Kepercayaan pada Sains Bukan Sebatas Ajakan Moral

Selama pandemi COVID-19, hampir semua kampanye kesehatan masyarakat di dunia mengulang pesan yang sama dengan memasang tagar “Percayalah pada sains” #trustinscience. Tagar itu menghiasi unggahan media sosial, yang disampaikan dengan keyakinan bahwa masyarakat yang percaya pada ilmuwan akan lebih patuh pada anjuran kesehatan, mulai dari memakai masker hingga menerima vaksin.

Pemerintah di berbagai negara, termasuk Indonesia, menganggap peningkatan kepercayaan terhadap sains sebagai kunci keberhasilan komunikasi risiko. Namun, sebuah unggahan awal riset eksperimental menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap sains ternyata tidak memiliki pengaruh sebab-akibat yang langsung terhadap perilaku masyarakat.

Kelompok yang membaca pernyataan ilmiah yang akurat melaporkan peningkatan signifikan dalam rasa percaya terhadap sains. Namun yang menarik, perubahan ini tidak memengaruhi niat mereka untuk melakukan perilaku perlindungan, seperti menjaga jarak, mencuci tangan, atau menerima vaksin. Bahkan pada beberapa kasus, tingkat kepercayaan yang lebih tinggi justru sedikit menurunkan niat vaksinasi.

Penelitian yang dilakukan oleh Tobias Wingen, Ann-Christin Posten, dan Simone Dohle ini melibatkan lebih dari lima ribu peserta dalam empat studi yang dilakukan antara tahun 2021 dan 2022 di Jerman. Dalam eksperimen tersebut, partisipan dibagi secara acak untuk membaca pernyataan ilmuwan Jerman yang kemudian terbukti benar atau salah. Tujuannya adalah memunculkan kondisi “percaya” dan “ragu” terhadap sains dalam konteks yang realistis. Eksperimen ini menyatakan hasil bahwa kelompok yang membaca pernyataan ilmiah yang akurat melaporkan peningkatan signifikan dalam rasa percaya terhadap sains. Namun yang menarik, perubahan ini tidak memengaruhi niat mereka untuk melakukan perilaku perlindungan, seperti menjaga jarak, mencuci tangan, atau menerima vaksin. Bahkan pada beberapa kasus, tingkat kepercayaan yang lebih tinggi justru sedikit menurunkan niat vaksinasi.

Untuk memastikan hasil temuan tersebut bukan kebetulan, para peneliti menggabungkan data keempat studi ke dalam satu meta-analisis internal dan menambahkan model pembelajaran mesin (Machine Learning) untuk mendeteksi pola kompleks. Hasilnya yang didapat dalam analisis ini konsisten dengan asumsi awal dari hasil temuan yaitu manipulasi kepercayaan terhadap sains memang berhasil mengubah persepsi, tetapi tidak menghasilkan perubahan nyata pada niat perilaku.

Pendeknya, kepercayaan terbukti berkorelasi dengan kepatuhan, tetapi tidak menyebabkan kepatuhan itu terjadi. Dengan kata lain, orang yang percaya pada sains memang cenderung lebih patuh, tetapi sekadar meningkatkan rasa percaya itu tidak otomatis membuat seseorang berubah perilaku.

Temuan ini mengingatkan kembali pada peringatan klasik dalam metodologi sains yaitu korelasi tidak selalu berarti kausalitas. Selama pandemi, banyak penelitian sosial tergesa-gesa dipublikasikan untuk memberi masukan kebijakan. Karena mayoritas berbasis survei potong lintang (cross sectional), hasilnya hanya menggambarkan hubungan antara variabel, bukan arah sebab-akibat. Bisa jadi, bukan karena orang yang percaya pada sains menjadi patuh, melainkan mereka yang sudah berniat patuh kemudian menyatakan dirinya “percaya pada sains” sebagai bentuk pembenaran moral terhadap perilaku yang mereka pilih. Dalam hal ini, kepercayaan muncul sebagai konsekuensi, bukan penyebab.

Wingen dan rekan-rekannya juga menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap sains memiliki dua lapisan. Lapisan pertama adalah kepercayaan situasional, yang dapat berubah sesuai pengalaman, konteks sosial, atau informasi baru. Lapisan kedua adalah kepercayaan disposisional, yakni sikap jangka panjang yang terbentuk dari pendidikan, nilai budaya, dan pengalaman sosial. Kampanye publik biasanya hanya mampu menyentuh lapisan pertama, sementara perilaku masyarakat justru lebih dipengaruhi oleh lapisan kedua. Inilah yang menjelaskan mengapa pesan-pesan retoris seperti “percaya pada ilmuwan” sering kali tidak efektif mengubah perilaku nyata di lapangan.

Karena mayoritas berbasis survei potong lintang (cross sectional), hasilnya hanya menggambarkan hubungan antara variabel, bukan arah sebab-akibat. Bisa jadi, bukan karena orang yang percaya pada sains menjadi patuh, melainkan mereka yang sudah berniat patuh kemudian menyatakan dirinya “percaya pada sains” sebagai bentuk pembenaran moral terhadap perilaku yang mereka pilih. Dalam hal ini, kepercayaan muncul sebagai konsekuensi, bukan penyebab.

Implikasi temuan ini sangat relevan bagi kebijakan komunikasi kesehatan. Jika meningkatkan kepercayaan saja tidak cukup untuk mengubah perilaku, maka strategi komunikasi publik perlu diarahkan ulang.

