Royal Society Akan Membuka Akses Jurnal Ilmiahnya Mulai Tahun Depan

Akademi Ilmu Pengetahuan Inggris mengadopsi model ‘berlangganan untuk akses terbuka’, dengan perpustakaan diminta untuk mendukung transisi tersebut.

Seperti yang diberitakan Miryam Naddaf di Nature, 6 Agustus kemarin, mulai tahu depan, Royal Society (lembaga sains tertua di Inggris) akan mencoba cara baru untuk membuat jurnal ilmiahnya gratis dibaca (read) dan dipublikasikan (publish). Cara ini disebut dengan model Subscribe to Open (S2O). Prinsipnya sederhana, jika cukup banyak perpustakaan membayar biaya langganan tahunan, seluruh artikel dalam jurnal tersebut akan dibuka gratis untuk semua orang selama satu tahun. Penulis juga tidak perlu membayar biaya publikasi (article processing charges atau APC). Jika jumlah langganan kurang, jurnal akan kembali berbayar, dan percobaan dilanjutkan di tahun berikutnya. Model ini akan diterapkan di delapan jurnal, termasuk Philosophical Transactions A dan B yang merupakan jurnal ilmiah tertua di dunia. Sebelumnya, dua jurnal Royal Society lainnya sudah gratis sejak awal yaitu Open Biology and Royal Society Open Science.

Mengapa langkah ini penting?
Selama beberapa tahun terakhir, Royal Society meningkatkan porsi artikel yang bisa diakses bebas. Angkanya 17 persen pada 2020, naik menjadi 60 persen pada 2024, dan berada di 55 persen untuk publikasi 2025 sejauh ini. Menurut pernyataan Direktur Penerbitan Royal Society, S2O dipandang sebagai cara yang sederhana untuk mencapai 100 persen akses terbuka dalam satu langkah, sepanjang dukungan langganan memadai. Dua jurnal Royal Society lain sudah akses terbuka sejak awal, sehingga total ada sepuluh judul, delapan akan masuk S2O dan dua tetap terbuka.

Model S2O ini bekerja dengan memanfaatkan anggaran berlangganan perpustakaan yang sudah ada sebelumnya. Dana tersebut dialihkan agar konten jurnal terbuka untuk semua pembaca, dan penulis tidak dipungut biaya APC. Jadi bukan menambah biaya baru, tetapi mengubah cara memakai anggaran yang selama ini dipakai untuk membayar paywall. Prinsip dasarnya adalah solidaritas kelembagaan. Perpustakaan yang membayar membantu membuka akses untuk komunitas global.

Model S2O ini tidak hanya dipilih oleh Royal Society, sebut saja Annual Reviews di Amerika Serikat memulai S2O pada 2020 untuk lima jurnal, lalu pada 2023 seluruh 51 jurnalnya memakai S2O. EMS Press di bawah European Mathematical Society menguji di 10 jurnal pada 2021 dan memperluas ke 22 jurnal pada 2024. EDP Sciences di Prancis juga mengadopsi S2O untuk delapan jurnal, termasuk Astronomy & Astrophysics. Secara global, jumlah jurnal yang memakai S2O naik dari 192 judul pada 2024 menjadi 378 judul pada 2025. Data ini menunjukkan tren adopsi yang meningkat, namun bukan berarti tanpa masalah.

Lalu, Dimana Risikonya?
Pertama, ketergantungan pada anggaran perpustakaan. Menurut survei yang dikutip Nature, hampir 75 persen perpustakaan universitas di Inggris memotong anggaran pada 2025, sebagian hingga 30 persen. Jika anggaran menyusut, pembaruan langganan bisa melemah, dan ambang S2O tidak tercapai.

Kedua, sekat anggaran internal. Dana untuk membayar biaya publikasi penulis dan dana langganan sering dipisahkan. Banyak perpustakaan tidak bisa begitu saja memindahkan anggaran dari pos biaya publikasi ke pos langganan, padahal tujuannya sama, yaitu keterbukaan akses.

