Cinta: Antara Logika atau Hasrat Semata?
Dalam kebudayaan populer, cinta sering dilukiskan sebagai sesuatu yang melampaui nalar, ia digambarkan misterius, impulsif, dan tak terduga. Frasa seperti “cinta itu buta” atau “tidak bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta” mencerminkan pandangan umum seolah cinta menolak sebuah rasionalitas. Namun, ketika cinta ditempatkan dalam kerangka saintifik dan epistemologis, muncul pertanyaan yang lebih kompleks, bisakah cinta dijelaskan secara ilmiah, dan apakah ia layak dinilai sebagai … Continue reading Cinta: Antara Logika atau Hasrat Semata?
Bulan Kesadaran Kesehatan Mental: Krisis Kesehatan Mental di Indonesia
Masalah kesehatan mental sangat meluas di Indonesia, namun sering diabaikan. Menurut Riset Kesehatan Dasar Nasional 2018, prevalensi gangguan mental-emosional umum (seperti depresi dan kecemasan) meningkat tajam – dari sekitar 6% populasi pada 2013 menjadi 9,8% pada 2018, atau sekitar 19 juta orang. Depresi saja ditemukan pada lebih dari 6% orang dewasa, namun yang mengkhawatirkan, hanya 9% dari mereka yang menerima pengobatan medis. Artinya, lebih dari … Continue reading Bulan Kesadaran Kesehatan Mental: Krisis Kesehatan Mental di Indonesia
“Jumbo” dan Folklor sebagai Wahana Hibriditas Tradisi dan Modernitas
“Jumbo” (2025) bukan sekadar film animasi anak yang menghibur, tetapi membangun narasi budaya yang kompleks, mengajak penonton untuk memikirkan ulang konsep kemajuan, tradisi, dan identitas budaya. Film ini menunjukkan bahwa folklor dapat tetap relevan jika diartikulasikan ulang dalam bentuk yang mampu mengakomodasi perubahan zaman. Melalui pendekatan hibriditas budaya, film ini menentang dikotomi tradisi-modernitas dan spiritualitas-teknologi, menawarkan model alternatif bagi pembentukan cara pandang baru dalam masyarakat … Continue reading “Jumbo” dan Folklor sebagai Wahana Hibriditas Tradisi dan Modernitas
Sains Tidak Harus Memilih Antara Ketelitian dan Keragaman
Minggu kemarin, saya menyimak lagi perbincangan panas di X (sebelumnya Twitter) sekitar tahun lalu, di mana warganet memperdebatkan kontribusi nyata dari ilmu-ilmu sosial. Dalam banyak utas tersebut, pembela ilmu sosial direndahkan karena dianggap mengandalkan pengetahuan yang ‘subjektif’ atau ‘tidak bisa dibuktikan’, sementara ilmu-ilmu STEM dipuji sebagai objektif, bermanfaat, dan “produktif” secara ekonomi. Argumen ini berkembang dengan cepat namun berakhir dengan nada diskusi sarkastik, merendahkan, dan … Continue reading Sains Tidak Harus Memilih Antara Ketelitian dan Keragaman
