
Perkembangan genomik telah mengubah cara ilmuwan memahami konservasi biodiversitas, dari pendekatan perlindungan habitat menuju analisis evolusi populasi dan ketahanan genetik spesies. Wawancara saya baru-baru ini dengan Sabhrina Gita Aninta, peneliti pascadoktoral di University of Copenhagen yang bekerja di bidang conservation genomics, menjelaskan bahwa data genom memungkinkan ilmuwan membaca sejarah populasi sekaligus memprediksi masa depan spesies. Melalui analisis seluruh genom, peneliti dapat mengidentifikasi penurunan populasi, menilai keragaman genetik, serta merancang intervensi konservasi berbasis bukti.
Ketertarikan Sabhrina pada konservasi berakar pada pengalaman lapangan selama studi sarjana biologi di Institut Teknologi Bandung (ITB), ketika ia terlibat dalam pemantauan satwa liar dan kegiatan konservasi berbasis komunitas. Namun, arah akademiknya berubah setelah menyadari bahwa Indonesia memiliki banyak data biodiversitas, tetapi kekurangan kapasitas analisis.
Dalam konservasi modern, genomik berperan penting karena memungkinkan rekonstruksi sejarah demografis populasi dan prediksi kemampuan adaptasi spesies terhadap perubahan lingkungan. Gita menekankan bahwa mikro-evolusi pada tingkat populasi masih jarang diteliti di Indonesia, yang lebih berfokus pada inventarisasi biodiversitas dan makro-evolusi. Padahal, pemahaman perubahan genetik populasi di bawah tekanan seperti deforestasi, fragmentasi habitat, dan perubahan iklim dapat membantu merancang intervensi konservasi yang lebih presisi dan efektif.
Bisa ceritakan basis awal ketertarikan Anda sebelum masuk ke genomik?
Sabhrina: Basis saya sebenarnya konservasi biodiversitas. Waktu S1 saya lebih banyak bekerja di lapangan. Saya pernah jadi volunteer mencari Ekidna (Zaglossus bruijnii) di Pegunungan Cyclops, Papua, ikut kegiatan pengamatan hewan malam, sampai menangkap kelelawar di Sibrut. Saya juga sempat ikut Tambora Muda Indonesia yang kami bikin bareng teman-teman biologi UI. Jadi, passion awalnya memang konservasi biodiversitas.

Kapan Anda mulai merasa perlu bergeser dari kerja lapangan ke analisis?
Sabhrina: Itu banyak dipengaruhi oleh pembimbing saya, Pak Joko Iskandar. Beliau bilang orang Indonesia mengumpulkan data banyak sekali, tapi analisisnya kurang. Kalau mau sekolah lagi, fokuslah pada cara analisis, belajar R, koding, statistik, apa pun. Mengumpulkan data banyak orang bisa, tapi menganalisis dan melihat gambaran besar itu belum banyak.
Kemudian, bagaimana S2 membentuk cara pandang Anda?
Sabhrina: Waktu S2 di Munich (LMU Munich, Jerman) saya banyak belajar evolusi. Saya baru tahu genetika populasi itu sudah diajarkan di beberapa kampus dalam kerangka evolusi. Dari situ saya memikirkan bentrokan konservasi dan pembangunan: konservasi ingin alam tetap sehat dan berkelanjutan, sementara pembangunan dianggap perlu untuk manufaktur dan ekonomi. Konfliknya sering terjadi karena orang tidak yakin seberapa banyak alam “boleh dibuka” atau “boleh dikorbankan”. Kalau kita bisa memahami bagaimana alam merespons tekanan sebelumnya, kita bisa memprediksi responsnya ke depan. Di situlah evolusi masuk.
Di mana posisi mikro evolusi dan genetika populasi di sini?
Sabhrina: Di Jerman saya menangkap ada dua arus besar. Ada yang mengerjakan makroevolusi seperti spesiasi dan biogeografi, yang banyak dilakukan peneliti Indonesia karena kita masih dalam fase penemuan biodiversitas. Yang belum banyak adalah mikro evolusi di level populasi: seberapa besar populasi berubah ketika terkena tekanan lingkungan tertentu. Ini penting untuk konservasi prediktif, tapi memang lebih sulit.
Apa yang membuat bidang ini terasa sulit?
Sabhrina: Genetika populasi itu banyak model dan istilah. Kalau basis matematika tidak kuat, orang cenderung ragu masuk. Tapi justru menarik karena kalau paham, bisa memberi sesuatu yang membantu: memprediksi populasi ke depan, menentukan perlu intervensi seberapa, dan seterusnya. Itu yang banyak dilakukan di luar.
Setelah S2, apa yang Anda lihat tentang kondisi data dan analisis di Indonesia?
