Mengapa Jurnalis Sains Tidak Boleh Melupakan “Null Result”

Laboratorium sains penuh dengan kesunyian yang jarang diberitakan. Ribuan studi setiap tahun berakhir tanpa hasil yang signifikan, mulai hasil uji statistik yang tidak memberikan korelasi, tidak ada perbedaan, tidak ada temuan baru, juga ratusan ujicoba yang gagal baik pada tataran uji metode maupun uji coba hingga replikasi hasil penelitiannya. Dalam bahasa statistik, hasil seperti itu disebut hasil nol (null result) yaitu data yang gagal menolak hipotesis nol.

Namun dalam jurnalisme sains, hasil nol kerap dianggap bukan berita. Tidak terlalu menarik bagi outlet media untuk meliput mereka sebagai bagian dari produk berita. Padahal, di balik itu terdapat pesan yang paling jujur dari sains, bahwa tidak semua hipotesis benar, tidak semua eksperimen berhasil, dan tidak semua teori dapat bertahan terhadap data. Jika jurnalis hanya menulis tentang keberhasilan, publik niscaya disuguhkan dengan hanya mengenal separuh dari proses sains itu sendiri.

Sisi yang tak terlihat dari proses sains

Kecenderungan sistemik untuk hanya menampilkan hasil signifikan dikenal sebagai publication bias (Ioannidis, 2005; Franco, Malhotra & Simonovits, 2014). Studi meta-sains terhadap jurnal biomedis menunjukkan lebih dari 85 persen publikasi melaporkan hasil positif, meski secara probabilistik sebagian besar hipotesis awal seharusnya gagal (Fanelli, 2012). Fenomena ini melahirkan apa yang disebut file drawer problem, dimana penelitian dengan hasil negatif disimpan dan tidak pernah diterbitkan (Rosenthal, 1979).

Dari praktik sains yang tertutup ini, dampaknya merembes ke media. Apalagi karena keterbatasan sumberdaya liputan, cara kerja yang cepat dan penelaahan ulang yang minimal, jurnalis sains hanya dapat mengambil bahan berita dari siaran pers dan jurnal ilmiah yang biasanya direkomendasikan oleh peneliti. Informasi ini hampir dimungkinkan selalu menonjolkan keberhasilan. Terlebih lagi, dengan pola interaksi yang tidak setara antara peneliti dan jurnalis maka ini menciptakan kondisi yang dikatakan sebagai perayaan selebrasi penemuan baru dan menghilangkan sifat ketidakpastian pada sains.

Dengan kondisi tersebut, pada akhirnya publik dihadapkan pada sebuah “konsensus” awam bahwa sains harus selalu berhasil dan harus mempunyai hasil statistik yang bermakna. Dengan jalan itu hipotesis yang sesuai dengan harapan peneliti akan membuat publik percaya bahwa “sains harus selalu berhasil.” Padahal, proses sains sejatinya tumbuh dari koreksi diri (falsifikasi). Ketika hasil yang tidak signifikan disembunyikan, masyarakat kehilangan pemahaman tentang bagaimana pengetahuan diperoleh yang seringkali melalui proses yang lambat, sering salah arah, dan penuh revisi. Hingga kemudian mendapati hasil yang lebih lama bertahan dalam konsensusnya. Itupun tidak menihilkan temuan baru dikemudian hari yang dapat menguji ulang dirinya.

Apa arti sebenarnya dari null result

Secara metodologis, hasil nol tidak berarti bahwa efek tersebut tidak ada. Ia dapat berarti bahwa data tidak cukup kuat untuk menunjukkan adanya efek. Namun ketika penelitian memiliki kekuatan statistik yang memadai misalnya, studi besar, pra-registrasi hipotesis, dan pengendalian bias yang baik, maka tidak ditemukannya efek justru menjadi informasi penting. Dalam hal ini hasil nol memberikan batas epistemik, yang memberikan informasi ilmiah penting kepada kita di mana sesuatu tidak terjadi, dan itu sama berharganya dengan tahu di mana sesuatu terjadi.

