Kabarnya, per Juli 2026, The Conversation menjumpai pembacanya dalam bahasa Jerman. Kabar ini sebenarnya sudah saya terima tahun yang lalu. Namun, agaknya tim editor ingin memastikan semuanya berjalan dengan lebih baik sehingga pada akhirnya peluncuran The Conversation Deutschland dirilis saat musim panas tahun ini. Robin Markwica, Managing Director, The Conversation Deutschland, Österreich & Schweiz, memastikan bulan peluncurannya di Linkedin dengan mengonfirmasi artikel Mike S. Schäfer di Die Zeit.
Publik sebenarnya sudah mengenal The Conversation yang didirikan di Melbourne, Australia, pada Maret 2011 oleh Andrew Jaspan dengan dukungan dari pakar strategi bisnis Jack Rejtman dan Rektor Universitas Melbourne, Glyn Davis. Edisi Inggris diluncurkan pada Mei 2013, diikuti oleh edisi di AS (2014), Afrika Selatan dan Prancis (2015), Kanada, Indonesia, dan Selandia Baru (2017), Spanyol (2018), serta Brasil (2023).
Dari postingan Schäfer di Linkedin, ada diskusi menarik di kolom komentarnya. Sebuah topik diskusi tentang kemunculan sebuah model komunikasi ilmiah yang telah lama mapan secara internasional akhirnya memasuki ruang berbahasa Jerman. Ada beberapa reaksi yang muncul bukan semata-mata antusiasme, tetapi juga sikap skeptisme dan kehati-hatian. Namun, seperti kehadirannya di Indonesia 2017 silam, kehadiran The Conversation sejak awal selalu membawa janji besar, yaitu mempertemukan keahlian akademik dan ilmuwan dengan kebutuhan publik akan penjelasan yang cepat, jelas, dan berbasis bukti ilmiah. Namun, justru karena janji itu terdengar begitu ideal, pertanyaan tentang batas, fungsi, dan konsekuensinya segera muncul dalam ruang publik digital yang lebih mapan seperti di Jerman dan juga di negara-negara kawasan berbahasa Jerman (Austria dan Swiss).
Apakah The Conversation akan memenuhi ekspektasi publik terhadap kanal komunikasi sains deliberatif atau akan banyak berperan sebagai media kehumasan institusi riset? Pertanyaan itu bukan hal yang baru, tentu saja.
Saya sendiri mulai mengenal The Conversation tahun 2018 dan mulai aktif sebagai penulis di akhir tahun itu. Hingga kini, paling tidak dalam setahun saya sempatkan menulis satu dua artikel. Tahun 2025 sempat juga dinobatkan sebagai penulis yang paling banyak dibaca. Tentu itu bukan motivasi saya menulis di kanal ini. Hingga saat ini pun saya berproses menyelesaikan riset doktoral saya yang mengambil studi kasus di kanal ini.
Selama bertahun-tahun berproses dan berkawan dengan editor (jurnalis) yang bekerja di sana, saya melihat The Conversation dipahami sebagai jawaban atas satu persoalan yang sangat nyata dalam dunia akademik modern, yaitu terlalu banyak pengetahuan penting berhenti di jurnal ilmiah. Sebuah artikel bisa melewati proses penelaahan panjang, diterbitkan dengan standar metodologis tinggi, tetapi tetap hanya dibaca oleh komunitas kecil yang sudah memiliki akses dan kompetensi untuk memahaminya. Dalam banyak kasus, ketika hasil penelitian akhirnya tersedia, momentum publik yang seharusnya menjadi konteks utama justru telah bergerak ke isu lain. Ada jeda waktu yang sering kali terlalu panjang antara produksi pengetahuan dan kegunaannya dalam percakapan sosial.
Dari sudut itu, model The Conversation tampak logis. Peneliti menulis langsung dari bidang yang mereka kuasai, editor membantu mengubah struktur dan bahasa, lalu tulisan disebarkan secara luas dengan lisensi terbuka (Creative Commons) sehingga media lain dapat menerbitkannya ulang. Model ini memberi kesan bahwa ilmu akhirnya dapat berbicara dengan suaranya sendiri, tanpa harus selalu menunggu difilter oleh logika newsroom. Dalam situasi ketika publik terus dibanjiri informasi cepat, keberadaan tulisan yang langsung berasal dari sumber keahlian tentu memiliki daya tarik tersendiri.
Namun, justru di titik itu saya merasa ada pertanyaan yang tidak bisa diabaikan. Apakah ilmu benar-benar berbicara dengan sendirinya ketika ia masuk ke ruang publik? Ataukah setiap bentuk komunikasi publik tetap membutuhkan jarak tertentu, sebuah proses mediasi yang tidak hanya menyederhanakan, tetapi juga menguji, membandingkan, dan kadang meragukan?
Pertanyaan ini menjadi penting karena banyak kalangan membandingkan kerja-kerja The Conversation dengan pendekatan normatif dan praktis jurnalisme ilmiah yang sejak awal bukan hanya soal menerjemahkan hasil penelitian. Jika menggunakan pendekatan jurnalisme sains, maka proses penyusunan artikel juga tentang memberikan konteks terhadap bagaimana pengetahuan dihasilkan, siapa yang mendukungnya, di mana ketidakpastian berada, dan mengapa suatu temuan perlu dibaca dengan hati-hati.
