Pada September 2025, Universitas Sorbonne mengumumkan keputusan penting, mulai 2026, universitas tersebut tidak lagi mengirimkan data ke Times Higher Education (THE) World University Rankings. Langkah ini ditempuh bukan semata reaksi instan, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk mereformasi penilaian riset dan mempromosikan keterbukaan dalam sains.
Dalam rilis resminya, Sorbonne menegaskan bahwa sistem pemeringkatan global, seperti THE, mengandalkan data dan indikator yang tidak sepenuhnya transparan. Data yang dipakai untuk menghitung skor universitas dianggap sulit diverifikasi dan tidak menjamin keterulangan (reproducibility) hasil.
Menurut Nathalie Drach-Temam, Presiden Universitas Sorbonne, penggunaan peringkat internasional dalam mengukur kualitas riset dan pendidikan sering kali menyederhanakan kompleksitas misi universitas. Alih-alih berfokus pada kepentingan publik, universitas terjebak dalam logika reputasi dan kompetisi.
Keputusan ini juga konsisten dengan komitmen Sorbonne pada Coalition for Advancing Research Assessment (CoARA, 2022) dan Barcelona Declaration on Open Research Information (DORI, 2023). Kedua dokumen tersebut mendorong lembaga pendidikan untuk menghindari penggunaan peringkat komersial sebagai dasar penilaian institusional. Sebagai gantinya, mereka menyerukan pemanfaatan basis data terbuka dan infrastruktur partisipatif, seperti OpenAlex, yang memungkinkan penilaian berbasis informasi riset yang dapat diakses secara publik.
Sorbonne sendiri sejak lama tidak berlangganan ke Scopus maupun Web of Science, dua basis data utama ini yang dipakai oleh THE untuk mengukur indikator riset. Pada 2025, universitas ini bahkan resmi menyatakan berhenti menggunakan Web of Science (WoS), sebagai bagian dari reposisi menuju ekosistem informasi ilmiah yang lebih terbuka.
Sorbonne Bukan yang Pertama
Sorbonne bukanlah universitas di Eropa pertama yang keluar dari sistem perankingan internasional. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah lembaga bergengsi mengambil langkah serupa. Pada 2022, Univeristas Utrecht di Belanda memutuskan untuk berhenti berpartisipasi dalam QS dan THE Rankings, dengan alasan bahwa peringkat global tidak sejalan dengan misi pendidikan inklusif dan keberlanjutan. Universitas Leiden dan Wageningen di Belanda juga mengkritik keras metodologi perankingan dan mengurangi keterlibatan mereka. Di Jerman, beberapa lembaga riset dan universitas yang tergabung dalam German Rectors’ Conference (HRK) telah lama menyuarakan keberatan terhadap dominasi peringkat komersial dalam menentukan reputasi akademik.
Fenomena ini sebenarnya tinggal menunggu waktu, juga menandakan perubahan paradigma di kalangan perguruan tinggi Eropa. Semakin banyak universitas yang memilih untuk menilai kualitas riset dan pendidikan melalui indikator alternatif, seperti keterbukaan data, kolaborasi lintas disiplin, dampak sosial, serta kontribusi terhadap kebijakan publik. Fokusnya beralih dari prestise semata menuju legitimasi akademik yang lebih bertanggung jawab dan dapat diakses masyarakat luas.
Keputusan Universitas Sorbonne memperkuat tren ini. Dengan menarik diri dari THE Rankings, Sorbonne menegaskan posisinya sebagai salah satu pelopor reformasi penilaian riset di Eropa. Pilihan ini juga mengirimkan pesan kuat bahwa universitas tidak seharusnya diukur hanya dari angka-angka kompetisi global, melainkan dari bagaimana mereka mendukung perkembangan ilmu pengetahuan terbuka, memperkuat kepercayaan publik, dan menjawab tantangan sosial di masa depan.
