Dalam kebudayaan populer, cinta sering dilukiskan sebagai sesuatu yang melampaui nalar, ia digambarkan misterius, impulsif, dan tak terduga. Frasa seperti “cinta itu buta” atau “tidak bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta” mencerminkan pandangan umum seolah cinta menolak sebuah rasionalitas. Namun, ketika cinta ditempatkan dalam kerangka saintifik dan epistemologis, muncul pertanyaan yang lebih kompleks, bisakah cinta dijelaskan secara ilmiah, dan apakah ia layak dinilai sebagai bentuk rasionalitas?
Bisakah cinta dijelaskan secara ilmiah, dan apakah ia layak dinilai sebagai bentuk rasionalitas?
Cinta dalam sains modern sering dipahami sebagai strategi evolusioner untuk mempertahankan spesies. Pakar psikologi evolusioner seperti David Buss menyatakan bahwa cinta yang romantik berperan dalam pembentukan pasangan jangka panjang yang stabil, yang secara evolutif meningkatkan keberhasilan reproduktif dan pengasuhan keturunan. Cinta, dalam kerangka ini, bukan hanya perasaan, tetapi fungsi adaptif.
Di tingkat neurobiologis, studi menggunakan fMRI telah menunjukkan bahwa ketika seseorang sedang jatuh cinta, terjadi aktivasi pada sistem reward di otak, terutama area ventral tegmental dan caudate nucleus. Zat kimia seperti dopamin, oksitosin, vasopresin, dan serotonin memainkan peran penting dalam memperkuat kelekatan emosional dan ketertarikan seksual. Studi ini juga menunjukkan bahwa pasangan yang masih mencintai setelah puluhan tahun menunjukkan aktivitas otak yang mendukung sensitivitas terhadap penghargaan dan kestabilan emosi. Ini memperkuat klaim bahwa cinta bisa bertahan bukan karena afeksi instan, melainkan karena integrasi biologis dan kognitif yang stabil.
Oksitosin sering disebut sebagai “hormon cinta” karena perannya dalam menumbuhkan rasa keterikatan, terutama setelah hubungan intim atau kelahiran anak. Namun, penjelasan saintifik ini bersifat reduksionis, ia mereduksi cinta menjadi reaksi neurokimia dan seleksi alam. Untuk melengkapi pandangan ini, perlu pendekatan fenomenologis yang mempertimbangkan pengalaman subjektif manusia, seperti komitmen, makna, dan nilai moral yang dibentuk dalam konteks hubungan. Sementara pendekatan ini berguna untuk memahami substruktur biologis cinta, ia tidak mencakup kompleksitas fenomenologis cinta, seperti pengorbanan, kesetiaan, atau ambiguitas moral dalam hubungan manusia.
Penjelasan dari ilmu psikologi lainnya untuk melengkapi teori yang lebih baru seperti psikologi evolusioner menambahkan lapisan baru pembahasan ini, bahwa cinta bukan sekadar insting, melainkan struktur afektif-kognitif. Seperti teori klasik Sternberg mengembangkan teori segitiga cinta yang mencakup tiga dimensi utama seperti kedekatan emosional (intimacy), ketertarikan seksual dan intensitas perasaan (passion), serta keputusan untuk mencintai dan mempertahankan hubungan (commitment). Dalam kerangka ini, cinta bisa dianggap sebagai sesuatu yang rasional, dalam arti bahwa komitmen memerlukan evaluasi dan keputusan sadar. Seseorang bisa memutuskan untuk mencintai, bertahan dalam hubungan, atau bahkan mengakhiri cinta demi kesejahteraan jangka panjang.
Teori lain yang relevan adalah pendekatan teori kelekatan dari Bowlby dan Ainsworth. Mereka menunjukkan bahwa cara seseorang mencintai dipengaruhi oleh pola kelekatan yang terbentuk sejak masa kanak-kanak. Dengan kata lain, psikologi cinta dapat dipetakan, diprediksi, dan sebagian besar dijelaskan melalui interaksi antara pengalaman dan disposisi psikologis. Pendekatan lain yang penting adalah investment model of commitment dari Rusbult, yang menyatakan bahwa komitmen cinta dipengaruhi oleh kepuasan, kualitas alternatif, dan ukuran investasi dalam hubungan. Artinya, cinta bertahan bukan hanya karena rasa cinta itu sendiri, tetapi juga karena pertimbangan rasional tentang apa yang telah dipertaruhkan dan dibangun bersama. Model ini menyelaraskan cinta dengan teori rasionalitas praktis.
