Sains Tidak Harus Memilih Antara Ketelitian dan Keragaman

Minggu kemarin, saya menyimak lagi perbincangan panas di X (sebelumnya Twitter) sekitar tahun lalu, di mana warganet memperdebatkan kontribusi nyata dari ilmu-ilmu sosial. Dalam banyak utas tersebut, pembela ilmu sosial direndahkan karena dianggap mengandalkan pengetahuan yang ‘subjektif’ atau ‘tidak bisa dibuktikan’, sementara ilmu-ilmu STEM dipuji sebagai objektif, bermanfaat, dan “produktif” secara ekonomi. Argumen ini berkembang dengan cepat namun berakhir dengan nada diskusi sarkastik, merendahkan, dan … Continue reading Sains Tidak Harus Memilih Antara Ketelitian dan Keragaman

AI Bukan Ancaman, tapi Rekan Kerja: Apa Kata Jurnalis Sains di Jerman tentang ChatGPT?

Apakah ChatGPT akan menggantikan jurnalis sains? Pertanyaan ini menghantui banyak ruang redaksi di seluruh dunia. Di satu sisi, kecerdasan buatan (AI) menawarkan kecepatan, efisiensi, dan kemampuan olah data luar biasa. Di sisi lain, ada kekhawatiran soal akurasi, etika, dan hilangnya “sentuhan manusia” dalam jurnalisme. Tapi bagaimana jika AI bukan pengganti, melainkan rekan kerja? Itulah pertanyaan sentral dalam sebuah studi kualitatif menarik yang dilakukan oleh Guenther, … Continue reading AI Bukan Ancaman, tapi Rekan Kerja: Apa Kata Jurnalis Sains di Jerman tentang ChatGPT?

Bagaimana Algoritma Media Sosial Mempercepat Kebencian?

Antara tahun 2020 hingga 2025, media sosial tidak hanya menjadi medium berbagi informasi, tetapi juga bertransformasi menjadi mesin penyebar kebencian global. Dari kerusuhan New Delhi hingga konflik di Tigray, dari gelombang kebencian anti-Asia selama pandemi hingga kerusuhan Capitol di Amerika Serikat, algoritma media sosial terbukti mempercepat penyebaran ujaran kebencian dan disinformasi. Proses terbentuknya kebencian di media sosial bermula dari apa yang disebut sebagai dinamika afektif … Continue reading Bagaimana Algoritma Media Sosial Mempercepat Kebencian?

Mengapa Krisis Kepercayaan Vaksin TBC Bukan Soal Sains Semata ?

Polemik mengenai rencana fase uji klinis vaksin tuberkulosis (TBC) di Indonesia yang didanai oleh Bill & Melinda Gates Foundation belum lama ini membuka kembali luka lama dalam hubungan antara sains dan masyarakat. Reaksi skeptis di X (Twitter) dari tokoh-tokoh seperti akademisi dan ahli kebijakan publik Yanuar Nugroho, yang menyebut hibah uji klinis vaksin senilai Rp2,6 triliun sebagai tindakan “menjual rakyat sendiri”, menunjukkan bahwa masalah ini … Continue reading Mengapa Krisis Kepercayaan Vaksin TBC Bukan Soal Sains Semata ?