PANGAEA: Upaya Menyelamatkan Data Ilmiah Amerika Serikat

Dalam beberapa tahun terakhir, akses terhadap data ilmiah menjadi semakin rentan karena dinamika politik yang tidak selalu berpihak pada sains, kemudian muncul tantangan struktural dan epistemik yang mengancam keberlanjutan akses terhadap data ilmiah. Data ilmiah yang dihasilkan dari skema pendanaan publik tidak lagi dapat diasumsikan eksis secara abadi di domain terbuka. Fragmentasi tata kelola data, ketidakpastian anggaran, serta tekanan ideologis terhadap lembaga-lembaga penelitian telah menciptakan iklim yang mengancam stabilitas arsitektur pengetahuan global.

Ketika institusi federal di Amerika Serikat, seperti Environmental Protection Agency (EPA) dan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), mulai membatasi atau memodifikasi akses ke sumber data strategis, terjadi ketegangan yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga normatif. Data yang dulunya dianggap sebagai common goods kini menjadi objek politisasi. Dalam menghadapi risiko epistemik ini, institusi penelitian di Jerman, seperti Alfred Wegener Institute (AWI) dan MARUM di Universitas Bremen, mengambil langkah kolektif melalui platform PANGAEA yaitu sebuah repositori ilmiah yang kini memainkan peran sebagai penyelamat arsip global.

PANGAEA: Repositori Ilmiah Terbuka Sebagai Arsip Perwalian

Repositori PANGAEA, yang telah eksis sejak awal 1990-an, merupakan infrastruktur ilmiah yang dirancang bukan hanya sebagai tempat penyimpanan, tetapi juga sebagai entitas pengelola data ilmiah yang terstandarisasi dan dapat direplikasi lintas konteks. Dengan mengadopsi prinsip-prinsip FAIR (Findable, Accessible, Interoperable, Reusable), PANGAEA berkontribusi dalam membangun ekosistem data terbuka yang menekankan transparansi metodologis dan kontinuitas akses lintas generasi.

Dalam beberapa tahun terakhir, peran PANGAEA telah bertransformasi dari repositori pasif menjadi aktor politik-epistemologis yang menavigasi lanskap kompleks antara konservasi data dan tantangan legalitas lintas negara. Tekanan geopolitik dan polarisasi domestik di negara-negara besar mendorong platform ini untuk mengasumsikan peran strategis sebagai “arsip fiduciary”—suatu bentuk perwalian ilmiah atas data yang rentan terhadap penghapusan. Selain penyelamatan ToxRefDB, PANGAEA juga mengambil alih dataset iklim dari proyek penelitian kutub yang semula dikelola oleh konsorsium Eropa yang telah dibubarkan, serta mengintegrasikan data paleoklimatik dari ekspedisi laut dalam yang sebelumnya tidak terdokumentasi secara publik. Inisiatif-inisiatif ini memperkuat fungsi PANGAEA sebagai node internasional dalam pelestarian pengetahuan lingkungan yang sangat bergantung pada stabilitas digital dan keberlanjutan kelembagaan.

Tangkapan layar repositori PANGAEA yang menyimpan data penting tentang ilmu bumi dan lingkungan dalam skala global.

Salah satu aksi yang menandai repositori ini adalah penyelamatan Toxicity Reference Database (ToxRefDB), kumpulan data toksisitas yang dihimpun EPA selama lebih dari lima dekade. Database ini mencakup informasi toksikologi in vivo terhadap lebih dari 1.000 bahan kimia dan telah menjadi pilar kajian risiko lingkungan, farmakologi prediktif, dan regulasi kimia global. Ketika akses terhadap ToxRefDB mengalami pembatasan administratif, tim ilmuwan dan insinyur data di PANGAEA melakukan mobilisasi cepat: menyalin, mengonversi, menyusun ulang metadata, dan mempublikasikannya ulang dalam kerangka akses terbuka yang mematuhi lisensi terbuka internasional. Intervensi ini merupakan aksi teknis sekaligus etis, karena menjamin bahwa data publik tetap tersedia untuk riset dan pengambilan keputusan berbasis bukti.