Namun, pendekatan psikologis ini juga menghadapi paradoks bahwa semakin kita mencoba menjelaskan cinta, semakin kita tampak menjinakkan daya tarik misteriusnya. Mungkinkah cinta yang seluruhnya “terprediksi” kehilangan esensi eksistensialnya?
Dengan filsafat, kita coba memberikan alat untuk menelaah dimensi normatif cinta. Apakah tindakan mencintai bisa dinilai benar atau salah secara rasional?
Dalam pandangan Hume, emosi seperti cinta bukan objek rasionalitas, karena mereka tidak tunduk pada logika proposisional: “Reason is, and ought only to be the slave of the passions, and can never pretend to any other office than to serve and obey them”. Sebaliknya, Kant menyatakan bahwa mencintai sesama manusia sebagai tujuan, bukan alat, adalah keharusan moral: “Act in such a way that you treat humanity, whether in your own person or in the person of another, always at the same time as an end, never merely as a means” . Filsuf kontemporer seperti Frankfurt menambahkan bahwa cinta adalah bentuk kehendak yang menetapkan “apa yang penting bagi kita”: “It is only by loving something that we make it important to us”.
Cinta adalah sumber normatifitas internal, kita tidak mencintai karena alasan objektif, melainkan kita membentuk alasan karena kita mencintai.
Maka, cinta adalah sumber normatifitas internal, kita tidak mencintai karena alasan objektif, melainkan kita membentuk alasan karena kita mencintai. Dari sisi epistemologis, cinta dapat dilihat sebagai rational commitment, sebuah keputusan untuk tetap mencintai meskipun realitas berubah. Dalam hal ini, cinta adalah tindakan aktif yang mengandung dimensi rasionalitas yang sah.
Sehingga pertanyaan “apakah cinta saintifik?” sangat bergantung pada definisi saintifik yang akan kita pakai untuk membedahnya. Jika yang dimaksud adalah fenomena yang dapat diamati, direplikasi, dan diukur secara empiris, maka beberapa aspek cinta memang bisa dikaji secara saintifik, seperti hormon, pola perilaku, atau skor dalam survei psikologi. Namun, aspek-aspek cinta yang menyangkut makna eksistensial, spiritualitas, dan pilihan moral tetap berada di luar jangkauan sains empiris. Seperti dikatakan oleh Polanyi, ada dimensi “tacit knowledge” (pengetahuan diam-diam) dalam pengalaman manusia yang tidak bisa sepenuhnya diartikulasikan atau diuji. Dengan demikian, cinta bukan non-saintifik karena tidak bisa dikaji sama sekali, tetapi karena ia mengandung dimensi non-reduksibel yang melampaui batasan metodologi saintifik konvensional.
Cinta bukan non-saintifik karena tidak bisa dikaji sama sekali, tetapi karena ia mengandung dimensi non-reduksibel yang melampaui batasan metodologi saintifik konvensional.
Cinta adalah fenomena transdisipliner. Ia bisa ditelaah dari lensa saintifik melalui ilmu biologi, psikologi, dan neurokognitif. Namun cinta juga mengandung aspek-aspek evaluatif, normatif, dan eksistensial yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan oleh sains empiris. Dari satu sisi, cinta bisa dimengerti, ia memiliki pola neurokimia, fungsi adaptif, dan struktur psikologis. Dari sisi lain, cinta tidak bisa sepenuhnya dijelaskan karena ia melibatkan kehendak, kepercayaan, dan makna yang tidak bisa direduksi menjadi data atau eksperimen.
Jadi, apakah cinta rasional? Ya, dalam arti bahwa cinta melibatkan komitmen sadar, evaluasi moral, dan penilaian terhadap nilai orang lain. Namun apakah cinta sepenuhnya saintifik? Tidak, karena cinta melampaui ruang lingkup verifikasi empiris dan mencakup ranah etika, kehendak, dan makna hidup.
Jika sains suatu hari berhasil menguraikan semua komponen cinta hingga ke mekanisme terkecilnya, apakah kita masih akan menganggap cinta sebagai sesuatu yang sakral dan unik? Atau, seperti yang ditakuti para eksistensialis, apakah cinta akan kehilangan auranya sebagai misteri eksistensial dan berubah menjadi sekadar algoritma hormonal yang dapat direkayasa? Ini adalah pertanyaan terbuka yang menantang kita untuk tetap menghargai kompleksitas cinta, sekaligus membuka diri terhadap pemahaman ilmiah yang mendalam. Bagaimana menurutmu?
