Politik Perawatan di Negara Orang

“Ketika masuk musim dingin, indikator kebahagiaan saya cuma dua: matahari yang terbit, atau sereh di supermarket.”

Kalimat itu sering saya ucapkan ketika pulang ke Indonesia setelah kurang lebih satu tahun tinggal di Jerman untuk menyelesaikan pendidikan master. Bagi sebagian orang, kegembiraan saya karena bisa pulang for good mungkin terdengar aneh. Bukankah kebanyakan orang justru ingin bertahan, mengadu nasib lebih lama, menjadikan gelar “master” sebagai batu loncatan? Saya pun sempat punya kesempatan ke arah sana.

Tentu saja segalanya akan lebih mudah jika seseorang punya jaring pengaman: keluarga yang bisa membantu, kemampuan bahasa Jerman yang memadai, dan pekerjaan yang membuat hidup lebih stabil.

Sayangnya, saya tidak punya semua itu.

“Iya, iya, kamu memang tak mau melanjutkan hidup di sana. Lalu kenapa kami harus membaca catatan ini lagi?”

“Belum puas juga mengulang narasi yang sama sepanjang 2024, sekarang mau dijadikan tulisan pula?”

Dua kalimat itu barangkali akan muncul di kepala sebagian pembaca, terutama teman-teman yang sudah hafal betul ke mana cerita ini berjalan. Namun percayalah, saya tidak sedang memutar kaset rusak.

Baru belakangan saya sadar, yang membuat saya bertahan selama tinggal di Jerman bukanlah mimpi besar tentang Eropa, atau ketangguhan personal yang sering dipuja dalam kisah-kisah diaspora. Yang menopang hidup saya justru hal-hal kecil yang kerap luput dicatat: makanan yang dibagi, cerita yang tumpah di dapur sempit, dan kehadiran orang lain yang bersedia mendengarkan. Waktu itu saya belum tahu, semua itu punya nama.

Seorang kawan memasak nasi briyani untuk saya.

Saya berkuliah di Technische Universität Ilmenau, Jerman, jurusan media dan komunikasi, dari 2021 hingga 2023. Kampus ini terletak di Ilmenau, sebuah kota kecil di Jerman Timur, Provinsi Thuringia—wilayah yang lebih dikenal lewat bratwurst ketimbang kehidupan mahasiswanya.

Saya bisa berkuliah di sana karena keberuntungan—atau, meminjam istilah hari ini, meeting the right person at the right time. Keinginan melanjutkan pendidikan master sebenarnya sudah lama ada. Namun sejak lulus sarjana pada 2016, hampir tak ada program komunikasi di Jerman yang tidak mensyaratkan kemampuan bahasa Jerman.

Saya pernah mencoba mempelajarinya. Waktu itu saya masih punya banyak energi dan ego. Setelah beberapa bulan belajar mandiri dan dua minggu kursus intensif (lengkap dengan muntah-muntah), saya memutuskan berhenti. Rasanya lebih masuk akal mencari pekerjaan “yang benar” ketimbang memelihara mimpi yang terasa terlalu tinggi.

Sebelum akhirnya diterima di TU Ilmenau, saya juga mencoba berbagai beasiswa—dan semuanya gagal. Barangkali memang belum berjodoh.

Pandangan saya berubah pada Mei 2021, ketika seorang senior yang sedang menempuh PhD di TU Ilmenau menghubungi dan menawarkan informasi tentang program studi online yang sedang dibuka. Saat itu, pembatasan pandemi masih berlangsung, dan kuliah daring menjadi hal biasa.

Maka saya berangkat ke Jerman bukan sebagai orang yang sepenuhnya siap, melainkan sebagai seseorang dengan banyak keterbatasan: bahasa pas-pasan, tabungan yang dihitung cermat, dan ekspektasi yang sengaja direndahkan. Saya pikir, yang penting sampai dulu. Soal sisanya, nanti dipikirkan.

