Politik Perawatan di Negara Orang

“Ketika masuk musim dingin, indikator kebahagiaan saya cuma dua: matahari yang terbit, atau sereh di supermarket.” Kalimat itu sering saya ucapkan ketika pulang ke Indonesia setelah kurang lebih satu tahun tinggal di Jerman untuk menyelesaikan pendidikan master. Bagi sebagian orang, kegembiraan saya karena bisa pulang for good mungkin terdengar aneh. Bukankah kebanyakan orang justru ingin bertahan, mengadu nasib lebih lama, menjadikan gelar “master” sebagai batu … Continue reading Politik Perawatan di Negara Orang

Kami Terbiasa dengan Bencana, Negara Terbiasa Mengabaikannya

“Air masih mati,” kata ibu lewat telepon. Ia mengabari bahwa air PDAM belum juga menyala di Padang sejak banjir melanda Sumatera pada akhir November lalu. Hingga hari ini, bapak dan ibu saya masih menampung air hujan untuk keperluan mandi dan mencuci. Ibu menyesal tidak memasang sumur bor sejak dulu. “Kami masih menampung air hujan, mandi dari sana,” lanjut ibu. Mereka juga sempat menumpang mandi ke … Continue reading Kami Terbiasa dengan Bencana, Negara Terbiasa Mengabaikannya