Apa yang Anda bayangkan jika mendengar frasa “sejarah nuklir”? Saya yakin Anda akan membayangkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945 atau wajah Oppenheimer, fisikawan teoretis Amerika terkenal yang memimpin Proyek Los Alamos. Namun, dalam podcast ini, kita akan membahas hal yang berbeda: perkembangan teknologi nuklir secara kebetulan terjadi bersamaan dengan perlawanan terhadap kolonialisme di Selatan Global. Saya berbincang dengan Herminson Ariel, seorang peneliti pra-doktor di Institut Max Planck untuk Sejarah Ilmu Pengetahuan di Berlin, tentang penelitiannya mengenai bagaimana uji coba nuklir Prancis di pulau-pulau Polinesia mempengaruhi perkembangan ilmiah Chile, dan pada akhirnya posisinya dalam geopolitik di Pasifik Selatan.
Diskusi ini dapat Anda dengarkan melalui Podcast saya. Secara garis besar ringkasannya seperti berikut. pembicaraan:
Bagian 1: Membuka Babak Baru Ilmu Nuklir di Chile
Dyna membuka podcast dengan memperkenalkan Ariel Saavedra, yang saat ini meneliti sejarah ilmu nuklir di Chile. Berbeda dengan narasi mainstream yang sering berfokus pada bom atom dan dampaknya yang menghancurkan selama Perang Dunia II, penelitian Ariel berfokus pada bagaimana ilmu nuklir membentuk sejarah negara-negara berkembang. Ia menekankan bahwa meskipun Chile memperoleh kemerdekaan pada abad ke-19, era pasca-Perang Dunia II menghadirkan tantangan dan peluang unik bagi negara tersebut untuk mendefinisikan identitas dan arah ilmiahnya.
Bagian 2: Perpotongan Kekuasaan dan Pengetahuan
Ariel mendalami konsep otonomi nasional dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, menyatakan bahwa debat seputar topik-topik ini di Chile mencerminkan aspirasi modernitas dan pencarian otonomi. Ia mengutip contoh Eduardo Cruz Cokes, seorang senator pada tahun 1955, yang advokasinya untuk kemandirian teknologi dan pelatihan lokal selaras dengan pemikiran dekolonial. Hal ini menyoroti bagaimana pembahasan tentang kekuasaan, pengetahuan, dan kedaulatan tidak terbatas pada kerangka kerja antikolonial, tetapi dapat muncul dalam berbagai konteks.
Bagian 3: Uji Coba Nuklir dan Respons Chile
Pembicaraan beralih ke momen historis kritis ketika Prancis melakukan uji coba nuklir di Polinesia pada tahun 1960-an. Ariel menjelaskan bahwa uji coba ini mendorong Chile untuk mengembangkan program ilmiahnya sendiri untuk mengukur radiasi dan memahami implikasi teknologi nuklir. Situasi ini memaksa Chile untuk melampaui sekadar transfer teknologi dan menetapkan agenda penelitiannya sendiri, mencerminkan perjuangan yang lebih luas untuk otonomi.
Bagian 4: Konferensi Bandung dan Solidaritas Global
Dina dan Ariel membahas signifikansi Konferensi Bandung 1955, yang mempromosikan solidaritas di antara negara-negara yang baru merdeka. Meskipun Chile tidak berpartisipasi secara langsung, idealisme konferensi tersebut mempengaruhi banyak proyek ilmiah di Amerika Latin. Ariel menyoroti kontras antara fokus Konferensi Jenewa pada energi nuklir damai dan penekanan Konferensi Bandung pada kedaulatan dan non-intervensi, menunjukkan narasi yang beragam seputar teknologi nuklir di Selatan Global.
Bagian 5: Mendekolonisasi Energi dan Masa Depan
Podcast ini diakhiri dengan pembahasan tentang konferensi Hiwarat yang baru-baru ini membahas warisan kolonial sistem energi. Ariel membagikan wawasan tentang bagaimana debat nuklir di Chile mengungkapkan ketegangan yang berkelanjutan antara ketergantungan dan otonomi, sambil mengadvokasi perspektif baru tentang keadilan energi dan keberlanjutan. Ia menekankan perlunya pendekatan interdisipliner untuk merumuskan ulang narasi dan kebijakan energi secara cara yang memberdayakan komunitas lokal.
Seperti yang ditunjukkan dalam percakapan saya dengan Ariel Saavedra, sejarah ilmu nuklir di Selatan Global bukan hanya kisah kemajuan teknologi, tetapi interaksi kompleks antara kekuasaan, identitas, dan perlawanan. Wawasan yang dibagikan dalam episode ini menyoroti pentingnya memahami bagaimana negara-negara berkembang dapat menegaskan agen mereka di hadapan tantangan global. Poin kunci termasuk pengakuan agen lokal dalam diskursus ilmiah dan kebutuhan kritis untuk mendekolonisasi sistem energi guna mempromosikan keadilan dan keberlanjutan.