Contoh klasik datang dari uji klinis Women’s Health Initiative (Rossouw et al., 2002) yang menemukan bahwa terapi hormon tidak menurunkan risiko penyakit jantung pada perempuan pascamenopause, bertentangan dengan konsensus medis sebelumnya. Hasil “tidak ada efek” itu mengubah praktik klinis global. Dalam ranah fisika, eksperimen LUX tahun 2016 gagal mendeteksi partikel dark matter. Namun laporan tidak menemukan apa pun itu mempersempit ruang teori dan mendorong eksperimen baru (Akerib et al., 2017).

Mengapa media enggan menulisnya

Di ruang redaksi, berita tentang “tidak ada efek” sering dianggap tidak menjual. Editor menolak naskah karena tidak memancing sensasi, sementara jurnalis khawatir membingungkan pembaca dengan istilah statistik seperti “tidak signifikan.” Masalah lain lebih struktural, universitas lebih mungkin jarang membuat siaran pers tentang hasil negatif. Jurnalis sains hingga kini juga lebih banyak bergantung pada aliran informasi resmi universitas, akhirnya hanya menulis yang tersedia, bukan yang penting. Akibatnya, publik tidak pernah melihat fungsi korektif sains secara utuh, padahal gagalnya hipotesis justru bagian paling penting dari proses pengetahuan.

Ketika “tidak ada” justru berarti banyak

Dalam sejarah sains, sejumlah hasil nol terbukti mengubah arah penelitian. Eksperimen Michelson–Morley tahun 1887 gagal mendeteksi aether dan dari kegagalan itulah teori relativitas Einstein lahir. Lebih dekat ke masa kini, serangkaian studi besar menemukan bahwa hidroksiklorokuin tidak efektif mencegah infeksi COVID-19. Publikasi hasil nol ini mencegah penyebaran klaim palsu yang berpotensi mematikan dalam penggunaan hidrosiklorokuin pada penanganan terapi pasien COVID-19.

Dalam kebijakan publik, hasil nol berperan penting dalam mencegah pemborosan sumber daya. Sebuah evaluasi acak berskala besar terhadap program microfinance di India (Banerjee et al., 2015) menunjukkan bahwa akses pembiayaan mikro tidak memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan konsumsi rumah tangga maupun kesejahteraan umum. Informasi ini membantu pembuat kebijakan mengalihkan dukungan dari asumsi bahwa kredit mikro adalah “keajaiban pengentasan kemiskinan” menuju pendekatan pemberdayaan ekonomi yang lebih terukur dan berbasis bukti.

Menulis “ketiadaan” dengan akurat

Menjadikan hasil nol sebagai cerita menuntut pergeseran fokus dari hasil ke proses. Jurnalis sains harus mengajak pembaca memahami pertanyaan yang diajukan, ekspektasi peneliti, dan makna dari hasil yang tidak sesuai harapan.

Pertama, memeriksa apakah penelitian memiliki analisis lanjutan yang cukup. Null result tanpa power analysis bisa menyesatkan.

Kedua, wawancarai pakar statistik untuk mengonfirmasi bahwa desain penelitian yang dibahas dan dijadikan topik liputan layak sebagai alat analisis yang sahih untuk menarik sebuah kesimpulan.

Ketiga, gunakan bahasa yang berhati-hati pada liputan sains misalnya dengan menulis “penelitian ini tidak menemukan bukti efek X dalam kondisi Y,” bukan “X tidak berpengaruh. Yang terpenting, kaitkan hasil nol dengan konsekuensi sosial. Hasil nol menjadi berita ketika menantang asumsi publik, menghemat biaya riset, atau melindungi masyarakat dari kebijakan berbasis klaim yang salah.

Nah, jika jurnalis sains menulis liputan tentang hasil nol, ini bukan sekadar pilihan editorial, tetapi memiliki sebuah tanggung jawab etis. Dengan menampilkan kegagalan dan ketidakpastian, jurnalis sains membantu publik memahami sains sebagai sistem yang terus memperbaiki diri.

Sebaliknya, ketika jurnalis sains hanya menonjolkan keberhasilan hasil, mereka ikut berkontribusi pada “ilusi” kepastian ilmiah dan memperkuat siklus sensasi yang sering berujung pada kekecewaan publik di kemudian hari. Transparansi tentang hasil nol juga memperkuat kepercayaan masyarakat. Publik yang terpapar liputan jujur tentang kesalahan ilmiah justru menunjukkan tingkat kepercayaan lebih tinggi dibanding yang hanya membaca berita tentang “penemuan besar.”

Leave a Comment Here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.