Tiongkok Membatasi Pendanaan APC di Jurnal Premium

Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok (CAS) mengumumkan pada awal 2025 kebijakan yang membatasi pendanaan institusional untuk biaya pengolahan artikel (APC) di sekitar 30 jurnal akses terbuka premium yang mengenakan biaya ≥$5.000 per artikel. Intervensi ini mewakili respons institusional paling tegas terhadap inflasi APC yang pernah diterapkan oleh lembaga pendanaan penelitian besar. Kebijakan ini secara ekonomi dapat dibenarkan dan secara strategis signifikan—namun mengungkap ketidakselarasan fundamental antara mekanisme pasar dan insentif institusional dalam penerbitan ilmiah.

Pengeluaran global untuk APC telah menjadi tidak berkelanjutan secara ekonomi. Pengeluaran tahunan hampir tiga kali lipat dari $910 juta pada 2019 menjadi $2,538 miliar pada 2023, dengan enam penerbit besar—MDPI, Elsevier, Springer Nature, PLOS, Wiley, dan Frontiers—mengumpulkan $681,6 juta, $582,8 juta, dan $546,6 juta masing-masing pada 2023 saja. Peningkatan pendapatan ini melebihi inflasi dan pertumbuhan volume publikasi, menunjukkan kenaikan harga yang tidak sejalan dengan pembenaran biaya. Secara kritis, APC median yang sebenarnya dibayarkan melebihi harga daftar yang dinyatakan, menunjukkan penerbit memanfaatkan keterbatasan anggaran institusi untuk menarik harga premium.

Intervensi CAS menargetkan langsung pada masalah utama soal anggaran publikasi yang terbatas. Institusi ini mempekerjakan 50.000 peneliti di 100 institut, berkontribusi sekitar 10% dari artikel di Nature Communications dan Science Advances, serta sekitar 40% dari artikel yang ditulis oleh peneliti China di jurnal terkemuka. Konsentrasi pasar ini menciptakan leverage yang nyata. Kebijakan CAS memberlakukan pembatasan pendanaan kategoris tanpa negosiasi yang menandakan bahwa penyesuaian incremental telah menjadi tidak memadai bagi penerbit dan institusi riset.

Bagi CAS, kebijakan ini merupakan salah satu tindakan yang tegas bagi para penerbit komersial, namun, kebijakan ini mengandung tiga ketegangan kritis yang harus diatasi para penerbit komersial yang saat ini menikmati bisnis penerbitan ilmiah dengan model Gold Open Access (APC).

Pertama, kebijakan ini berupaya mengatasi inflasi APC melalui eksternalisasi biaya ke peneliti individu yang tidak memiliki daya tawar pasar. Pembatasan pendanaan institusional tidak menghilangkan beban ekonomi; ia memindahkan beban tersebut dari anggaran institusional ke anggaran pribadi jika tidak diikuti oleh regulasi tentang kebutuhan publikasi ilmiah dan karir peneliti. Peneliti tanpa sumber pendanaan alternatif menghadapi pilihan publikasi yang terbatas, penurunan prestise jurnal, atau penurunan output penelitian. Distribusi regresif ini bertentangan dengan prinsip keadilan yang mendasari advokasi akses terbuka. Di satu sisi, pembatasan biaya APC ini juga harus diikuti oleh perangkat kebijakan lain tentang membangun ekosistem pengetahuan di Tiongkok yang lebih solid. Seperti diketahui dan diungkapkan Retraction Watch, Tiongkok adalah salah satu negara dengan retraksi ilmiah yang tinggi.

Kedua, CAS menggabungkan pembatasan ekonomi dengan kriteria integritas penelitian, sehingga menyamarkan atribusi kausal. Kebijakan ini membatasi baik jurnal mahal maupun jurnal yang ditandai karena masalah kualitas. Namun, kriteria daftar peringatan—tingkat penolakan, volume artikel, sitasi diri, biaya APC—mencampuradukkan model bisnis publikasi dengan kualitas penelitian. Biaya APC yang tinggi menunjukkan penetapan harga berdasarkan prestise, bukan necessarily ketatnya proses editorial. Sebaliknya, jurnal dengan siklus publikasi cepat mungkin mengorbankan ketatnya proses ulasan. Asosiasi ini bersifat sugestif, bukan definitif. Ketika masalah kualitas membenarkan pembatasan ekonomi yang mendasar, akuntabilitas institusional menjadi tidak transparan.

