Pada awal 2025, komunitas ilmiah internasional terkejut. Proposal pemerintahan Donald Trump mengusulkan pemangkasan hampir 40 persen anggaran National Institutes of Health (NIH). Lembaga ini selama lebih dari setengah abad telah menjadi pusat penelitian biomedis dunia. Ia juga berperan sebagai pengelola berbagai basis data publik yang menopang sistem pengetahuan global.
Di atas kertas, pemotongan tersebut tampak seperti langkah efisiensi fiskal. Namun di balik angka anggaran itu tersembunyi konsekuensi yang jauh lebih besar—yaitu ancaman terhadap infrastruktur data ilmiah yang menjadi fondasi pengambilan keputusan kesehatan di seluruh dunia, utamanya di negara dengan pembiayaan riset kesehatan yang rendah.
Peran NIH bukan sekadar pemberi hibah penelitian. Lembaga ini berperan sebagai pengelola dan penjaga “memori kolektif” sains modern melalui sistem basis data, repositori dan indeksasi seperti PubMed, ClinicalTrials.gov, dan GenBank. Basis data ini memungkinkan jutaan ilmuwan, dokter, dan pembuat kebijakan di bidang kesehatan untuk mengakses dan menyaring hasil penelitian dari seluruh dunia.
Dari hasil-hasil penelitian ini, analisis lanjut seperti telaah sistematik hingga meta-analisis dapat dilakukan dengan lebih mudah. Melalui National Library of Medicine (NLM), NIH mengelola lebih dari 36 juta artikel ilmiah yang diindeks setiap hari—mulai dari studi laboratorium tentang virus baru hingga laporan kebijakan kesehatan masyarakat. Setiap kali seorang dokter di Jakarta mencari bukti ilmiah untuk menentukan terapi baru, atau seorang epidemiolog di Nairobi menelusuri data uji klinis, kemungkinan besar mereka sedang menggunakan infrastruktur digital yang didanai oleh NIH.
Itulah sebabnya ketika anggaran NIH yang semula sekitar 45 miliar dolar diusulkan turun menjadi hanya 27 miliar dolar, banyak ilmuwan memperingatkan bahwa dampaknya tidak hanya terjadi di laboratorium Amerika Serikat. Kebijakan ini dapat memicu efek domino terhadap rantai nilai pengetahuan global. Ribuan proyek penelitian yang didukung NIH akan berhenti, dan dengan itu aliran data yang biasanya memberi bahan baku bagi meta-analisis dan tinjauan kebijakan akan terputus. Setidaknya 2.100 proyek senilai 9,5 miliar dolar telah ditunda atau dibatalkan, termasuk proyek basis data model organisme dan studi jangka panjang tentang penyakit menular. Pemutusan ini bukan sekadar kehilangan riset, tetapi hilangnya data yang dibutuhkan untuk memahami pola penyakit dan efektivitas intervensi.
Memperparah Ketimpangan Akses Ilmu Pengetahuan Global
Dampak yang paling terasa terjadi pada sistem PubMed. Bagi banyak orang, PubMed tampak hanya sebagai mesin pencari jurnal ilmiah. Namun di balik tampilannya yang sederhana, PubMed adalah mesin indeksasi raksasa yang menautkan setiap publikasi biomedis melalui sistem taksonomi Medical Subject Headings (MeSH). Proses pembaruan dan pengindeksan ini dikelola oleh tim teknis NIH yang membutuhkan biaya besar untuk server, keamanan data, dan staf kurator.
Ketika pendanaan dipotong, frekuensi pembaruan pun berkurang drastis. Sebuah laporan di JAMA Health Forum mencatat bahwa banyak jurnal yang biasanya masuk indeks dalam hitungan minggu kini tertunda berbulan-bulan. Pada Mei 2025, Nature News melaporkan insiden “blackout” singkat PubMed selama 36 jam akibat pembatasan server dan penundaan kontrak teknis. Walau singkat, kejadian itu cukup memperlihatkan betapa rentannya infrastruktur pengetahuan global bila dibiarkan tanpa sokongan fiskal yang stabil.
Meta-analisis, sebagai bentuk penelitian yang menggabungkan berbagai studi untuk menghasilkan kesimpulan yang lebih kuat, sangat bergantung pada kelengkapan dan keterkinian data dari basis seperti PubMed. Keterlambatan publikasi dan pembaruan data kini mulai mengganggu proyek meta-analisis di bidang kanker dan kesehatan masyarakat. Meta-analisis bukan sekadar kegiatan statistik. Ia memerlukan akses terhadap ratusan (bahkan ribuan) studi primer yang terarsip dengan baik dan terstandar. Ketika pembaruan berhenti, kualitas bukti yang menjadi dasar kebijakan ikut menurun. Situasi ini telah menyebabkan keterlambatan dalam pembaruan rekomendasi kebijakan.