Saya membiayai kuliah sendiri. Dan tidak, ini bukan karena saya kaya. Kuliah di Jerman memang “relatif gratis”—yang dibayar hanya biaya administrasi dan transportasi publik, sekitar dua juta rupiah per semester.

Diundang makan oleh diaspora Vietnam ketika Lunar New Year

Tantangan terbesarnya justru menabung agar bisa berangkat. Awalnya saya hanya ingin tinggal enam bulan untuk mengerjakan tesis. Syukurnya, akhirnya saya bisa bertahan hampir satu tahun. Dengan berbagai pekerjaan sampingan di luar kerja penuh waktu, serta pinjaman dari seseorang yang baik hati, keberangkatan itu akhirnya terwujud. Banyaknya side job bukan berarti hidup lebih ringan: kelelahan, tugas kuliah, dan kerja tambahan adalah menu harian. Namun mimpi ke Jerman itu tercapai.

Saya tiba di Hamburg pada 1 Maret 2023. Selama sebulan pertama, saya menumpang di apartemen seorang kawan warga Jerman, sambil menunggu jadwal masuk apartemen di Ilmenau. Dari situ saya mulai merasakan perbedaan budaya—yang tak selalu semanis brosur beasiswa atau kisah sukses diaspora.

Tinggal bersama orang Jerman berarti mengikuti aturan, ritme hidup, dan kebiasaan makan mereka. Saya belajar bahwa mereka sangat menghargai ruang personal dan ketenangan. Mereka tidak banyak berbasa-basi; jika berbicara, mereka langsung ke inti. Bagi orang Asia, sikap ini mudah terbaca sebagai dingin atau kurang ramah—padahal ia lebih soal perbedaan budaya.

Jerman juga terasa sepi. Bahkan Hamburg, kota terbesar kedua, tetap terasa lengang. Bukan hanya karena musim dingin, tapi juga karena kepadatan penduduknya jauh lebih rendah dibanding Jakarta. Hamburg berpenduduk sekitar 1,8 juta jiwa; Jakarta, sekitar 11 juta.

Artinya, ketika berjalan ke taman, kantor pos, atau restoran, mungkin hanya ada belasan orang di sekitar. Sangat berbeda dengan Jakarta, di mana berjalan di trotoar saja bisa berujung terserempet motor atau terjebak kerumunan.

Bayangkan Ilmenau, kota dengan kurang dari 30 ribu penduduk. Di Jakarta, jumlah itu bisa setara satu kompleks apartemen. Semua perbandingan ini bermuara pada satu perasaan: sepi. Bukan hanya sepi karena sedikit orang, tapi karena ketiadaan suara yang akrab, bahasa yang bisa dipahami tanpa berpikir keras, dan kehadiran orang-orang yang tahu caranya saling merawat.

Diundang makan oleh seorang kawan dari Bangladesh

Setelah bicara soal kota, saya sampai pada hal esensial lain: makanan. Panganan utama Jerman—dan Eropa pada umumnya—tak jauh dari roti, kentang, pasta, dan daging. Bratwurst, schnitzel, dan berbagai turunannya.

Awalnya saya biasa saja. Namun setelah beberapa minggu, rasa rindu muncul: sambal, nasi, penyetan, cumi bakar, juga masakan Sumatra yang penuh bumbu. Sebagai orang Sumatra yang lama merantau di Jakarta, saya memang sudah terbiasa membatasi makanan bersantan. Itu sebabnya rindu itu datang pelan, tapi menetap.

Di Jerman, saya belajar mengenali bumbu lewat bahasa Jerman: das Öl, der Ingwer, der Knoblauch, der Kurkuma. Bukan untuk pamer—justru sering kali saya pusing menerjemahkan “tepung jagung” atau “kayu manis”. Bulan pertama, saya bisa menghabiskan satu jam di supermarket hanya untuk memastikan tidak salah beli.

