Meninjau Ulang Jejak Awal Manusia di Sulawesi: Apa Maknanya bagi Arkeologi dan Narasi Prasejarah Asia Tenggara?

Penelitian di Calio, Sulawesi Selatan, menunjukkan bahwa kemampuan teknologi, penyebaran spasial, dan interaksi manusia dengan lingkungan selama awal Pleistosen jauh lebih kompleks daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Penemuan arkeologi terbaru di situs Calio di Sulawesi Selatan, sebagaimana dilaporkan oleh tim lapangan yang dipimpin oleh arkeolog senior Budianto Hakim dari Badan Riset dan Inovasi Nasional Indonesia (BRIN), menunjukkan bahwa hominin mungkin telah hadir di pulau Sulawesi sejak 1,04 juta tahun yang lalu, dan mungkin bahkan sejak 1,48 juta tahun yang lalu. Penemuan ini merupakan temuan ilmiah dan konseptual yang signifikan, tidak hanya karena menempatkan Sulawesi sejajar—atau bahkan lebih awal—dengan Flores dan Luzon dalam kronologi migrasi manusia awal ke wilayah Wallacea, tetapi juga karena menantang narasi migrasi dan adaptasi yang selama ini diyakini dalam studi prasejarah Asia Tenggara.

Apa yang ditemukan?

Tim peneliti menemukan tujuh artefak batu yang secara jelas menunjukkan modifikasi manusia, terkubur dalam lapisan pasir sungai tua dari Formasi Walanae (Sub-Unit B Beru). Artefak-artefak ini dibuat dari chert yang tersedia secara lokal dan menunjukkan teknik pemecahan bebas tangan menggunakan pukulan palu keras. Salah satu artefak bahkan diidentifikasi sebagai flake Kombewa—teknik pengurangan sekunder yang memerlukan pemahaman canggih tentang arah pukulan dan platform.

Lapisan tempat artefak ditemukan diperkirakan berasal dari awal Pleistosen berdasarkan data paleomagnetik dan kombinasi penanggalan Uranium-Serial-Uranium (US-USR) dan Electron Spin Resonance (ESR) pada fosil rahang atas Celebochoerus heekereni yang ditemukan di lokasi dan kedalaman yang sama.

Model penanggalan US–ESR yang diterapkan dalam studi ini—dengan usia diperkirakan 1,26 ± 0,22 juta tahun—telah dikalibrasi menggunakan teknik modern yang memperhitungkan variasi difusi uranium. Hasil ini memperkuat temuan paleomagnetik yang menunjukkan polaritas terbalik dari pembentukan batuan, menyarankan rentang waktu antara 1,07 dan 1,78 juta tahun yang lalu (antara subchron Olduvai dan Jaramillo).

Peta area studi: Benda-benda batu dan fosil yang digali dari lapisan batu pasir kuno di Calio, Sulawesi Selatan. (Gambar oleh peneliti via Nature)

Lalu Apa Makna Penemuan Ini?

Jika artefak-artefak ini memang berasal dari lebih dari satu juta tahun yang lalu, situs Calio mewakili bukti tertua keberadaan hominin di Sulawesi Selatan. Hal ini menempatkan Sulawesi sejajar dengan Flores, di mana artefak dari situs Wolo Sege telah dikonfirmasi berusia sekitar 1,02 juta tahun (Brumm et al., 2010), dan lebih awal dari Luzon, di mana artefak-artefak tersebut diperkirakan berusia 709.000 tahun (Ingicco et al., 2018).

Namun, berbeda dengan Flores yang memiliki fosil hominin seperti Homo floresiensis, atau Luzon dengan Homo luzonensis, penemuan di Sulawesi belum termasuk fosil hominin. Oleh karena itu, identitas spesies hominin di Calio masih spekulatif. Apakah mereka Homo erectus yang migrasi dari Asia daratan? Atau mungkin perwakilan awal dari kelompok hominin punah lainnya? Atau bahkan nenek moyang dari H. floresiensis atau H. luzonensis?

Pertanyaan-pertanyaan ini membawa kita pada pertimbangan yang lebih luas tentang sejarah kolonisasi di wilayah WallaceaWilayah ini merupakan penghalang ekologi dan geografis, penghalang laut yang signifikan yang secara teoritis memerlukan kemampuan pelayaran atau setidaknya penyeberangan laut yang tidak dapat dijelaskan hanya oleh arus laut atau penyebaran pasif. Oleh karena itu, jika hominin memang mencapai Sulawesi lebih dari satu juta tahun yang lalu, kita perlu meninjau kembali asumsi tentang kemampuan navigasi dan adaptasi teknologi mereka.

Mengapa temuan ini penting?

Temuan ini menunjukkan bahwa migrasi manusia purba jauh lebih kompleks daripada yang diasumsikan oleh model konvensional “out of Africa”, yang bergantung pada migrasi bertahap melalui jembatan darat. Wallacea, sebagai zona kepulauan antara benua Asia (Sunda) dan Australia (Sahul), menyediakan lahan uji yang ideal untuk mempertanyakan sejauh mana kemampuan navigasi, teknologi, dan adaptasi lingkungan hominin purba.

Selain itu, temuan ini menantang bias kronologis dalam arkeologi Asia Tenggara, yang selama ini terlalu fokus pada Flores dan Filipina. Sulawesi, yang secara geografis lebih luas dan secara ekologi lebih kompleks, mungkin menyimpan banyak situs prasejarah penting yang belum dieksplorasi secara sistematis. Pentingnya studi ini tidak hanya terletak pada usianya, tetapi juga pada kebutuhan untuk menulis ulang narasi kolonisasi Wallacea, dengan mempertimbangkan model migrasi multi-jalur dan multi-waktu, yang memiliki implikasi besar bagi rekonstruksi evolusi hominin di Asia Tenggara dan Australasia.

Temuan di Calio harus menjadi titik tolak untuk penyelidikan lebih lanjut.

Prioritas utama adalah menemukan sisa-sisa tulang hominin yang dapat menghubungkan artefak dengan spesies tertentu. Selain itu, studi geoarkeologi lebih lanjut diperlukan untuk memastikan bahwa konteks stratigrafi artefak tidak terganggu oleh proses sedimentasi sekunder. Penggalian sistematis dengan kontrol mikrosedimentologi, analisis sisa organik, dan pemetaan geospasial akan sangat krusial. Sama pentingnya adalah pengembangan kerangka interpretasi yang lebih fleksibel, yang kurang bergantung pada tipologi artefak atau kronologi linier, tetapi membuka ruang untuk migrasi simultan dan adaptasi paralel. Penelitian di Calio, Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa kemampuan teknologi, penyebaran spasial, dan interaksi manusia-lingkungan selama awal Pleistosen jauh lebih kompleks daripada yang sebelumnya diperkirakan.

Leave a Comment Here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.