Kampanye Sains Paling Efektif Bukan Sekedar Ajakan Moral

Kai Ruggeri, ilmuwan perilaku di Columbia University dan beberapa koleganya meninjau berbagai studi pandemi dalam artikel ilmiah yang terbit di Nature pada 2024, berpendapat bahwa kunci perubahan perilaku bukan terletak pada menanamkan kepercayaan, melainkan menciptakan kondisi sosial yang layak dipercaya. Dalam tinjauannya, para peneliti menemukan bahwa kampanye paling efektif adalah yang menekankan kejelasan informasi, konsistensi kebijakan, dan rasa keadilan, bukan sekadar ajakan moral untuk mempercayai ilmuwan (sains). Masyarakat tidak akan percaya hanya karena disuruh percaya; mereka akan percaya ketika lembaga-lembaga publik menunjukkan perilaku yang pantas dipercaya.

Dalam konteks global, termasuk Indonesia, pesan ini penting. Di negara-negara dengan tingkat kepercayaan institusional yang rendah, termasuk Indonesia, masalah utama dalam komunikasi sains bukan terletak pada rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap sains itu sendiri, melainkan pada lemahnya kredibilitas lembaga yang mengatasnamakan sains. Laporan Freedom in the World 2024 dari Freedom House menempatkan Indonesia dalam kategori Partly Free dengan skor 56 dari 100, yang mencerminkan keterbatasan dalam akuntabilitas, transparansi, dan independensi institusional. Kondisi ini turut melemahkan basis kepercayaan publik terhadap institusi pemerintah, termasuk yang berperan dalam penyampaian kebijakan berbasis sains. Survei Indikator Politik Indonesia tahun 2024 juga menunjukkan tren serupa, kepercayaan publik terhadap lembaga-lembaga politik menurun, sementara kepercayaan terhadap institusi non-politik seperti universitas dan lembaga riset tetap lebih tinggi.

Dalam konteks seperti ini, resistensi publik terhadap kebijakan ilmiah sering kali bukan cerminan anti-sains, melainkan ekspresi dari ketidakpercayaan terhadap lembaga yang dianggap tidak konsisten atau tidak transparan. Ketika pesan kesehatan datang dari sumber yang berafiliasi politik atau dari institusi yang reputasinya diragukan, kepatuhan masyarakat cenderung menurun. Sehingga dalam hal ini, kepercayaan terhadap sains bersifat relasional, melainkan muncul dari interaksi sosial yang berkelanjutan antara ilmuwan, institusi, dan masyarakat.

Kunci perubahan perilaku bukan terletak pada menanamkan kepercayaan, melainkan menciptakan kondisi sosial yang layak dipercaya. Kampanye paling efektif adalah yang menekankan kejelasan informasi, konsistensi kebijakan, dan rasa keadilan, bukan sekadar ajakan moral untuk mempercayai ilmuwan. Masyarakat tidak akan percaya hanya karena disuruh percaya; mereka akan percaya ketika lembaga-lembaga publik menunjukkan perilaku yang pantas dipercaya.

Pentingnya Keterbukaan Riset (Null Effect)

Kembali pada temuan riset When Correlation Does Not Imply Causation – No Evidence for Causal Effects of Trust in Science on Pandemic-Related Protection Intentions, para peneliti justru menekankan pentingnya melaporkan hasil “nol efek” ini secara terbuka. Semua data dan analisis mereka dibuka di repositori daring agar dapat diperiksa oleh peneliti lain. Dalam iklim akademik yang kerap menekankan “temuan positif,” keberanian melaporkan hasil tanpa efek adalah praktik ilmiah yang penting, terutama ketika hasil tersebut berpotensi mengoreksi asumsi kebijakan yang sudah mengakar. Penelitian ini bukan hanya soal kepercayaan terhadap sains, tetapi juga tentang bagaimana sains seharusnya bekerja: hati-hati terhadap klaim, terbuka terhadap revisi, dan transparan dalam bukti.

Kepercayaan pada sains memang penting, tetapi bukan variabel yang bisa dimanipulasi dalam jangka pendek. Ia tumbuh perlahan dari konsistensi lembaga, integritas ilmuwan, dan pengalaman publik terhadap keandalan kebijakan berbasis bukti. Upaya membangun kepercayaan publik tidak dapat diserahkan pada retorika, melainkan pada tindakan nyata yang menunjukkan bahwa sains memang layak dipercaya.

Pandemi atau krisis global COVID-19 bukanlah yang terakhir, namun ancaman krisis berikutnya dapat lebih kita kendalikan dengan lebih baik, seruan untuk “membangun kembali kepercayaan pada sains” pasti akan kembali muncul di masa-masa berikutnya. Namun pelajaran dari riset ini bahwa kepercayaan bukan sesuatu yang bisa diperintah, tetapi sesuatu yang harus diperoleh. Sains tidak cukup hanya diyakini, tetapi harus dibuktikan pantas dipercaya melalui transparansi, akuntabilitas, dan keterlibatan masyarakat. Pandemi berikutnya mungkin menuntut kita bukan hanya untuk “percaya pada sains,” tetapi untuk memastikan bahwa sains dan kebijakan berjalan searah dengan nilai-nilai yang membuat kepercayaan itu masuk akal.

Leave a Comment Here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.