Harga bahan makanan Asia pun terasa lebih mahal, chili oil di Chinese Market misalnya, begitu pula dimsum beku yang nilainya bisa mencapai seratus ribu rupiah untuk delapan potong. Belum lagi jarak tempuh ke toko-toko Asia atau Timur Tengah yang menjual bahan halal. Demi berhemat sebagai mahasiswa diaspora, dan kerindungan dengan masakan rumah, saya mulai memasak sendiri—dari ayam goreng bawang putih, tumis kangkung, nasi uduk, sampai pempek. Tentu, sereh adalah salah satu bahan yang cukup sering saya gunakan.

Dari dapur kecil itulah saya mulai mengundang kawan-kawan. Atau sekadar mendengar teman serumah bertanya, “Kau mau memberiku sup ayam itu?”

Biasanya yang datang adalah kawan-kawan dari Amerika Latin, Asia Selatan, Timur Tengah, atau Asia Tenggara—sesama perindu bumbu. Kami saling mengundang, saling mencicipi makanan. Dari sana saya tahu bahwa gulai atau kalio punya “sepupu” di Bangladesh, dan nasi briyani bisa terasa sangat menghibur di musim dingin. Juga sup dan bihun ala Vietnam yang mirip dengan sup buatan ibu di rumah.

Saya menemukan konsep yang terasa akrab: politics of care. Deva Woodly menjelaskan politik perawatan sebagai upaya menciptakan kesejahteraan individu dan kolektif melalui dukungan sosial, alih-alih memaksa orang untuk terus “tangguh” sendirian. Dalam konteks diaspora, politik perawatan hadir lewat berbagi makanan, cerita, dan beban hidup.

Awalnya saya mengira kerinduan pada makanan hanyalah urusan lidah. Lama-kelamaan saya sadar, memasak adalah cara merawat diri—dan tanpa direncanakan, juga merawat orang lain. Dari makanan, percakapan mengalir; dari percakapan, kami saling membuka diri.

Kami berbagi cerita tentang sulitnya mencari kerja, belajar bahasa dan menghadapi birokrasi Jerman, mengantar kawan yang sakit, membantu pindahan, hingga membicarakan kehilangan dan kebingungan arah hidup. Hal-hal kecil yang terasa ringan jika dibagi, tapi berat jika ditanggung sendiri.

Belakangan, ketika mencoba memberi nama pada pengalaman itu, saya menemukan konsep yang terasa akrab: politics of care.

Deva Woodly menjelaskan politik perawatan sebagai upaya menciptakan kesejahteraan individu dan kolektif melalui dukungan sosial, alih-alih memaksa orang untuk terus “tangguh” sendirian. Dalam konteks diaspora, politik perawatan hadir lewat berbagi makanan, cerita, dan beban hidup.

Bagi saya, inilah yang memungkinkan bertahan di tengah budaya Jerman yang asing: bahasa yang membuatmu merasa outsider, sistem akademik yang berat, dan standar belajar yang tinggi hingga beberapa kali membuat saya jatuh sakit karena panik.

Tentu ini tidak menafikan adanya rasisme, diskriminasi, dan eksklusi—terutama di wilayah Jerman Timur—seperti yang juga tercatat dalam survei kampus TU Ilmenau. Namun bagi saya, kehadiran kawan-kawan itu membuat beban terasa lebih ringan.

Maka ketika saya mengatakan bahwa indikator kebahagiaan di musim dingin adalah matahari dan sereh, maksudnya sederhana: saya bahagia karena masih bisa memasak, berbagi, dan dirawat—serta merawat. Tapi, apakah setelah ini saya akan kembali ke Jerman? Wallahu a’lam. Namun saya percaya, selama ada orang-orang yang saling meringankan beban, siapa pun bisa bertahan—bahkan di sistem yang sekeras Jerman.

Leave a Comment Here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.