Setidaknya dalam satu dasawarsa terakhir, profesi dosen di Indonesia mengalami pergeseran fundamental. Lebih dari hanya mengajar, membimbing, dan meneliti, mereka kini dituntut menguasai serangkaian peran yang membentang dari administratur, kreator konten, wirausahawan, penggalang dana, hingga influencer akademik bahkan politisi kampus. Fenomena ini, yang dalam kajian sosiologi disebut sebagai hibriditas. Peran hibridia ini juga menjangkiti hampir semua bidang kerja, namun di dunia akademik, dampaknya terasa lebih pelik.
Di atas kertas, hibriditas profesi dosen sering dibingkai sebagai “adaptasi zaman” atau “produktivitas kerja”. Perguruan tinggi, dalam tekanan globalisasi, internasionalisasi dan kompetisi peringkat internasional, berharap dosennya menjadi sosok multifungsi (tidak sekedar dwifungsi). Universitas berharap akademisi menjadi subyek dan obyek yang piawai mengajar, produktif meneliti, lincah mempublikasikan karya ilmiah internasional, pandai membangun jejaring industri, dan cekatan mencari hibah penelitian. Tak jarang, daftar tuntutan itu memanjang hingga wilayah yang nyaris absurd—mengisi konten media sosial demi “branding” atau perwajahan kampus, atau mengikuti pelatihan manajemen proyek untuk mengelola program kemitraan dengan industri sebagai bagian dari hilirisasi universitas.
Persoalannya, logika “multi-tasking” ini sering kali mengabaikan realitas dasar bahwa setiap peran itu menuntut fokus, keterampilan, dan energi yang berbeda. Ketika semua peran digabung tanpa redistribusi beban kerja, yang terjadi adalah erosi kualitas. Mengajar menjadi formalitas, riset terpaksa “asal jadi” bahkan “abal-abal” demi memenuhi target publikasi setiap periode BKD, dan pengabdian masyarakat tereduksi menjadi laporan seremonial dan administratif “kertas” yang ribet.
Beban ganda ini juga diperparah oleh sistem evaluasi kinerja yang kaku. Key Performance Indicators (KPI) dosen sering kali mengadopsi logika kuantitatif. Isinya lebih bernuansa, berapa artikel terbit, berapa paten didaftarkan, berapa kegiatan dilakukan, berapa capaian sitasinya yang itu semua dihitung dan dikuantifikasi tanpa mengukur kedalaman atau relevansinya. Di sinilah paradoks itu memuncak terjadi, dosen dituntut menjadi “serba bisa”, tapi dihargai hanya jika terlihat “serba banyak”.
Bagi sebagian dosen muda—istilah lama untuk sebutan dosen awal karir yang tidak berhubungan dengan usia, hibriditas ini memunculkan dilema eksistensial. Mereka masuk dunia akademik dengan motivasi intelektual, tetapi kemudian mendapati diri terjebak dalam spiral kerja administratif, proyek dan budaya warisan seniornya. “Menjadi akademisi” perlahan bergeser menjadi “mengelola output”. Identitas profesi pun kehilangan jangkar epistemiknya. Terlalu jauh masuk ke bahasan epistemik, mereka bahkan disiapkan menjadi birokrat administratif.
Fenomena ini tidak hanya mengancam kualitas pendidikan tinggi, tetapi juga kesehatan mental para dosen. Riset-riset internasional telah menunjukkan korelasi antara role overload dan tingkat kelelahan (burnout) di kalangan akademisi. Sayangnya, isu ini masih jarang dibicarakan secara serius di Indonesia. Perbincangan publik tentang pendidikan tinggi cenderung terfokus pada prestise capaian alumni, mahasiswa dan capaian pemeringkatan kampus, sementara nasib dan keberlanjutan profesi dosen terpinggirkan. Apalagi kalau diseret ke bahasan kesejahteraan dosen. Seperti angin lalu.
Jika perguruan tinggi benar-benar ingin memaksimalkan potensi dosennya, maka hibriditas peran harus dikelola, bukan sekadar dibiarkan sebagai “keniscayaan zaman” dan “produktivitas kerja”. Perlu ada kebijakan distribusi beban kerja yang realistis, pemisahan peran administratif dari akademik, bahkan mengembalikan fungsi dosen sebagai pengajar mahasiswa, bukan pemburu peringkat dan sitasi. Serta mekanisme dukungan untuk kesehatan mental. Tanpa itu semua, kampus hanya akan melahirkan dosen yang lelah dan mahasiswa yang kehilangan teladan akademik sejati. Dosen yang lelah akan kehilangan daya kritisnya, bahkan untuk mengkritisi kebijakan yang membelit dirinya. Dia nyaris tak berdaya. Letih.
Dalam dunia yang semakin hibrid, kemampuan beradaptasi memang penting. Namun, tidak semua tuntutan harus dipenuhi apalagi tuntutan pasar, dan tidak semua peran harus digabungkan dalam satu tubuh manusia. Karena kita ini insan bukan seekor Sapi. Mengajar dengan sepenuh hati, meneliti dengan kedalaman, dan membimbing dengan kesabaran membutuhkan ruang, waktu, dan fokus. Bukan sekadar daftar peran yang dicentang demi ragam laporan tahunan.
