konstitusi (MK) dan para komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU). Kesamaannya, kedua kasus ini berkaitan dengan proses penetapan calon wakil presiden, Gibran Rakabuming Raka. Pelanggaran etika di MK berdampak pada dipecatnya Anwar Usman dari posisi ketua MK, sedangkan … Continue reading Etika dan Kekuasaan

Volksküchen: Makanan Gratis dan Kontrol Sosial Nazi di Berlin

Pada era kekuasaan Nazi (1933–1945), Jerman mengalami berbagai perubahan radikal di bidang politik, ekonomi, dan sosial. Salah satu kebijakan yang sering diangkat sebagai contoh “kesejahteraan sosial” rezim Adolf Hitler adalah penyediaan makanan gratis atau bersubsidi bagi warga miskin dan penganggur di kota-kota besar, terutama Berlin. Meskipun sekilas tampak seperti upaya filantropi, program makan gratis ini sejatinya memiliki tujuan lebih dalam: memperkuat citra Partai Nazi sebagai … Continue reading Volksküchen: Makanan Gratis dan Kontrol Sosial Nazi di Berlin