Dampak lain yang jarang disorot adalah ketimpangan global yang makin melebar. Banyak peneliti di Asia, Afrika, dan Amerika Latin menggantungkan akses mereka pada basis data terbuka seperti PubMed dan GenBank. Ketika pembaruan melambat dan sebagian fitur dibatasi, mereka kehilangan kemampuan untuk mengikuti perkembangan ilmu terbaru. Fenomena ini layak disebut sebagai “deglobalisasi data”, sebuah ke era balik ketika hanya lembaga kaya yang memiliki akses penuh terhadap literatur ilmiah, sementara institusi di negara berkembang tertinggal dalam siklus pengetahuan. Ketimpangan ini berarti negara-negara yang paling membutuhkan informasi untuk kebijakan kesehatan justru menjadi yang paling terdampak oleh hilangnya data publik dan ketidaktersediaan aksesnya.
Pemerintah AS berargumen bahwa pemotongan dilakukan demi efisiensi, khususnya dengan membatasi biaya tidak langsung universitas (overhead) hingga 15 persen agar dana lebih banyak diarahkan langsung ke penelitian. Namun analisis Lawrence O. Gostin yang terbit di JAMA April 2025, menunjukkan bahwa biaya tidak langsung inilah yang selama ini membiayai pemeliharaan laboratorium, sistem IT, dan kurator data. Tanpa dukungan itu, riset besar sulit dijalankan dengan aman dan transparan.
Bukan Soal Uang: Keputusan Eksklusif dan Politis
Lebih jauh, laporan lain menyebutkan jika pembatalan lebih dari 700 juta dolar dana hibah yang sebelumnya disetujui, banyak di antaranya terkait program keberagaman dan inklusi (DEI). Keputusan tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa arah pendanaan riset akan semakin dipengaruhi kepentingan politik, bukan kebutuhan ilmiah. Krisis ini lebih dari sekadar persoalan uang. Tapi menegaskan bahwa melemahnya basis data ilmiah berarti hilangnya ingatan kolektif umat manusia tentang sains. Setiap repositori ilmiah berfungsi sebagai arsip sejarah yang menjaga kesinambungan pengetahuan lintas generasi. Ketika data tidak diperbarui, penelitian baru kehilangan konteks dan risiko duplikasi meningkat. Akibatnya, upaya ilmiah menjadi kurang efisien dan pembuat kebijakan berisiko menggunakan bukti yang tidak lagi valid.
Penolakan terhadap pemangkasan ini datang dari berbagai lembaga riset internasional. Akademi Sains Nasional Amerika Serikat (National Academy of Science), Wellcome Trust di Inggris, serta European Research Council (ERC) mengeluarkan pernyataan bersama yang menyebut bahwa kebijakan ini mengikis kapasitas kolektif dunia untuk menghadapi tantangan kesehatan global. Sejumlah universitas di Kanada dan Eropa bahkan menawarkan ruang server untuk menyalin dan menyelamatkan data publik milik NIH sebagai langkah mitigasi.
Banyak pakar kebijakan ilmu pengetahuan menyebut situasi ini sebagai bentuk “defunding of knowledge commons”—penghilangan sumber daya dari ranah pengetahuan bersama. Konsekuensinya tidak langsung terlihat, tetapi akan dirasakan dalam jangka panjang: perlambatan inovasi medis, meningkatnya biaya penelitian karena duplikasi, dan menurunnya kepercayaan publik terhadap sains. Nature Human Behaviour memperingatkan bahwa ketidakstabilan infrastruktur data dapat memperburuk polarisasi informasi dan memperkuat misinformasi kesehatan, karena publik kehilangan sumber ilmiah yang terpercaya.
Lagi-lagi, pemangkasan anggaran NIH harus dibaca bukan sebagai kebijakan fiskal, tetapi sebagai krisis pengetahuan global. Basis data seperti PubMed dan GenBank adalah komponen penting bagi kerja-kerja ilmiah yang membantu dunia menavigasi tantangan kesehatan masyarakat di masa depan. Krisis kesehatan akan mendapatkan banyak tantangan dan memotong anggaran NIH mungkin tampak seperti penghematan jangka pendek, tetapi biaya sebenarnya adalah kehilangan arah kolektif manusia terhadap kebenaran ilmiah dan memperparah kerentanan kesehatan global.