Ketiga, kebijakan ini secara implisit mengasumsikan bahwa pengembangan jurnal domestik Tiongkok dapat menggantikan platform internasional tanpa biaya transisi. CAS secara bersamaan mengejar investasi infrastruktur di jurnal Tiongkok, menjadikan kebijakan ini sebagai alat strategis. Namun, mengalihkan penelitian dari jurnal berdampak tinggi yang sudah mapan ke platform baru menciptakan kondisi baru pada periode awal peralihan yang mempunyai dampak pada publikasi yang berkurang, visibilitas kutipan yang lebih rendah, dan profil penelitian internasional yang melemah. Sehingga pengembangan jurnal domestik harus disertai dengan mitigasi dan kajian strategis yang jelas. Ini membutuhkan waktu, tapi dalam jangka panjang dapat dilakukan dengan perencanaan yang baik.

Pertanyaan ekonomi adalah apakah pendekatan sepihak CAS memicu reformasi sistemik yang bermanfaat atau fragmentasi institusional yang merugikan. Penerbitan akademik global menghadapi ketidakselarasan kebijakan regional: pendana Eropa menerapkan standar persyaratan akses, Jerman menerapkan batas penggantian APC, dan kini China menerapkan pengecualian pendanaan kategoris. Penerbit tidak dapat memenuhi secara bersamaan rezim kebijakan yang tidak kompatibel. Hal ini menciptakan ketidakstabilan pasar, terutama mengingat model bisnis yang bergantung pada APC memerlukan kepastian pendapatan. Kalkukasi ini juga harus disadari oleh penerbit jurnal ilmiah komersial untuk berbenah dan tidak lagi melakukan apa yang saya sebut sebagai “kapitalisasi pengetahuan publik yang keterlaluan”.

Konsep Model Diamond Open Access yang digagas oleh komunitas keilmuan yang bersifat free APC dan biaya, dan model pengelolaan dikelola oleh komunitas ilmiah dalam bentuk konsorsium atau rumpun keilmuan (topik). Model ini tidak bergantung pada jurnal komersial, sehingga dapat menjadi model yang berkelanjutan.

Jalan yang lebih optimal melibatkan negosiasi institusional terkoordinasi untuk menetapkan harga APC yang transparan berdasarkan biaya publikasi, bukan prestise jurnal. Diamond Open Access—akses terbuka jurnal komunitas dan didanai melalui konsorsium institusional—mewakili alternatif yang paling adil. Hal ini memerlukan komitmen keuangan berkelanjutan, tata kelola terkoordinasi, dan penerimaan terhadap trade-off dampak publikasi. Kekuatan pasar CAS cukup untuk memimpin konsorsium semacam itu.

Pilihan pembatasan pembiayaan APC oleh institusi sebenarnya mengungkapkan hal penting tentang perilaku institusi saat mekanisme pasar gagal. Selama 15 tahun, penetapan harga APC beroperasi tanpa batasan institusional yang efektif. Peneliti individu kurang sensitif terhadap harga karena pemilihan jurnal dioptimalkan untuk kemajuan karier dan prestise, bukan lagi soal biaya. Penerbit memanfaatkan ketidakseimbangan ini melalui penetapan harga berdasarkan prestise. Mekanisme pasar gagal mengendalikan biaya. Saat struktur koordinasi formal tidak ada, aktor institusi menggantikan kekuatan unilateral dengan reformasi kooperatif.

Intervensi CAS kemungkinan akan memicu kaskade kebijakan. Institusi penelitian besar dan lembaga pendanaan lainnya memiliki leverage serupa. Tanpa mekanisme tata kelola global untuk komunikasi ilmiah, intervensi institusional unilateral akan menjamur, menciptakan kebijakan yang terfragmentasi, ketimpangan geografis, dan eksternalitas biaya di tingkat peneliti (individual).

Sistem penerbitan ilmiah kini dihadapkan pada pilihan kritis. Penerbit dapat merespons melalui negosiasi, restrukturisasi biaya, dan inovasi model bisnis yang lebih adil bagi para peneliti (individual) dan institusi. Institusi dapat berkoordinasi dalam reformasi sistemik. Peneliti dapat menuntut tata kelola yang transparan. Jika tidak ada negosiasi yang adil, sistem dapat terfragmentasi melalui pembatasan institusional berantai, dengan aktor penelitian utama menerapkan pembatasan sepihak demi efisiensi fiskal.

CAS telah menunjukkan pengaruh institusional terhadap ekonomi penerbitan. Apakah pengaruh ini mendukung reformasi sistemik atau mempercepat fragmentasi institusional?

Leave a Comment Here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.