Ketika seorang ilmuwan menulis tentang bidangnya sendiri, selalu ada kecenderungan alami untuk menulis dari dalam kerangka disiplin yang ia kenal paling baik. Itu bukan kelemahan personal, melainkan konsekuensi dari kedekatan epistemiknya. Seorang ahli biasanya mengetahui detail yang sangat presisi, tetapi kedekatan itu juga dapat membuat aspek yang bagi publik justru paling penting menjadi kurang terlihat (sebut saja konflik kepentingan, keterbatasan, atau posisi alternatif).
Kondisi inilah yang kemudian memunculkan skeptisisme publik di kawasan Jerman. Meskipun secara global media jurnalistik terus mengalami tekanan berlapis, mulai dari penurunan keterbacaan, perubahan lanskap digital, hingga rapuhnya model pembiayaan publik, ekosistem media publik di Jerman relatif masih bertahan dengan struktur kelembagaan yang cukup stabil. Dalam konteks ini, sains tetap menempati posisi penting sebagai salah satu tema yang memiliki ruang editorial, audiens, dan legitimasi publik yang cukup kuat.
Karena itu, perdebatan mengenai kehadiran The Conversation di wilayah berbahasa Jerman memperoleh intensitas yang berbeda dibandingkan dengan di banyak negara lain. Lanskap media Jerman masih ditopang oleh tradisi jurnalisme sains yang mapan, di mana media seperti Die Zeit, Der Spiegel, SZ maupun sejumlah penyiar publik terus mempertahankan bentuk peliputan ilmiah yang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menghadirkan konteks, verifikasi, dan jarak kritis terhadap institusi pengetahuan.
Dalam kerangka itu, sikap skeptisisme yang muncul terhadap peluncuran The Conversation bukan merupakan penolakan terhadap inovasi kanal komunikasi ilmiah. Sebaliknya, kondisi ini merefleksikan kekhawatiran bahwa model yang sangat dekat dengan institusi akademik berpotensi menggeser salah satu fungsi utama jurnalisme sains, yaitu menjaga kemampuan untuk menempatkan pengetahuan ilmiah dalam ruang evaluasi publik yang independen. Kekhawatiran ini terutama muncul karena ketika ilmuwan menulis langsung dari dalam bidang keahliannya sendiri, selalu ada kemungkinan bahwa dimensi kritik, perbandingan perspektif, atau pembacaan atas keterbatasan institusional menjadi kurang menonjol dibandingkan dengan kerja jurnalistik yang sepenuhnya independen.
Saya justru melihat perdebatan ini sebagai sesuatu yang sehat. Dalam beberapa komentar yang muncul, tampak jelas bahwa banyak orang tidak menolak kanal ini secara prinsip. Mereka hanya ingin memastikan bahwa kehadiran model baru tidak dibaca sebagai solusi tunggal bagi dialog sains di ruang publik. Sebab persoalan komunikasi ilmiah hari ini bukan sekadar bagaimana menghasilkan lebih banyak konten berbasis bukti. Dunia digital sudah dipenuhi konten. Persoalannya adalah bagaimana pengetahuan yang relevan masuk ke dalam percakapan publik dengan cara yang tetap memberi ruang bagi pluralitas, pertanyaan sulit, dan bahkan ketidaknyamanan.
Di sisi lain, pengalaman dari Australia, Inggris Raya dan tentu saja Indonesia menunjukkan bahwa banyak akademisi merasakan manfaat nyata dari kanal ini. Ada yang menganggapnya sebagai ruang belajar baru tentang bagaimana menulis untuk publik. Ada yang melihatnya sebagai cara agar penelitian tidak berhenti di dalam kampus. Ada pula yang merasakan bahwa satu artikel singkat justru menghasilkan dampak sosial yang lebih nyata daripada satu publikasi jurnal yang lama dipersiapkan.
Mungkin di sinilah letak ambiguitas yang paling menarik. The Conversation tidak sepenuhnya dapat dibaca sebagai jurnalisme, tetapi juga tidak adil jika diperlakukan hanya sebagai perpanjangan kerja-kerja hubungan masyarakat universitas. Kanal amplifikator (amplifier platform) ini berada di ruang antara dua dunia, dan justru karena itu keberhasilannya sangat bergantung pada bagaimana ruang antara itu dijaga. Amplifikasi, sirkulasi dan mediasi menjadi keunggulan kanal yang sepenuhnya bekerja secara digital saat ini.
Bagi saya, pertanyaan terpenting bukan apakah kanal ini dibutuhkan atau tidak. Pertanyaan yang lebih relevan adalah apakah ia mampu mempertahankan ketegangan produktif antara kedekatan dengan ilmu dan kebutuhan akan independensi editorial. Jika terlalu dekat dengan institusi, ia berisiko kehilangan daya kritis. Jika terlalu menjauh dari keahlian, ia kehilangan alasan keberadaannya. Ini nampaknya sebuah titik keseimbangan yang harus selalu dijaga oleh The Conversation dan seluruh awak medianya. Hingga kini, kemunculan kanal ini di beberapa kawasan dan negara masih menjadi sebuah eksperimen kanal media (platform experimental) yang mendekati ideal dan juga tentang bagaimana sains mencoba menemukan bentuk suaranya sendiri di tengah perubahan media yang sangat cepat.
Herzlich Willkommen, The Conversation Deutschland!
