Jürgen Habermas meninggal dunia pada 14 Maret 2026 di kota Starnberg, Bavaria, pada usia 96 tahun. Kematiannya dikonfirmasi oleh penerbitnya, Suhrkamp Verlag, atas nama keluarga. Dengan kepergiannya, dunia intelektual kehilangan bukan sekadar seorang filsuf besar, tetapi juga saksi hidup terakhir dari sebuah tradisi pemikiran yang lahir dari pengalaman paling traumatik abad kedua puluh: fasisme, genosida, dan runtuhnya kepercayaan pada akal budi itu sendiri. Habermas adalah wakil terakhir yang masih hidup dari Mazhab Frankfurt, dan selama lebih dari tujuh dekade ia tidak hanya mempertahankan tradisi “Teori Kritis”, tetapi juga mentransformasikannya secara fundamental.
Habermas lahir pada 18 Juni 1929 di Düsseldorf dan tumbuh besar di Gummersbach, di mana ayahnya memimpin kamar dagang setempat. Masa kecilnya tidak terhindar dari kontaminasi era. Ia waktu itu pernah menjadi anggota Deutsches Jungvolk, seksi junior Hitler Youth, pada usia sepuluh tahun. Namun, pengalaman paling formatif bagi pemikirannya justru bersifat lebih fisik dan personal. Habermas lahir dengan langit-langit mulut sumbing yang membutuhkan operasi berulang, dan ia kemudian menyatakan bahwa pengalaman ini memengaruhi pemikirannya tentang bahasa dan komunikasi. Ironisnya, filsuf yang akan membangun seluruh arsitektur teorinya di atas premis dialog rasional justru memulai hidupnya dengan berjuang untuk berbicara.
Karir akademisnya dimulai di bawah bimbingan Theodor W. Adorno di Institut Penelitian Sosial Frankfurt pada 1950-an. Pada 1961, ia memperoleh gelar doktor dari Marburg dengan disertasinya tentang transformasi struktural ruang publik. Setelah beberapa tahun di Universitas Heidelberg, pada 1964 ia mengambil alih Kursi Max Horkheimer untuk Filsafat dan Sosiologi di Universitas Frankfurt. Penunjukan ini adalah transmisi tongkat kepemimpinan dari generasi pendiri Mazhab Frankfurt kepada ahli warisnya yang paling berbakat.
Namun, hubungannya dengan Frankfurt tidak pernah sepenuhnya nyaman. Ia memiliki hubungan yang ambivalen dengan gerakan mahasiswa kiri Jerman pada tahun 1960-an. Meskipun terlibat dengan tuntutan mereka untuk reformasi sosial, ia menolak radikalisasi dan penggunaan kekerasan, serta memperingatkan terhadap bahaya yang ia sebut “fasisme kiri.” Tuduhan itu membuatnya tidak populer di kalangan mahasiswanya sendiri, dan pada 1971, menemukan dirinya dalam posisi sulit di dalam kampusnya sendiri, Habermas memutuskan untuk pergi, pindah dari Frankfurt ke Institut Max Planck di Starnberg, Bavaria.
Dekade Starnberg adalah periode paling produktif dalam karir Habermas. Di sana ia melakukan penelitian yang menghasilkan magnum opusnya, dua volume Teori Tindakan Komunikatif, yang diterbitkan pada 1981. Karya ini adalah pencapaian intelektual yang luar biasa, menjadi sebuah sintesis dari teori sosial Weber, fenomenologi Husserl, filsafat bahasa Austin dan Searle, dan psikologi perkembangan Piaget, yang semuanya diintegrasikan ke dalam satu kerangka yang menempatkan komunikasi rasional sebagai fondasi normatif tatanan sosial yang emansipatoris.
Konsep sentralnya adalah distinasi antara tindakan komunikatif yang diorientasikan pada pemahaman bersama dan tindakan strategis yang diorientasikan pada kalkulasi keberhasilan. Dalam “situasi wicara ideal” yang ia konsepsikan, semua partisipan memiliki kekuasaan yang setara, tidak bertindak secara manipulatif, dan memahami kewajiban mereka untuk menawarkan alasan, sehingga hasil bergantung pada kekuatan tanpa paksaan dari argumen yang lebih baik.
Habermas tidak pernah membiarkan filsafatnya berdiam di menara gading. Dalam Perdebatan Sejarawan tahun 1980-an, sejarawan Ernst Nolte dan lain-lain cenderung membandingkan kejahatan Nazi dengan kekejaman pemerintah lain seperti Stalin. Habermas berpendapat bahwa para sejarawan konservatif itu berusaha meremehkan besarnya kejahatan Nazi melalui perbandingan semacam itu. Intervensinya bukan sekadar polemik akademis. Ia menunjukkan bahwa relativisme moral terhadap Holocaust memiliki konsekuensi langsung bagi identitas konstitusional Jerman dan legitimasi demokrasi pasca-perang.
Dalam nada yang sama, ia mengembangkan konsep “patriotisme konstitusional” sebagai alternatif postnasional terhadap nasionalisme etnis, berargumen bahwa identitas kolektif dapat dan harus dibangun di sekitar komitmen terhadap prinsip-prinsip konstitusional universal daripada kebangsaan partikularistik.
Setelah masa jabatannya di Starnberg, Habermas kembali ke Universitas Goethe pada 1983 dan tetap sebagai profesor filsafat hingga pensiunnya pada 1994. Pensiun tidak membuatnya diam. Ia terus berkomentar tentang urusan politik, dari mendukung intervensi NATO di Kosovo hingga mengkritik pendekatan teknokratis Angela Merkel yang ia gambarkan memiliki efek melumpuhkan opini publik. Hingga akhir hayatnya ia menulis, berdebat, dan hadir dalam wacana publik dengan intensitas yang tidak pernah padam.
Telaah bibliometrik menunjukkan pengaruhnya yang terus berlanjut dan relevansi yang semakin meningkat. Pada 2007, Habermas terdaftar sebagai penulis ketujuh yang paling banyak dikutip dalam humaniora dan ilmu sosial, melampaui Max Weber. Warisan substantifnya bertumpu pada sebuah keyakinan yang ia pertahankan sepanjang hidupnya, bahwa akal budi bukan sekadar instrumen kalkulasi, melainkan kapasitas komunikatif yang tertanam dalam struktur bahasa manusia itu sendiri, dan bahwa dari kapasitas itulah satu-satunya fondasi yang sah bagi demokrasi dan emansipasi dapat dibangun.
Habermas meninggalkan dunia pada momen yang ia sendiri pasti memandangnya secara kritis, yaitu menguatnya kebangkitan populisme otoritarian di seluruh Eropa, fragmentasi ruang publik digital, dan melemahnya institusi deliberatif yang menjadi tumpuan seluruh teorinya. Kematiannya dianggap simptomatik bagi momen kerapuhan proyek Eropa, dengan masuknya ekstrem kanan ke parlemen berbagai negara, termasuk Jerman sendiri. Ia lahir di bawah Nazisme, tumbuh dalam reruntuhan perang, dan membangun hidupnya di atas keyakinan bahwa dialog yang bebas dari dominasi adalah mungkin dan perlu. Keyakinannya sekarang sedang diuji paling keras setelah ia tiada. Ini adalah sebuah warisan juga sebuah tantangan bagi umat manusia.