Sabhrina: Waktu itu saya makin kebayang nasihat dosen pembimbing “kita kuat di pengumpulan data, tapi lemah di analisis”. Saya juga sempat mengira Indonesia “kurang data” untuk menjawab pertanyaan yang lebih besar, tetapi setelah menengok kerja-kerja S1, saya sadar sebenarnya datanya banyak sekali, hanya tersebar dan belum jadi basis yang bisa dianalisis. Dari situ saya mencoba mengompilasi temuan-temuan inventarisasi dari skripsi mahasiswa menjadi pangkalan data. Prosesnya sempat saya kerjakan lewat kolaborasi lintas kampus dan pekerjaan data entry.
Anda masuk ke S3 bidang conservation genomics? Bisa diceritakan?
Sabhrina: Saat itu tiba-tiba ada lowongan S3 di Queen Mary University of London dengan topik Conservation Genomics of Sulawesi Vertebrates. Saya mengerjakan Anoa dan Babirusa, awalnya juga ingin Maleo, tetapi sulit karena saat itu belum ada protokol ekstraksi DNA dari cangkang telur. Untuk tulang sudah ada protokol, jadi basisnya Anoa dan Babirusa. Sampelnya dari koleksi museum dan sisa-sisa bushmeat hunting yang sudah dikumpulkan dalam penelitian sebelumnya.
Apa yang paling membuat Anda merasa “ini langkah berikutnya” dalam riset konservasi?
Sabhrina: Titiknya ada pada ekstraksi DNA dari sampel museum. Kalau kita tahu kondisi populasi Anoa dan Babirusa di masa lalu, kita bisa menebak bagaimana mereka merespons pembangunan yang terjadi di Sulawesi sekarang dan seperti apa kemungkinan kondisinya ke depan. Waktu pertama kali melihat pendekatan ini, saya benar-benar tidak kepikiran sebelumnya. Secara awam, sampel seperti itu sering dianggap sudah tidak mungkin diambil DNA-nya. Memang sulit, tapi itulah yang membuat saya melihat ini sebagai langkah berikutnya untuk memahami respons biodiversitas berdasarkan apa yang terjadi di masa lalu.
Jika mikroevolusi penting, siapa saja di Indonesia yang mengerjakan hal serupa?
Sabhrina: Saya baru tahu belakangan ada di UGM, ada beberapa dosen yang mengerjakan mikroevolusi. Saya lupa namanya. Orang-orang mengenal mikroevolusi sebagai genetika populasi. Arahnya seputar pemuliaan tanaman dan hewan. Dalam pengertian tertentu, riset seperti Wolbachia juga bisa dipahami sebagai kerja di level populasi karena menyangkut pemodelan intervensi untuk mendapatkan hasil tertentu. Tapi saya pribadi belum banyak menemukan yang benar-benar mikroevolusi populasi.
Kalau dari kacamata orang awam, konservasi biasanya dipahami sebagai perlindungan habitat. Mengapa genom dan keragaman genetik menjadi penting?
Sabhrina: Karena genomik bisa memberi lebih banyak data tentang spesies, dan lebih cepat dibanding pendekatan lama. Dulu genetika konservasi sering pakai mikrosatelit atau mitokondria, dan membuat marker genetik itu bisa menjadi proyek bertahun-tahun. Sekarang dengan sequencing, kita ambil DNA, buat library, kirim ke perusahaan, lalu datanya sampai dan dianalisis. Komputasi juga makin ringan. Tapi seperti riset sains dasar, kita maju selangkah dan pertanyaannya justru bertambah. Genom itu dinamis dan semakin dipahami, semakin terlihat kompleks. Namun, minimal, genomik membantu kita mengetahui nasib populasi di masa lalu dan memperkirakan ke depan.
Secara sederhana, apa yang “bisa dilakukan” genomik untuk konservasi saat ini?
Sabhrina: Genomik bisa memberi tahu apakah populasi dulu mengalami penurunan atau kenaikan. Kalau misalnya terlihat turun terus, berarti ke depan akan sulit naik dan mungkin butuh tambahan diversitas genetik. Implikasi praktisnya, misalnya, membuat insurance population melalui captive breeding sebagai sumber cadangan jika populasinya semakin sedikit.
Dengan perkembangan teknologi, apakah riset seperti ini bisa dilakukan di pusat riset atau universitas di Indonesia?
Sabhrina: Tapi saat ini ada dua kendala utama. Pertama, banyak peneliti dalam negeri belum keep up dengan apa yang sebenarnya bisa dilakukan oleh genomik. Akibatnya, banyak universitas belum melihat secara jelas kegunaan riset genomik, terutama dalam konteks konservasi biodiversitas. Karena manfaatnya belum dipahami secara konkret, biaya yang besar kemudian dipersepsikan tidak sepadan, sehingga riset genomik jarang dimasukkan ke dalam pemetaan prioritas riset fakultas yang anggarannya memang terbatas.
