Meninjau Ulang Jejak Awal Manusia di Sulawesi: Apa Maknanya bagi Arkeologi dan Narasi Prasejarah Asia Tenggara?

Penemuan arkeologi terbaru di situs Calio di Sulawesi Selatan, sebagaimana dilaporkan oleh tim lapangan yang dipimpin oleh arkeolog senior Budianto Hakim dari Badan Riset dan Inovasi Nasional Indonesia (BRIN), menunjukkan bahwa hominin mungkin telah hadir di pulau Sulawesi sejak 1,04 juta tahun yang lalu, dan mungkin bahkan sejak 1,48 juta tahun yang lalu. Penemuan ini merupakan temuan ilmiah dan konseptual yang signifikan, tidak hanya karena menempatkan Sulawesi … Continue reading Meninjau Ulang Jejak Awal Manusia di Sulawesi: Apa Maknanya bagi Arkeologi dan Narasi Prasejarah Asia Tenggara?

Reexamining the Early Footprints of Humans in Sulawesi: What Does It Mean for Archaeology and the Prehistoric Narrative of Southeast Asia?

The latest archaeological discoveries at the Calio site in South Sulawesi, as reported by a field team led by senior archaeologist Budianto Hakim from the National Research and Innovation Agency of Indonesia (BRIN), suggest that hominins may have been present on the island of Sulawesi as early as 1.04 million years ago, and possibly as far back as 1.48 million years ago. This is a … Continue reading Reexamining the Early Footprints of Humans in Sulawesi: What Does It Mean for Archaeology and the Prehistoric Narrative of Southeast Asia?

Royal Society Akan Membuka Akses Jurnal Ilmiahnya Mulai Tahun Depan

Akademi Ilmu Pengetahuan Inggris mengadopsi model ‘berlangganan untuk akses terbuka’, dengan perpustakaan diminta untuk mendukung transisi tersebut. Seperti yang diberitakan Miryam Naddaf di Nature, 6 Agustus kemarin, mulai tahu depan, Royal Society (lembaga sains tertua di Inggris) akan mencoba cara baru untuk membuat jurnal ilmiahnya gratis dibaca (read) dan dipublikasikan (publish). Cara ini disebut dengan model Subscribe to Open (S2O). Prinsipnya sederhana, jika cukup banyak … Continue reading Royal Society Akan Membuka Akses Jurnal Ilmiahnya Mulai Tahun Depan

Indonesia’s Open Science Pioneer Grapples With Grassroots Limits

When Indonesian geologist Dasapta Erwin Irawan first encountered the idea of open science in 2013, it was not through policy mandates or institutional reforms, but by accident. “Idle time,” he says. “Serendipity again, I met someone who introduced me to open science.” That someone was the late Jon Tennant, a British paleontologist and open science advocate whose personable approach made a lasting impression on Dasapta. … Continue reading Indonesia’s Open Science Pioneer Grapples With Grassroots Limits