Jane Goodall, primatolog dan konservasionis terkemuka, meninggal dunia pada 1 Oktober 2025 di California, Amerika Serikat, dalam sebuah tur ceramah di Amerika Serikat. Kematian disebabkan oleh penyebab alami. Kabar ini segera direspon oleh banyak pihak sebagai kehilangan besar bagi sains dan gerakan pelestarian alam. Meski telah lama beralih sebagian dari aktivitas penelitian lapangannya ke advokasi dan pendidikan masa hidupnya, reputasi Goodall sebagai peneliti tetap melekat kuat — ia dikenal sebagai salah satu ilmuwan yang telah menyatukan riset mendalam dengan kepedulian publik terhadap masalah ekologi dan hak-hak hewan.

Penelitian Lapangan di Gombe
Pada Juli 1960, pada usia 26 tahun, Goodall tiba di Taman Nasional Gombe Stream (Tanzania) untuk mulai mengamati kehidupan simpanse di alam liar. Sebelum penelitiannya, pandangan dominan dalam primatologi atau etologi (studi perilaku hewan) berasumsi bahwa alat (tool) dan perilaku sosial tingkat kompleks seperti altruisme atau emosi mungkin eksklusif bagi manusia. Goodall menantang asumsi itu lewat observasinya, diantaranya.
- Ia mendokumentasikan bahwa simpanse membuat dan menggunakan alat (misalnya batang rumput untuk mengais rayap). Temuan ini menggusur klaim bahwa penggunaan alat merupakan karakteristik yang hanya dimiliki manusia.
- Ia menemukan bahwa simpanse tak selalu vegetarian — mereka juga berburu, memakan daging hewan kecil atau serangga, suatu perilaku yang sebelumnya dianggap tidak lazim bagi primata selain manusia.
- Ia menunjukkan bahwa simpanse memiliki personalitas, ikatan sosial, emosi, konflik, rekonsiliasi, dan perilaku kompleks lain yang lebih “manusiawi” daripada yang pernah diakui. Goodall memperlakukan individu simpanse sebagai entitas yang memiliki nama, bukan sekadar nomor, suatu pendekatan yang kontroversial di awal tetapi kemudian diikuti oleh banyak peneliti.
Temuan-temuan tersebut mengubah paradigma studi hewan sosial. Di dalam bidang etologi dan antropologi, batas antara manusia dan hewan semakin dipertanyakan. Goodall membantu memperluas perspektif bahwa perilaku kognitif, sosial, dan emosional dapat ditemukan di banyak spesies — dan bahwa manusia tidak otomatis menjadi pusat dalam hierarki perilaku.
Institusi dan Program Konservasi
Seiring berkembangnya reputasi dan pengaruhnya, Goodall mendirikan Jane Goodall Institute pada 1977 untuk mendukung penelitian, konservasi habitat, dan pendekatan terpadu terhadap isu-isu hewan dan manusia. Salah satu inisiatif paling terkenal dari institusinya adalah program Roots & Shoots (Akar & Tunas), yang diluncurkan untuk mendorong generasi muda — anak-anak dan remaja — untuk melakukan aksi nyata di bidang lingkungan, pendidikan, dan relasi manusia-hewan di komunitas mereka sendiri. Program ini kini hadir di puluhan negara. Goodall juga aktif mengadvokasi perlindungan habitat, penghentian perburuan liar, dan rehabilitasi satwa yang terancam punah. Dalam beberapa dekade terakhir, ia mengalihkan sebagian besar waktunya ke berbicara di forum publik, menulis buku populer, dan menggalang kesadaran global mengenai perubahan iklim dan keanekaragaman hayati.
Goodall memperoleh banyak penghargaan global atas karyanya: Templeton Prize pada 2021, dan pada tahun 2025 dianugerahi Presidential Medal of Freedom dari Amerika Serikat. Walaupun awalnya ia tidak memiliki latar belakang pendidikan formal dalam biologi saat memulai penelitian, dalam pengakuan terhadap nilai unik penelitiannya, Universitas Cambridge kemudian memberikan gelar PhD padanya berdasarkan riset yang telah ia lakukan.
Resiliensi Sepanjang Karier dan Hidup
Resiliensi Jane Goodall — ketahanan mental, semangat berkelanjutan, dan kemampuan beradaptasi terhadap hambatan — tampak jelas selama lebih dari enam dekade kariernya. Pada masa awal, Goodall dianggap penyusul amatir oleh sebagian kolega ilmiah karena ia bukanlah ilmuwan dengan gelar universitas formal. Pendekatannya — memberi nama individu simpanse, melakukan pengamatan secara intensif selama waktu panjang — dianggap subjektif atau tidak ilmiah oleh sebagian pihak. Namun Goodall mempertahankan keyakinannya bahwa pendekatan ini justru membuka wawasan baru yang tak bisa dicapai melalui metode kuantitatif eksperimental semata. Ia menunjukkan kesabaran dan konsistensi selama bertahun-tahun, tidak mudah menyerah walau banyak skeptisisme.

Jane Goodall (1934-2025)
1934: Lahir di London.
1960: Memulai penelitian di Gombe Stream, Tanzania.
1965: Meraih PhD dari Universitas Cambridge.
1977: Mendirikan Jane Goodall Institute.
1991: Meluncurkan program Roots & Shoots.
2021: Menerima Templeton Prize.
2025: Menerima Presidential Medal of Freedom (AS).
2025 (Oktober): Wafat di usia 91.
Goodall mengalami kehilangan dan kesedihan dalam hidup pribadinya. Setelah kematian suaminya, Derek Bryceson, pada 1980 akibat penyakit, Goodall sempat berada dalam masa berkabung panjang. Namun ia kemudian kembali aktif dalam misinya, menemukan cara untuk merangkul kehilangan sebagai bagian dari perjalanan manusia hidup. Lebih lanjut, dalam melakukan riset lapangan selama puluhan tahun, Goodall menghadapi kesulitan seperti kondisi alam yang keras, penyakit, konflik lokal, kurangnya dana, dan tekanan terhadap habitat primata yang terus-menerus menciut. Meski begitu, ia terus pergi ke lapangan atau mendukung kerja lapangan lewat institusinya.
Seiring bertambahnya usia, Goodall beralih sebagian dari penelitian lapangan ke peran advokatif dan edukatif. Ia tidak membiarkan dirinya “pensiun” dari kontribusi publik. Bahkan hingga usia lanjutnya, ia aktif melakukan ceramah, memobilisasi masyarakat, dan mendesak tindakan terkait perubahan iklim dan pelestarian alam.
Warisan Jane Goodall bukan hanya publikasi ilmiah atau program konservasi, melainkan sebuah paradigma: bahwa manusia adalah bagian dari jejaring kehidupan, bukan penguasa tunggalnya. Ia mengajarkan bahwa penelitian dapat berdampingan dengan empati, dan bahwa sains sejati memiliki tanggung jawab moral.
Kini, ketika dunia berjuang menghadapi perubahan iklim, deforestasi, dan kepunahan massal, suara Goodall tetap menggema. Ia telah tiada, tetapi pesan hidupnya terus bergaung: perubahan dimulai dari satu individu, satu komunitas, satu tindakan sederhana. Dalam setiap batang rumput yang digunakan simpanse untuk mengais rayap, tersimpan cerita tentang keberanian seorang perempuan yang mengubah definisi manusia.