Intervensi serupa diterapkan terhadap World Ocean Database (WOD), yang dikelola NOAA. WOD merupakan salah satu kumpulan data oseanografi paling komprehensif di dunia, mencakup pengukuran parameter fisik laut sejak 1772. Signifikansinya sangat besar bagi kajian dinamika iklim, sirkulasi termohalin, hingga rekonstruksi paleoklimatik. Dengan perubahan prioritas politik dalam pemerintahan AS, keberlanjutan akses terhadap WOD menjadi dipertanyakan. Kekhawatiran atas keberlangsungan layanan data NOAA juga muncul dari dalam institusi itu sendiri. Seperti informasi yang kami dapat dari Nature News kemarin, seorang ilmuwan anonim NOAA, menyampaikan bahwa mereka saat ini tengah bekerja sama dengan tim teknologi informasi guna mengevaluasi potensi dampak penghentian layanan hosting data. Meskipun sejauh mana dampak tersebut belum sepenuhnya dapat dipetakan, risiko gangguan sistem dinilai cukup signifikan dan layak untuk diantisipasi.

Sebagai tindak lanjut, tim PANGAEA memperkuat koordinasi dengan NOAA untuk memprioritaskan penyelamatan data yang paling rentan. Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh Michael Glöckner dari PANGAEA di Nature News, langkah awal difokuskan pada pelestarian sejumlah basis data historis yang merekam aktivitas gempa bumi dan mata air panas. Ia menegaskan bahwa kapasitas penyimpanan saat ini masih mencukupi, namun kehilangan layanan kritis seperti pemrosesan dan integrasi data yang sebelumnya disediakan oleh NOAA dipandang sebagai hambatan serius dalam jangka pendek.

Kendati belum dapat menggantikan fungsi layanan NOAA secara penuh dalam waktu singkat, PANGAEA tetap berkomitmen untuk melakukan migrasi dan pelestarian penuh terhadap data yang dianggap penting. Kolaborasi yang sedang berlangsung ini menunjukkan pendekatan yang sistematis dan berkelanjutan, di mana PANGAEA secara aktif bekerja sama dengan NOAA untuk mengidentifikasi data yang harus diamankan selanjutnya. Dengan cara ini, mereka berupaya memastikan akses ilmiah global terhadap informasi lingkungan tetap terjaga dan dapat dimanfaatkan oleh generasi peneliti berikutnya.

Tantangan Global Repositori Ilmiah Terbuka

PANGAEA memiliki legitimasi kelembagaan yang kuat. Platform ini memperoleh sertifikasi CoreTrustSeal dan diakreditasi sebagai Data Collection and Processing Center (DCPC) oleh World Meteorological Organization. Reputasi ini tidak hanya mencerminkan kepatuhan terhadap protokol internasional, tetapi juga mengukuhkan peran PANGAEA sebagai penjaga epistemik atas data ilmiah strategis. Dukungan dari Helmholtz Association dan pembiayaan jangka panjang menjadikan repositori ini model infrastruktur ilmiah yang resilien dan dapat direplikasi di konteks regional maupun global.

Secara konseptual, intervensi ini menyentuh dimensi ontologis dan normatif dari sains. Data ilmiah bukan semata produk teknis, melainkan manifestasi komitmen sosial terhadap akuntabilitas, keterbukaan, dan pengujian kritis. Dalam kerangka epistemologi modern, kehilangan akses terhadap data berarti penghapusan bukti dan pengurangan kapasitas kolektif untuk mereproduksi pengetahuan. Oleh karena itu, tindakan penyelamatan oleh institusi seperti AWI dan MARUM dapat menjadi artikulasi politik dari prinsip-prinsip keilmuan: bahwa pengetahuan yang diperoleh dari dana publik harus tetap dapat diakses oleh publik, terlepas dari fluktuasi kekuasaan.

Solidaritas Global: Urgensi Kolektif dan Konsensus Etis

Namun, skema ini juga mengangkat isu hukum dan politik yang belum memiliki kepastian. Apakah entitas non-negara berhak menyalin dan mendistribusikan data milik negara lain?

