From the dining table #001
Munich 30 Januari 2025
Dulu, saat pertama kali menjadi dosen, saya berpikir bahwa akan sangat keren jika opini kita bisa terbit di media. Pandangan saya waktu itu mungkin cukup naif. Tapi bisa saja omon-omon saya kali ini kelewat pesimis. Saya mengira bahwa dengan menulis opini dan pemikiran di media cetak waktu itu, para perumus kebijakan publik akan banyak mendengar saran atau setidaknya menjadikannya sebagai bahan telaah kritis.
Namun, pandangan saya sekarang sedikit berubah. Opini yang ditulis di media, sebut saja Kompas atau media cetak lainnya, sepertinya tak lebih dari sekadar pajangan. Tentu saja, hal itu tetap baik, dan saya masih menyarankan agar kolom-kolom seperti itu tidak musnah. Setidaknya, kolom tersebut menjadi wadah bagi buah pemikiran intelektual akademisi. Pun juga kolom cetak sejak beberapa tahun terakhir berubah wujud menjadi format digital. Dengan sendirinya tautan sumber berita menjadi pembuka diskusi lebih lanjut.
Tapi, rasanya, opini-opini itu seperti sekadar omon-omon (pelengkap) bagi para pemegang kebijakan. Paling-paling, setelah dibaca, tulisan itu akan ditaruh begitu saja—itu pun kalau sempat dibaca. Mirisnya, pemikiran akademisi yang kadang harus antri berminggu-minggu untuk bisa dimuat di media, sering kali hanya berakhir di lingkaran akademisi sendiri. Biasanya, tulisan itu hanya berhenti di grup WhatsApp dengan ucapan selamat atau komentar singkat di kolom komentar. Ya, begitulah. Sekadar jadi omon-omon bagi pemegang kebijakan.
Tentu mungkin saja benar adanya kepala BRIN meminta peran Raffi Ahmad untuk jadi komunikator sains bagi anak muda. Itu lebih masuk akal kali ya, daripada minta anak muda baca kolom omon-omon akademisi yang gitu-gitu aja, ribet bacanya. Bingung maunya apa. Gitu kali ya.
