Cinta: Antara Logika atau Hasrat Semata?

Dalam kebudayaan populer, cinta sering dilukiskan sebagai sesuatu yang melampaui nalar, ia digambarkan misterius, impulsif, dan tak terduga. Frasa seperti “cinta itu buta” atau “tidak bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta” mencerminkan pandangan umum seolah cinta menolak sebuah rasionalitas. Namun, ketika cinta ditempatkan dalam kerangka saintifik dan epistemologis, muncul pertanyaan yang lebih kompleks, bisakah cinta dijelaskan secara ilmiah, dan apakah ia layak dinilai sebagai … Continue reading Cinta: Antara Logika atau Hasrat Semata?

Bulan Kesadaran Kesehatan Mental: Krisis Kesehatan Mental di Indonesia

Masalah kesehatan mental sangat meluas di Indonesia, namun sering diabaikan. Menurut Riset Kesehatan Dasar Nasional 2018, prevalensi gangguan mental-emosional umum (seperti depresi dan kecemasan) meningkat tajam – dari sekitar 6% populasi pada 2013 menjadi 9,8% pada 2018, atau sekitar 19 juta orang. Depresi saja ditemukan pada lebih dari 6% orang dewasa, namun yang mengkhawatirkan, hanya 9% dari mereka yang menerima pengobatan medis. Artinya, lebih dari … Continue reading Bulan Kesadaran Kesehatan Mental: Krisis Kesehatan Mental di Indonesia

Survei Harus Representatif. Benarkah?

Ada yang penting untuk dijelaskan tentang temuan Riset Kesejahteraan Dosen yang dirilis tahun 2024, hasil survei ini menuai respon yang beragam. Salah satu yang cukup ramai dibicarakan adalah persoalan metodologi survei yang dianggap tidak cukup akurat menggambarkan populasi dosen. Kritik adalah keniscayaan dalam komunikasi kesarjanaan. Tim peneliti dalam studi tersebut semuanya berprofesi sebagai ilmuwan penuh waktu, sehingga kesan saya, mereka sangat terbuka dengan kritik. Menurut anggota tim … Continue reading Survei Harus Representatif. Benarkah?

Mitos Rumus Slovin

Ada yang pernah dengar rumus Slovin? Iya.. rumus ini sering sekali digunakan untuk menentukan besaran sampel. Saya sering heran kalau ada peneliti yang masih menggunakan rumus ini untuk menentukan/merencanakan besaran sampelnya. Saya akan coba menguraikan mengapa formula ini lebih tepat disebut mitos, sehingga rumus ini layak dimasukkan museum dan dianggap sebagai “the biggest myth” dalam penelitian survei. Rumusnya begini bunyinya… Keganjilan 1: Kok bisa sampling/margin of error … Continue reading Mitos Rumus Slovin