Dalam kondisi ini, konsensus komunitas ilmiah global menjadi krusial. Praktik-praktik sebelumnya, seperti inisiatif Data Rescue Project di Amerika Serikat (2016–2017) untuk menyelamatkan data lingkungan dari situs federal, menunjukkan bahwa respons komunitas dapat berlangsung tanpa mandat formal, tetapi dengan legitimasi sosial dan akademik yang kuat. Di tingkat internasional, diskursus mengenai data sharing telah berkembang dalam konteks Protokol Nagoya dan sistem Global Biodiversity Information Facility (GBIF), yang menawarkan kerangka kerja mengenai hak akses dan distribusi data lintas negara.

Tindakan PANGAEA bukanlah pelanggaran, melainkan mitigasi terhadap potensi kehilangan informasi strategis. Ia menjadi prototipe tata kelola berbasis solidaritas, di mana komunitas ilmiah tidak menunggu mandat formal, tetapi bertindak atas dasar urgensi kolektif dan konsensus etis.

Dari perspektif operasional, pekerjaan ini sangat kompleks dan bergantung pada kolaborasi lintas keahlian. Tim yang terlibat mencakup spesialis metadata, insinyur perangkat lunak, pakar hukum digital, dan kurator data, masing-masing memainkan peran penting untuk memastikan bahwa data tidak hanya disimpan, tetapi juga didokumentasikan dan dapat digunakan kembali secara sah dan efisien.

Pemindahan data dalam skala besar memerlukan replikasi struktur logis, verifikasi checksum untuk memastikan integritas data, pelacakan provenance untuk menjamin ketertelusuran sumber, serta validasi semantik lintas platform agar data dapat digunakan lintas disiplin. Seluruh proses dirancang mengikuti praktik terbaik pengelolaan data jangka panjang, menghasilkan entitas baru yang tidak hanya selamat dari penghapusan, tetapi juga terintegrasi kembali dalam ekosistem ilmiah global.

Kini, data yang diselamatkan tersedia kembali dalam infrastruktur digital terdesentralisasi, lengkap dengan dokumentasi dan lisensi yang memungkinkan redistribusi dan adaptasi. Dengan demikian, data tersebut kembali aktif—siap dikutip, dianalisis ulang, digabung dengan dataset baru, atau dimanfaatkan dalam model prediktif. Dalam konteks ini, penyelamatan data bukan hanya pelestarian masa lalu, tetapi juga penciptaan kemungkinan baru bagi masa depan pengetahuan ilmiah.

Dalam cakupan lebih luas, intervensi ini memperkuat narasi bahwa sains terbuka adalah strategi ketahanan institusional. Di dunia yang semakin kompleks dan saling terhubung, kemampuan komunitas ilmiah untuk menjamin akses berkelanjutan terhadap sumber daya epistemik menjadi syarat utama bagi keberlangsungan riset global. Tindakan AWI dan Universitas Bremen, melalui PANGAEA, menunjukkan bahwa solidaritas ilmiah dapat diwujudkan dalam praktik teknis yang konkret, terukur, dan berkelanjutan.

Sebagai contoh, dataset toksikologi yang telah diselamatkan kini digunakan kembali oleh laboratorium independen di Eropa dalam pemodelan alternatif non-hewan. Sementara itu, data oseanografi dari World Ocean Database telah menjadi bagian dari basis pelatihan kecerdasan buatan untuk prediksi iklim yang dikembangkan oleh konsorsium penelitian Jerman-Belanda. Dampaknya tidak bersifat simbolik, melainkan menghasilkan kontribusi nyata terhadap inovasi ilmiah dan keberlanjutan riset.

Respositori terbuka seperti PANGAEA membuka mata kita bahwa pelestarian data ilmiah bukan sekadar urusan administratif, melainkan ruang strategis di mana masa depan sains, kebijakan, dan masyarakat sipil dipertaruhkan. Ketika data iklim dan toksikologi yang sebelumnya terancam kini tersedia kembali dan dapat diakses secara global, kita menyaksikan bukan hanya penyelamatan sumber daya, tetapi juga rekonstruksi struktur etika dan politik pengetahuan.

One thought on “PANGAEA: Upaya Menyelamatkan Data Ilmiah Amerika Serikat

Leave a Comment Here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.