Tentang Akreditasi Pendidikan Tinggi: Pelajaran dari AS

Ketika pemerintahan Trump di Amerika Serikat mengeluarkan perintah eksekutif yang mengubah secara radikal proses akreditasi pendidikan tinggi—menghapus penggunaan data demografis, mempercepat pengakuan lembaga akreditasi baru, dan menekan lembaga yang tidak sejalan dengan agenda pemerintah—banyak akademisi dan lembaga penjamin mutu langsung menyuarakan kekhawatiran. Bukan hanya karena langkah tersebut mengancam kemandirian akreditasi, tetapi karena ia secara aktif menghapus keadilan dari mekanisme akuntabilitas. Ini bukan sekadar reformasi, ini … Continue reading Tentang Akreditasi Pendidikan Tinggi: Pelajaran dari AS

When Science Is Local, Silence Is Global

In recent years, the international scientific community has mobilized swiftly to defend academic freedom when it is under threat in wealthy nations. During the Trump administration, when American climate scientists feared political retaliation, Canadian institutions opened digital repositories and established “climate sanctuaries”. Following Brexit, European funding agencies adapted frameworks to accommodate displaced British researchers. In 2022, Germany’s Alexander von Humboldt Foundation expanded its Philipp Schwartz … Continue reading When Science Is Local, Silence Is Global

Indonesia Just Left WHO’s Southeast Asia Region: Here’s Why That Matters for Global Health

In May 2025, Indonesia formally left the WHO’s South-East Asia Region (SEARO) and joined the Western Pacific Region (WPRO). While the shift was bureaucratically framed, the political and strategic implications are profound. This realignment reshapes Indonesia’s position in global health governance and offers insight into how middle-income countries are rethinking their multilateral engagements. The decision, finalized during the 78th World Health Assembly (see WHO Doc … Continue reading Indonesia Just Left WHO’s Southeast Asia Region: Here’s Why That Matters for Global Health

Sains Tidak Harus Memilih Antara Ketelitian dan Keragaman

Minggu kemarin, saya menyimak lagi perbincangan panas di X (sebelumnya Twitter) sekitar tahun lalu, di mana warganet memperdebatkan kontribusi nyata dari ilmu-ilmu sosial. Dalam banyak utas tersebut, pembela ilmu sosial direndahkan karena dianggap mengandalkan pengetahuan yang ‘subjektif’ atau ‘tidak bisa dibuktikan’, sementara ilmu-ilmu STEM dipuji sebagai objektif, bermanfaat, dan “produktif” secara ekonomi. Argumen ini berkembang dengan cepat namun berakhir dengan nada diskusi sarkastik, merendahkan, dan … Continue reading Sains Tidak Harus Memilih Antara Ketelitian dan Keragaman