Ketiga, sifat S2O yang kondisional. EDP Sciences pernah menutup kembali Radioprotection pada 2023 karena langganan tidak mencapai target. Jurnal itu baru terbuka lagi setelah ada dukungan tambahan dari asosiasi profesi dan lembaga penelitian.

Namun begitu, model S2O ini menguntungkan komunitas global utamanya bagi negara dengan akses terbuka yang minim. Bagi pembaca umum di kawasan ini, kebijakan S2O memperluas akses pengetahuan tanpa harus melewati paywall. Bagi penulis, terutama dari institusi dengan dana terbatas, hilangnya biaya publikasi mengurangi hambatan untuk masuk ke jurnal bereputasi. Bagi lembaga, manfaatnya adalah peningkatan jangkauan dan dampak riset, karena lebih banyak orang bisa membaca dan mengutip.

Di sisi lain bagi negara dengan pendapatan rendah akan menimbulkan dampak ketergantungan sumber ilmiah, S2O memang menghapus biaya publikasi penulis, tetapi ketergantungan pada anggaran perpustakaan di negara maju tetap tinggi. Selain itu, akses terbuka tidak menyelesaikan masalah lain seperti infrastruktur riset, kualitas data, atau pendampingan penulisan di negara dengan masalah akses terbuka dan riset terbatas. Tanpa dukungan teknis, akses gratis berisiko hanya meningkatkan konsumsi pengetahuan yang dominan dari negara-negara kaya, bukan produksi pengetahuan dengan sifat keberagaman. Masalah ini harus menjadi titik kritik di kemudian hari.

Apa yang bisa dilakukan agar S2O lebih tahan krisis?
Pertama, diversifikasi sumber dana. Selain langganan, perlu ada dukungan dari asosiasi profesi, konsorsium nasional, dan donor filantropi yang berfungsi sebagai jaring pengaman saat anggaran perpustakaan dipotong.

Kedua, reformasi tata kelola anggaran. Kebijakan internal yang memisahkan pos biaya publikasi dan pos langganan perlu ditinjau, sehingga dana dapat dialihkan sesuai kebutuhan untuk menjaga keterbukaan.

Ketiga, transparansi biaya dan dampak. Penerbit sebaiknya mempublikasikan metrik yang mudah dipahami, misalnya biaya per artikel, jumlah pembaca baru per wilayah, serta dampak pada sitasi. Data semacam ini membantu perpustakaan menjelaskan manfaat langganan ke pemangku kepentingan.

Keempat, kontrak bertingkat. Konsorsium dapat merancang paket langganan multiyear dengan diskon volume dan klausul penyangga yang aktif ketika indikator fiskal memburuk. Tujuannya mencegah ayunan dari terbuka ke tertutup secara mendadak.

Sebagai negara yang akan menyiapkan model berlangganan akses jurnal berlangganan secara nasional (SATU) maka model ini dapat menjadi acuan implikatif untuk Indonesia. Perpustakaan perguruan tinggi dapat memetakan jurnal yang paling relevan bagi kurikulum dan riset lokal, lalu memprioritaskan dukungan pada judul yang masuk S2O. Lembaga penelitian dan asosiasi profesi dapat menyiapkan dana pendamping kecil untuk mengatasi selisih jika target langganan nyaris terpenuhi. Di sisi penulis, program pendampingan penulisan dan penyuntingan ilmiah perlu dipercepat agar peluang publikasi terbuka benar-benar dimanfaatkan.

Sehingga dapat dipahami jika keputusan Royal Society untuk mencoba S2O adalah eksperimen kebijakan yang rasional. Model ini menggeser beban biaya dari individu penulis ke anggaran kelembagaan yang lebih stabil, dan membuka akses bagi publik luas. Namun keberhasilan bergantung pada kesehatan fiskal perpustakaan, fleksibilitas aturan internal, dan koordinasi antarpihak. Apalagi anggaran riset dan pendidikan tinggi sedang mengalami penurunan di Inggris Raya. Dukungan publik dan data yang transparan akan menentukan apakah S2O menjadi jembatan yang kokoh menuju keterbukaan penuh atau sekadar episode singkat yang kembali ke pola lama.

Leave a Comment Here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.