Kita juga membutuhkan sumber daya manusia yang mampu menganalisis data, tenaga yang dapat memelihara server, infrastruktur listrik dan pendingin yang stabil, hingga sistem logistik untuk memastikan DNA dari lokasi terpencil tetap berkualitas saat tiba di laboratorium. Jika langkah-langkah ini tidak dibuat lebih mudah dan lebih terjangkau, banyak institusi akan bersikap pragmatis. Mereka harus mempertimbangkan biaya tim sampling, dokter hewan, pengurusan izin, dan berbagai kebutuhan operasional lain, sehingga riset genomik sering dianggap terlalu kompleks dan mahal untuk dijadikan prioritas.
Banyak orang menyebut birokrasi sebagai hambatan riset. Apakah itu juga pengalaman Anda?
Sabhrina: Menurut saya bukan birokrasinya, tapi ketidakpastian. Kayak di Jerman sendiri birokrasi juga banyak, tapi kalau staf bilang tiga minggu selesai, tiga minggu selesai. Di Indonesia sering tidak pasti, harus mengingatkan berkali-kali, bisa molor, dan interpretasi aturan bisa beda-beda antarpetugas. Birokrasi itu perlu sebagai bahasa institusi untuk catatan dan pelacakan. Yang membuat berat adalah ketidakpastian dan rendahnya trust pada janji waktu dan aturan yang konsisten. Jadi Birokrasi itu sendiri harusnya bukan masalah.
Apa dampaknya bagi kolaborasi dan riset lapangan?
Sabhrina: Ketidakpastian membuat orang memilih tempat yang lebih pasti. Kayak teman kolega di UK yang suka bikin field course itu, mereka kalau ke Borneo, lebih suka ke Sabah. Nggak ada mereka ke Kalimantan (maksudnya wilayah Indonesia). Makanya orang lebih suka kerja sama di sana (Sabah, Malaysia).
Saya membaca bahwa spesies di pulau kecil lebih rentan punah dibanding di daratan besar. Apakah benar?
Sabhrina: Secara logis, iya, habitat lebih kecil, sumber daya dan pasangan kawin lebih sedikit, diversitas genetik bisa turun. Tapi yang menarik, tidak semua orang menangkap kompleksitasnya. Dalam kerja saya, populasi pulau kecil, meski lebih rentan, justru terlihat lebih resilien secara genetik, mungkin karena habitatnya tidak sering diganggu oleh pembangunan sehingga kualitasnya tinggi. Inbreeding dalam laju tertentu juga bisa mengurangi mutasi berbahaya. Sementara populasi di pulau besar, meski habitatnya lebih besar, bisa lebih terganggu sehingga secara genetik menumpuk lebih banyak mutasi berbahaya. Ini temuan yang tidak intuitif dan butuh kerja editorial yang intens untuk menyederhanakan tanpa menyesatkan.

Anda sempat menyebut sapi Madura juga. Apa hubungannya dengan cerita pulau kecil?
Sabhrina: Sapi Madura berbeda dengan Anoa. Ini hewan yang dikelola manusia. Dalam riset saya, Sapi Madura justru menunjukkan diversitas tinggi meski berkembang di pulau kecil, karena dipelihara dan dikelola secara intens. Ini memberi pelajaran, populasi berdiversitas tinggi di pulau kecil bisa terbentuk, tetapi harus “high maintenance”.
Banyak orang menganggap sapi Indonesia berasal dari banteng. Apakah benar?
Sabhrina: Temuan genomik menunjukkan bukan banteng yang “jadi” sapi Indonesia. Yang terjadi adalah sapi domestik (zebu atau indicine) datang, lalu terjadi aliran gen dari banteng, sehingga muncul ciri-ciri tertentu pada sapi Indonesia. Karena ada aliran gen dan seleksi manusia yang beragam (karapan sapi, sapi sonok, persilangan untuk karkas), dinamika evolusinya berbeda dari spesies liar. Karena sejarah evolusinya beda, mekanismenya tidak bisa disamakan begitu saja dengan kasus Anoa.
Kalau begitu, peran manusia sangat dominan dalam “dunia persapian”?
Sabhrina: Iya, karena sapi dipertahankan dan dikawinkan melalui keputusan manusia. Itu yang membuat ceritanya berbeda.
Terakhir, jika harus menyampaikan satu pesan kepada publik tentang masa depan biodiversitas di Indonesia, apa yang paling penting?
Sabhrina: Biodiversitas itu bukan punya kita. Ini amanah Tuhan untuk dikelola. Alam Indonesia jauh lebih tua daripada manusia Indonesia. Kalau orang bisa paham satu hal itu saja, semoga jadi lebih hormat ketika mengambil keputusan, misalnya membuka tambang atau proyek besar. Cara “hormat” itu adalah mencari tahu dampaknya, bertanya pada warga yang sudah lama tinggal, dan tidak sembarangan mengatur alam seolah kita paling tahu.
